Bukan karena orang yang membawa kabar berjalan lambat, melainkan karena kematian memang sering tiba lebih dahulu daripada pengetahuan kita tentangnya.
Si Ujud sedang jauh dari Lamuri ketika ia mengetahui keluarganya telah dibantai. Ia berada di Istamboel, di tempat yang seharusnya menjadi ruang bagi pengetahuan dan masa depan. Barangkali pada hari-hari sebelumnya ia masih membayangkan kepulangan: rumah, wajah-wajah yang dikenalnya sejak kecil, suara orang-orang yang membuat sebuah tempat terasa seperti kampung halaman.
Lalu sebuah berita datang dan semuanya selesai.
Rumah itu sudah tidak ada dalam pengertian yang paling penting dari sebuah rumah. Orang-orangnya telah dibunuh. Masa kanak-kanaknya, tanpa sempat meminta izin kepadanya, telah berubah menjadi masa lalu. Yang tersisa hanyalah seorang anak yang hidup.
Dan dari sanalah dendam bermula.
Tetapi Azhari Aiyub tidak membuat dendam Si Ujud menjadi urusan yang sederhana. Ia tidak memberinya seorang penjahat yang mudah ditunjuk, lalu sebuah pedang untuk menyelesaikan perkara. Lamuri terlalu tua dan terlalu rumit untuk itu. Di sana kekuasaan bertaut dengan perdagangan, istana bertaut dengan kepentingan, dan manusia bisa mati bukan hanya karena ia bersalah, tetapi karena ia berada di tempat yang salah ketika kepentingan sedang berubah arah.
Maka Si Ujud tidak sekadar mencari orang yang membunuh keluarganya.
Ia memasuki sebuah dunia yang memungkinkan pembunuhan itu terjadi.
Ini perbedaan yang penting.
Sebab membunuh seorang pembunuh mungkin hanya menyelesaikan satu kematian. Tetapi memahami sebuah zaman berarti berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar: keadaan yang membuat kematian menjadi mungkin, bahkan masuk akal bagi mereka yang sedang berkuasa.
Barangkali karena itu perjalanan Si Ujud menjadi panjang.
Ia pergi jauh, berjumpa dengan dunia yang asing, belajar tentang laut, kekerasan, perdagangan, siasat, dan manusia-manusia yang hidup dari perubahan. Ia akhirnya kembali kepada Lamuri bukan sebagai anak yang dulu pergi, melainkan sebagai seseorang yang telah dibentuk oleh dunia yang hendak ia lawan.
Di titik itu ada ironi yang sulit dihindari.
Untuk menghancurkan kekuasaan, ia harus mempelajari cara kerja kekuasaan. Untuk membalas kematian, ia harus belajar hidup di antara orang-orang yang terbiasa dengan kematian.
Dan seseorang yang terlalu lama hidup di dalam dendam, pada suatu ketika mungkin tidak lagi dapat membedakan: apakah ia sedang mengejar keadilan, atau hanya sedang memperpanjang umur luka.
Itulah yang membuat kisah ini tidak berhenti sebagai kisah pembalasan. Sebab setelah satu orang mati, apakah kematian selesai?
Tidak.
Sejarah Lamuri dalam novel ini memperlihatkan sesuatu yang lebih mengganggu: kekuasaan dapat berganti tangan tanpa mengubah tabiatnya. Orang-orang datang dan pergi. Sultan berganti. Pedagang berganti. Musuh berganti. Tetapi darah seperti memiliki ingatan sendiri.
Ia mengendap.
Ia masuk ke tanah.
Ia masuk ke cerita.
Kemudian bertahun-tahun, bahkan berabad-abad kemudian, ia muncul kembali dalam bentuk yang lain.
Karena itu ketika kisah bergerak jauh meninggalkan Si Ujud dan memasuki masa Tobias Fuller, saya merasa Azhari sedang melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar memperpanjang cerita. Ia seperti sedang mengatakan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai hanya karena orang-orang yang membuatnya telah mati.
