Apa yang pertama kali terlintas di benakku ketika mendapat kabar bahwa salah satu puisiku lolos dan dimuat dalam Antologi Puisi Senyum Bidadari Kecil? Tentu saja rasa kagum, tak percaya, sekaligus speechless. Ada perasaan haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Perasaan itu sangat wajar. Sebab, buku tersebut lahir dari keakraban sebuah komunitas menulis yang dikenal dengan nama Cerita Nulis Diskusi Online (CENDOL). Bagi banyak penulis pemula pada masanya, CENDOL bukan sekadar grup Facebook, melainkan ruang belajar, berdiskusi, dan bertumbuh bersama. Komunitas ini berdiri pada 2011, jauh sebelum istilah sekolah online menjadi sesuatu yang lazim. Melalui Facebook, para anggotanya belajar menulis, saling mengulas karya, mengikuti kelas daring, hingga membangun jejaring literasi yang menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Dari komunitas inilah lahir banyak penulis baru, berbagai antologi, novel, dan karya yang menghiasi media massa.
Namun, Antologi Puisi Senyum Bidadari Kecil bukan sekadar kumpulan puisi. Buku ini memiliki makna yang jauh lebih dalam karena dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu anggota CENDOL, Dinar Arfa Kholifah, yang mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menghadiri kopi darat (kopdar) CENDOL di Surabaya. Kepergiannya meninggalkan duka yang begitu mendalam bagi keluarga besar CENDOL. Di tengah kesedihan itu, para anggota memilih mengenangnya melalui sebuah antologi puisi, menjadikan setiap halaman buku ini sebagai simbol persahabatan, solidaritas, doa, dan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Karena itulah, ketika puisiku dinyatakan lolos dalam antologi ini, yang kurasakan bukan sekadar kebahagiaan karena berhasil diterbitkan. Lebih dari itu, aku merasa menjadi bagian dari perjalanan sebuah komunitas yang telah mengajarkan arti berbagi, bertumbuh bersama, dan saling menguatkan. Ada kebanggaan tersendiri karena namaku ikut tercatat dalam sebuah karya yang lahir bukan hanya dari kecintaan terhadap sastra, tetapi juga dari rasa kehilangan dan penghormatan kepada seorang sahabat.
Setelah puisiku terbit dalam Antologi Puisi Senyum Bidadari Kecil, semangat menulisku justru semakin tumbuh. Pengalaman itu menjadi titik balik yang membuatku semakin percaya diri untuk terus berkarya. Aku mulai mengikuti berbagai lomba kepenulisan dan tak lagi ragu mengirimkan karya ke sejumlah media massa, baik surat kabar, tabloid, majalah, maupun media daring.
Satu per satu karya-karyaku mulai menemukan ruang publikasinya. Beberapa dimuat di Majalah Story, Tabloid Gaul, Serambi Indonesia, Harian Aceh, Batak Pos, Harian Waspada Medan, Harian Fajar Makassar, Harian Cakrawala Makassar, Majalah Online Radar Seni, Majalah Best Tangsel, Atjeh Post, Atjeh Time, Majalah KISS, Buletin Mantra, Koran Tempo, hingga Kompas.id. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah daftar nama media. Namun bagiku, setiap nama menyimpan cerita: ada penantian yang panjang, ada naskah yang ditolak, ada revisi yang melelahkan, dan ada kebahagiaan sederhana ketika melihat namaku tercetak atau terpampang di layar.
