Ketika kami tiba, hari begitu terik. Debu yang berterbangan menempel di mobil kami yang masih berlumpur, mengeluarkan aroma tanah yang nyaris menusuk hidung, kadang sesekali entah bau anyir mayat, atau kayu kering seperti aroma di rawa-rawa, juga menghampiri penciuman kami. Benar-benar sepat dan begitu kering. Desa ini seperti baru saja bangun dari mimpi buruk—sunyi, tetapi menyimpan riuh duka yang belum sepenuhnya pudar. Setiap langkah terasa berat, bukan hanya karena tanah yang masih gembur dan lengket, tetapi karena sisa-sisa cerita yang tertinggal di setiap sudut pandang.
Di sepanjang jalur Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu yang melewati, Meunasah Mandang, Dayah Useh, dan Gampong Pante Beureune, Kabupaten Pidie Jaya, lanskap berubah menjadi hamparan puing. Tumpukan kayu besar dan kecil bersilang tak beraturan, bercampur lumpur, ranting, dan sisa kehidupan yang diseret arus dari hulu. Kayu-kayu itu tampak seperti tulang-belulang hutan yang dilucuti paksa, menjadi penanda betapa kuat dan tak terduganya terjangan banjir bandang ini. Jembatan yang masih berdiri di kejauhan dan alat berat yang bekerja perlahan menjadi saksi bahwa banjir ini terlalu besar untuk dipulihkan dengan tergesa-gesa, dan manusia pula yang menjadi penyebab yang paling biadabnya.
Di antara serpihan itu, seorang lelaki berdiri dengan kamera di tangannya. Langkahnya hati-hati, seolah setiap pijakan adalah bentuk penghormatan bagi yang tak selamat, dan rasa bersalah bagi penduduk setempat yang rumahnya digerus kayu dari hutan yang jauh, sekaligus menjadi perpanjangan ingatan—upaya merekam sesuatu yang tak cukup dituturkan dengan kata-kata. Sikapnya menunjukkan tekad: bahwa kehancuran ini harus dilihat dan diingat, agar tak menguap bersama waktu.
Tak jauh dari sana, sebatang kayu besar tergeletak dengan angka hitam dicat nomor di permukaannya. Angka itu entah berasal dari pembalakan hutan, atau berasal dari robohnya pohon-pohon raksasa itu, tapi tak mungkin, ini pasti kerjaan mereka, manusia yang tak pernah cukup itu. Di sisinya, seorang lelaki berdiri dan terdiam. Matanya tercekat, lunglai dan tiba-tiba dingin.
Pada kesempatan lain, pemandangan paling menohok hadir ketika dua anak kecil berjalan menyusuri jalan berlumpur, diapit tumpukan kayu di kiri dan kanan. Langkah mereka kecil, tetapi tegar. Bagi mereka, reruntuhan ini bukan sekadar latar tragedi, melainkan bagian dari kenyataan yang harus mereka lalui lebih cepat dari usia seharusnya. Lumpur yang menempel di kaki-kaki mereka seakan menjadi simbol masa depan yang tetap harus ditapaki, meski dilalui dengan ketidakpastian, mereka tersenyum, menyapa dan tak ada sedikitpun rasa sedih. Sebaliknya, kami yang melihat mereka terenyuh, ada sesuatu luka yang tak bisa dijelaskan, dalam dan begitu sakit.
Di sudut lain, tiga lelaki berhenti sejenak setelah membersihkan rumah mereka. Tubuh mereka lelah, pakaian masih kotor oleh lumpur yang seakan enggan benar-benar pergi. Susah berhari-hari mereka membersikan lumpur di rumah-rumah mereka, namun belum juga selesai. Lumpur yang tinggi, serta alat seadanya membuat waktu menjadi begitu lama untuk pembersihan. Di belakang mereka, sebuah mobil putih terkubur sebagian—diam, tak berdaya, menjadi penanda kekuatan bandang yang membawa lumpur penuh kayu pernah menguasai ruang hidup mereka. Istirahat singkat itu bukan tanda menyerah, melainkan jeda manusiawi untuk menata napas sebelum melanjutkan upaya bertahan.
Masih di jalur yang sama, seorang lelaki berdiri sendiri di atas tumpukan kayu yang seharusnya dialiri air. Sosoknya tampak kecil di tengah ribuan kubik kayu, menegaskan betapa rapuh posisi manusia di hadapan alam. Namun, berdiri di sana juga berarti berani menatap kehancuran secara langsung—mengakui kehilangan, tanpa menutup mata.
Dan di tengah semua itu, sebuah kontras kuat mengemuka: bendera Merah Putih tetap berkibar. Di sekelilingnya, bekas banjir dan reruntuhan masih jelas terlihat. Kibaran itu bukan sekadar simbol negara, melainkan penanda keteguhan dan martabat. Ia mengingatkan bahwa identitas, harapan, dan rasa kebersamaan tidak ikut hanyut bersama banjir.
Keseluruhan bencana ini merangkai kisah tentang manusia dan alam yang relasinya kembali dipertanyakan. Banjir bandang di Pidie Jaya ini tidak hanya merusak ruang fisik, tetapi juga memaksa warganya berhadapan dengan kenyataan tentang kehilangan dan permulaan kembali. Namun di balik kayu-kayu berserakan, jeda kelelahan, dan tanah yang belum sepenuhnya pulih, tampak satu hal yang bertahan: daya hidup.
Meunasah Mancang, dan Dayah Usen Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya sertah masih berdiri. Luka belum sepenuhnya sembuh. Tetapi harapan—seperti bendera yang terus berkibar—tetap dijaga agar tidak runtuh.
Keterangan Foto: Seorang lelaki melintasi lautan kubik kayu di atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu, Pidie Jaya, Desember 2025.
Tulisan dan foto: Pilo Poly