Tiga abad ternyata tidak cukup untuk mengubur sebuah rahasia. Masa lalu bisa hilang dari ingatan manusia, tetapi bukan berarti ia kehilangan akibatnya.
Mungkin di sinilah Kura-Kura Berjanggut menjadi sebuah novel tentang waktu. Bukan waktu sebagai angka—tahun, abad, pergantian pemerintahan—melainkan waktu sebagai sesuatu yang menyimpan luka. Waktu tidak selalu menyembuhkan. Kadang ia hanya membuat luka menjadi lebih tua.
Dan sesuatu yang tua tidak selalu berarti sesuatu yang selesai.
Saya membayangkan Si Ujud pada saat pertama kali menerima kabar tentang keluarganya. Ia belum tahu tentang tiga abad yang akan datang. Ia belum tahu bahwa kisahnya kelak akan menjadi bagian dari cerita yang jauh lebih besar daripada dendam seorang anak. Ia mungkin hanya tahu satu hal: orang-orang yang dicintainya sudah tidak ada.
Dari pengetahuan yang sangat sederhana itulah sejarah bergerak.
Barangkali semua sejarah besar memang bermula dari sesuatu yang kecil seperti itu. Seorang anak kehilangan ayahnya. Seorang ibu kehilangan anak. Sebuah rumah kehilangan penghuninya. Seseorang pergi dan tidak pernah pulang. Kemudian orang-orang yang masih hidup memberi nama kepada kehilangan itu: perang, pemberontakan, politik, kekuasaan, perdagangan, kemenangan.
Nama-nama besar sering datang belakangan. Yang datang lebih dahulu adalah manusia yang mati.
Karena itu saya membaca Kura-Kura Berjanggut bukan terutama sebagai cerita tentang Lamuri yang telah hilang. Saya membacanya sebagai pertanyaan tentang apa yang dilakukan manusia kepada masa lalunya.
Apakah kita mengingatnya?
Apakah kita memaafkannya?
Apakah kita mengulanginya?
Atau kita hanya mengganti nama orang-orang yang berdiri di dalam cerita?
Mungkin itulah sebabnya judul novel ini terasa seperti sebuah teka-teki yang tidak buru-buru meminta jawaban. Kura-kura adalah makhluk yang berjalan lambat, membawa rumahnya sendiri, dan hidup dengan waktu yang berbeda dari manusia.
Sejarah pun demikian.
Ia berjalan lambat.
Kadang begitu lambat sehingga kita mengira ia telah berhenti. Padahal ia sedang membawa rumahnya sendiri: ingatan. Dan di dalam rumah itu, orang-orang yang telah mati masih tinggal.
Mereka tidak berbicara setiap hari. Tidak pula selalu meminta pembalasan. Tetapi mereka menunggu saat ketika seseorang membuka kembali pintunya.
Si Ujud membuka pintu itu dengan dendam. Orang-orang setelahnya mungkin membukanya dengan rasa ingin tahu. Pembaca membukanya dengan membaca.
Dan setelah pintu itu terbuka, kita akhirnya melihat sesuatu yang mungkin lebih menakutkan daripada pembunuhan itu sendiri: bahwa manusia bisa mati, tetapi apa yang mereka lakukan kepada manusia lain dapat bertahan jauh lebih lama daripada usia mereka.
Barangkali itulah kesimpulan paling sunyi dari Kura-Kura Berjanggut. Bukan bahwa dendam akan selalu menemukan jalannya. Bukan pula bahwa sejarah pada akhirnya akan memberikan keadilan.
Melainkan bahwa tidak ada kematian yang benar-benar sendirian. Satu kematian dapat melahirkan dendam. Dendam dapat melahirkan kekerasan. Kekerasan melahirkan cerita. Cerita kemudian menjadi ingatan.
Dan ingatan, pada suatu hari, dapat kembali menjadi sejarah. Kita menyebutnya masa lalu. Padahal mungkin ia hanya sedang menunggu.
