Ada masa ketika koran datang hampir bersamaan dengan kopi pagi. Orang membukanya perlahan, membaca berita utama, melihat halaman daerah, mencari kabar dari kampung, lalu tanpa sadar berhenti pada satu sudut halaman yang kecil. Di sana ada seorang lelaki kurus dengan rambut yang mencuat ke atas. Namanya Gam Cantoi.
Bagi pembaca Serambi Indonesia, Gam Cantoi bukan sekadar gambar. Ia seperti seorang tetangga yang setiap hari datang membawa cerita. Kadang ia berbicara tentang pejabat, kadang tentang masyarakat, tentang harga-harga, tentang tingkah laku manusia, atau tentang sesuatu yang sedang ramai dibicarakan. Hanya beberapa panel, tetapi cukup untuk membuat orang tersenyum, kemudian berpikir sebentar. Sebab sering kali setelah tertawa, pembaca baru sadar bahwa yang sedang ditertawakan Gam Cantoi bukan orang lain, melainkan kita sendiri.
Tokoh itu lahir dari tangan M. Sampe Edward. Sejak 1989, Sampe menggambar Gam Cantoi di Serambi Indonesia. Ia bukan orang Aceh yang lahir dan besar di Aceh. Ia berasal dari Sumatera Utara, kemudian menjalani kehidupan yang begitu dekat dengan masyarakat Aceh. Ia memeluk Islam pada 1990. Di tangan Sampe, Gam Cantoi perlahan menjadi lebih dari tokoh karikatur. Ia menjadi salah satu cara sebuah koran berbicara kepada masyarakatnya dengan bahasa yang ringan, tetapi tidak kehilangan keberanian untuk menyentil.
Kekuatan Gam Cantoi justru terletak pada kesederhanaannya. Ia tidak membutuhkan halaman penuh. Tidak membutuhkan kalimat panjang. Tiga panel kadang sudah cukup untuk membuat sebuah persoalan yang rumit terasa dekat. Sampe memahami bahwa kritik tidak selalu harus disampaikan dengan suara keras. Kadang sebuah kelucuan justru lebih lama tinggal di kepala daripada sebuah ceramah.
Itulah yang membuat Gam Cantoi berbeda dari sekadar gambar lucu. Ia hidup di antara berita dan kehidupan sehari-hari. Pembaca menemukan sesuatu yang mereka kenal di sana. Seorang pejabat yang terlalu percaya diri, masyarakat yang gampang mengeluh tetapi sulit berubah, orang yang gemar menyalahkan keadaan, atau siapa saja yang merasa dirinya paling benar. Gam Cantoi tidak selalu menunjuk dengan telunjuk. Ia cukup mengangkat alis, tersenyum, lalu membiarkan pembaca menyelesaikan sindirannya sendiri.
Mungkin karena itu pula Gam Cantoi begitu dekat dengan masyarakat Aceh. Ia tidak berbicara dari luar. Ia ikut berada di dalam persoalan yang dikritiknya. Ada rasa sayang di balik sindiran itu. Kritiknya tidak selalu terasa seperti hukuman, melainkan seperti teguran seorang teman yang sudah terlalu mengenal kita untuk sekadar basa-basi.
Dan semua itu berlangsung pada zaman ketika koran masih mempunyai tempat yang berbeda dalam kehidupan masyarakat. Berita tidak bergerak secepat sekarang. Belum ada media sosial yang membuat satu peristiwa bisa menjadi perbincangan dalam hitungan menit. Orang membaca koran dengan ritme yang lebih lambat. Ada halaman yang dibaca serius, ada yang dilewati, dan ada pula yang dicari lebih dahulu karena sudah menjadi kebiasaan.
Gam Cantoi menjadi bagian dari kebiasaan itu.
Ada pembaca yang mungkin membuka Serambi Indonesia hanya untuk melihat apa yang dilakukan Gam Cantoi hari itu. Ada yang tersenyum sendiri di kedai kopi. Ada yang kemudian membicarakannya dengan teman. Sebuah gambar kecil berpindah dari halaman koran ke percakapan sehari-hari. Dari situlah kita bisa melihat bahwa sebuah karikatur, meskipun hanya menempati ruang kecil di halaman surat kabar, dapat mempunyai kehidupan yang jauh lebih besar daripada ukurannya.