Di saat yang sama, aku juga aktif berkontribusi dalam berbagai buku antologi bersama para penulis dari berbagai daerah di Indonesia. Perjalanan itu terekam melalui karya-karya berikut:
- Antologi Cerpen Israel di Mata Kami (2012)
- Antologi Cerpen Jatuh Cinta pada Palestina (2012)
- Antologi Puisi Sang Jejak (2012)
- Antologi Puisi Presiden untuk Presidenku (2012)
- Antologi Puisi Ayat-Ayat Rindu (2013)
- Antologi Puisi Kata Mereka Tentang Cinta (2013)
- Antologi Cerpen Cinta dalam Koper (2013)
- Antologi Nonfiksi 19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres (2015)
- Antologi Puisi Matahari Cinta Samudera Kata (2016)
- Antologi Puisi Pasie Karam (2016)
- Antologi Puisi Ije Jela: Tifa Nusantara 3 Marabahan (2016)
- Antologi Puisi 1550 MDPL (2016)
- Antologi Biografi Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017)
- Antologi Puisi Soekarno, Cinta dan Sastra (2018)
Perjalananku di dunia antologi tidak berhenti sebagai kontributor. Pada Agustus 2020, aku juga menjadi salah satu inisiator lahirnya Bunga Rampai Puisi Indonesia: Seperti Belanda. Buku ini melibatkan sekitar 66–67 penyair dari berbagai daerah di Indonesia dan menghimpun 97 puisi dalam 162 halaman. Melalui buku ini, kami berusaha merekam perjalanan sejarah Aceh dalam tiga fase penting: masa konflik bersenjata, tragedi tsunami, hingga hadirnya perdamaian setelah penandatanganan MoU Helsinki. Bagiku, buku ini bukan hanya proyek sastra, tetapi juga ikhtiar kolektif untuk menjaga ingatan, menyuarakan harapan, dan menunjukkan bahwa puisi dapat menjadi saksi perjalanan sebuah bangsa.
Jika ada satu pelajaran yang kupetik dari perjalanan itu, maka jawabannya adalah konsistensi. Dunia kepenulisan mengajarkanku bahwa seorang penulis tidak dibentuk hanya oleh satu karya atau satu kemenangan. Ia ditempa oleh keberanian untuk terus menulis, terus mengirimkan naskah, terus menerima penolakan, dan terus mencoba lagi. Dari satu antologi ke antologi berikutnya, dari satu media ke media lainnya, aku perlahan membangun jejakku sendiri di dunia literasi.
Perjalanan menulis yang berawal dari antologi dan publikasi di berbagai media massa perlahan membawaku pada tantangan berikutnya: menerbitkan buku tunggal. Bagiku, menulis buku tunggal memiliki makna yang berbeda. Jika antologi adalah ruang untuk berbagi bersama banyak penulis, maka buku tunggal adalah ruang untuk mempertanggungjawabkan seluruh gagasan, suara, dan perjalanan kreatifku sendiri.
Dari proses yang panjang itu, lahirlah beberapa buku tunggalku, yaitu Yusin dan Tenggelamnya Keadilan (2014), Sehelai Daun yang Merindukan Ranting (2016), ARAKUNDOE (2018), dan Kumpulan Cerpen Sepatu dari Masa Lalu (2020).
Setiap buku lahir dari masa, pengalaman, dan kegelisahan yang berbeda. Ada yang berangkat dari kegelisahan sosial, ada yang tumbuh dari perenungan tentang kehidupan, dan ada pula yang lahir dari imajinasi yang telah lama kusimpan. Meski mengusung tema yang beragam, semuanya memiliki benang merah yang sama: keinginan untuk merekam kehidupan melalui kata-kata.
Ketika menoleh ke belakang, aku menyadari bahwa perjalanan ini tidak terjadi dalam semalam. Ia dimulai dari keberanian mengirimkan naskah ke komunitas, media massa, dan berbagai antologi, hingga akhirnya memberiku keyakinan untuk berdiri dengan karya-karyaku sendiri. Setiap buku menjadi penanda sebuah fase kehidupan, sekaligus pengingat bahwa perjalanan seorang penulis sesungguhnya tidak pernah berhenti. Selama masih ada kegelisahan, harapan, dan cerita yang ingin disampaikan, selama itu pula aku akan terus menulis.
