“Beiii laooot, beiii tanoh basah, beiii bungong jeumpaaaa…”
Lantunan itu masih menggema di telingaku saat lampu panggung meredup dan tirai perlahan menutup pentas Monoplay Melati Pertiwi, teater mini para perempuan perkasa Nusantara. Di antara sorot cahaya yang hangat, wangi riasan panggung, dan tepuk tangan pengunjung Gedung Kesenian Jakarta, aku tak pernah membayangkan bahwa bait-bait lamen yang barusan kulafalkan akan berubah menjadi semacam firasat gelap—bayangan tipis yang menyelinap dari masa lalu menuju masa kini.
Lamen itu adalah ratapan seorang istri pejuang—ratapan yang dulu dilagukan Laksamana Keumalahayati kepada suaminya yang syahid di gelombang pertempuran melawan Portugis. Sebuah ratap duka yang membawa aroma laut, tanah basah, dan bunga jeumpa—tiga elemen yang bagi orang Aceh bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari diri mereka sendiri. Namun malam itu, di panggung yang megah tersebut, aku tak menduga bahwa aroma-aroma yang terkandung dalam lamen itu akan kembali menghampiri Aceh, tetapi dalam bentuk yang jauh lebih mengerikan.
Tak lama setelah pentas berakhir, kabar duka dari tanah kelahiranku membanjiri layar ponsel. Sungai-sungai yang selama ini jinak tiba-tiba mengamuk. “Bau laut,” pikirku—bukan lagi metafora. Itu suara sungai yang pecah, air yang merobek tanggul, arus yang menyapu apa saja tanpa memilih. Yang hanyut bukan sekadar benda, melainkan kehidupan yang ditenun bertahun-tahun.
“Tanah basah,” bukan lagi hanya bagian dari lamen. Itu lumpur yang bergerak seperti makhluk lapar—menelan jalan, kebun, rumah kayu yang dulu berdiri dengan kesetiaan diam. Tanah yang selama ini disirami doa kini berubah menjadi licin dan meringsek masuk ke dalam rumah-rumah tanpa memberi ampun.
Dan “bungong jeumpa”—simbol kehormatan Aceh—menjelma menjadi berita pahit tentang nama-nama korban yang ditemukan: di balik kayu gelondongan, di sela lumpur yang menumpuk, di antara serpihan kehidupan yang patah.
Kayu-kayu gelondongan itu, yang mestinya diam di hutan, meluncur bersama luapan air dan lumpur. Arus deras menggeretnya seperti mainan raksasa, memecah jembatan, merobohkan rumah, menyumbat sungai hingga air tak lagi mengenali jalurnya sendiri. Ketika sungai tersumbat, ia memilih jalur baru—menyusup ke kampung, merobek halaman, menciptakan alur liar yang tak pernah terbayang.
Rumah yang dulunya padat penduduk kini membentuk sungai baru tepat di depan rumah-rumah warga. Di Aceh, Sumut, dan Sumbar, bencana ini tidak hanya menggenangi tanah, tetapi mengubah peta hidup. Sungai tidak lagi setia pada garisnya; ia berkhianat karena dipaksa oleh tangan yang menghabisi hutan, oleh cuaca yang kian tak waras, oleh alam yang dipanggil namun tak pernah didengar. Dan di tengah segalanya, lamen yang tadi kusuarakan kembali terngiang—bukan lagi sebagai penghormatan untuk pahlawan yang gugur, melainkan sebagai doa bagi korban yang tak pernah siap pergi.
Ketika aku akhirnya sampai di kampung halaman pada Kamis, 4 Desember 2025, aku terperanjat bukan main. Lautan lumpur dan kayu gelondongan itu bagaikan mimpi buruk. Di hadapanku, lamen yang semalam kulafalkan seolah hidup kembali—namun bukan dari panggung, melainkan dari tubuh sungai yang tercabik.
Setiap batang kayu seperti menyimpan bisikan: peringatan, teguran, bahkan tuntutan yang tak pernah diucapkan manusia. Tumpukan kayu yang bersilang seperti tulang-belulang raksasa itu menutup aliran sungai. Sungai sesak dengan gelondongan yang telah ditebang dan dikuliti manusia tanpa ampun. Kemudian ia membalas dengan menerobos permukiman dan menghakimi kita yang tak pernah tahu-menahu tentang tebang-menebang pohon di hutan itu.
Belum lagi orang-orang yang kehilangan rumah, sanak famili, dan harta benda; tak dapat dihitung dengan pohon-pohon yang ditebang serampangan. Rumah mereka hancur dan tenggelam oleh lumpur pasir yang menebal dan mengerikan. Aku membayangkan, seandainya saja manusia tidak rakus, mungkin hutan dan pohon akan menjaga permukiman dan ladang-ladang yang susah payah dibangun itu tetap utuh. Hujan mungkin akan memupuk dirinya agar tanah gunung tak serta-merta membawa longsor.
Namun apa daya, manusia tampaknya memang tak akan pernah cukup dalam hal apa pun. Semuanya ingin dimiliki, semuanya harus segera dikuasai. Akibatnya, derita panjang dan pembangunan yang telah ratusan tahun dibangun, lenyap hanya dalam beberapa hari, bahkan beberapa jam.
Dan lamen itu kembali menusuk telingaku—sakit dan begitu tak terbendung.
Alfatihah.
Tulisan dan foto; Pilo Poly