Sampe Edward terus menggambar sampai kesehatannya mulai menurun. Penyakit membuat tubuhnya semakin lemah. Tetapi ada satu kisah dari masa-masa terakhir hidupnya yang menurut saya justru menjelaskan hubungan Sampe dengan Gam Cantoi lebih baik daripada puluhan tulisan tentang dirinya.
Dalam keadaan sakit, ketika tubuhnya sudah tidak lagi kuat seperti sebelumnya, Sampe meminta kertas dan pena kepada istrinya, drh. Cut Intan Manfadzi. Kemudian ia menggambar Gam Cantoi. Itulah gambar terakhir yang dibuatnya.
Saya selalu membayangkan adegan itu dengan sederhana. Tidak perlu dibuat terlalu dramatis. Seorang lelaki yang tubuhnya sudah lemah meminta selembar kertas. Tangannya kembali mencari pena. Di atas kertas itu muncul tokoh yang selama puluhan tahun telah menjadi bagian dari hidupnya. Gam Cantoi.
Tidak ada lagi tuntutan halaman koran. Tidak ada tenggat waktu. Tidak ada pembaca yang sedang menunggu edisi besok pagi. Hanya Sampe dan tokoh ciptaannya.
Barangkali bagi orang lain itu hanya sebuah gambar. Tetapi bagi Sampe, Gam Cantoi mungkin sudah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan. Ia adalah bagian dari perjalanan hidupnya, tempat ia menyimpan kegelisahan, humor, kemarahan, dan kecintaannya kepada kehidupan di sekelilingnya.
Beberapa waktu kemudian, pada 30 Maret 2013, Sampe Edward meninggal dunia.
Sejak saat itu, Gam Cantoi tidak lagi mempunyai tangan yang menghidupkannya. Dan mungkin di situlah sebuah zaman kecil dalam pers Aceh ikut berakhir.
Bukan berarti setelah Gam Cantoi tidak ada lagi kritik. Tentu ada. Bahkan sekarang ruang untuk mengkritik jauh lebih luas. Orang bisa menulis, membuat video, membuat meme, mengomentari kebijakan, atau menyampaikan pendapat hanya dengan sebuah telepon genggam. Tetapi bentuk pertemuannya sudah berbeda. Dulu sebuah koran hadir sebagai ruang bersama. Ribuan orang membaca halaman yang sama, melihat gambar yang sama, lalu mungkin tertawa pada waktu yang hampir bersamaan.
Gam Cantoi lahir dari ruang semacam itu.
Ia tidak perlu menjadi viral. Ia hanya perlu ditemukan oleh pembaca di halaman koran pagi.
Mungkin itulah yang membuat kenangan tentangnya tetap bertahan. Bukan karena Gam Cantoi selalu benar, bukan pula karena semua kritiknya pasti paling tajam. Tetapi karena ia pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia membuat orang tertawa sambil melihat dirinya sendiri. Dan dalam masyarakat mana pun, kemampuan untuk menertawakan diri sendiri sebenarnya adalah sesuatu yang penting.
Hari ini, ketika kita mengingat Sampe Edward dan Gam Cantoi, yang kita ingat bukan hanya seorang kartunis dan tokoh karikatur. Kita sedang mengingat sebuah cara lama dalam berbicara kepada masyarakat: sederhana, jenaka, tetapi berani.
Dan kisah terakhir Sampe terasa seperti kalimat penutup yang tidak sengaja ia tuliskan sendiri.
Ketika tubuhnya sudah lemah, ia masih meminta kertas dan pena. Lalu ia menggambar Gam Cantoi untuk terakhir kalinya.
Setelah itu, tangannya berhenti.
Tetapi tokoh yang lahir dari tangannya tidak benar-benar mati. Ia tinggal di halaman-halaman koran yang mungkin sudah menguning, di ingatan pembaca yang pernah tersenyum karenanya, dan dalam kenangan tentang sebuah masa ketika kritik bisa disampaikan melalui sebuah gambar kecil tanpa harus kehilangan rasa kemanusiaannya.
Barangkali, itulah Gam Cantoi yang sebenarnya: bukan sekadar lelaki kurus dengan rambut mencuat, melainkan cara sebuah masyarakat pernah bercermin kepada dirinya sendiri.
Dan setiap kali kita mengingatnya, mungkin kita sedang membuka kembali koran lama itu—mencari sebuah gambar kecil di sudut halaman, lalu tersenyum sebelum akhirnya bertanya kepada diri sendiri: “Jangan-jangan, kali ini Gam Cantoi sedang menggambar kita?”
