Masa lalu dan balas dendam, sepertinya tidak akan pernah benar-benar selesai selama Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi belum selesai dibaca. Saya sudah beberapa kali khatam novel Yusi Avianto Pareanom ini, tetapi setiap kali membukanya kembali, saya seperti berhadapan dengan sebuah cerita yang tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Jalan ceritanya tentu sudah saya kenal. Saya tahu siapa Sungu Lembu, siapa Raden Mandasia, siapa Watugunung, ke mana perjalanan mereka bergerak, bagaimana perang akhirnya mengambil begitu banyak orang, dan bagaimana cerita itu sampai pada ujungnya. Tetapi pengetahuan tentang akhir rupanya tidak membuat sebuah novel kehilangan daya. Ada buku yang sekali dibaca selesai, ada buku yang setelah selesai justru membuat kita ingin kembali karena kita merasa belum selesai memahami sesuatu yang berada di balik cerita. Raden Mandasia bagi saya termasuk yang kedua.
Mungkin karena sejak awal novel ini tidak hanya berbicara tentang seorang lelaki yang ingin membalas dendam. Dendam Sungu Lembu mempunyai umur yang lebih panjang daripada dirinya sendiri. Ia tumbuh dari sebuah masa lalu yang diwariskan kepadanya, dari kekalahan Banjaran Waru dan segala cerita mengenai kekerasan Gilingwesi yang menjadi bagian dari ingatannya sebelum ia sendiri cukup dewasa untuk memahami seluruhnya. Ada sesuatu yang menarik dalam cara dendam semacam ini bekerja. Kita sering menganggap dendam sebagai reaksi terhadap sebuah kejadian: seseorang disakiti, lalu ia ingin membalas. Tetapi dalam kehidupan manusia, terutama dalam sejarah sebuah keluarga atau sebuah bangsa, dendam jarang sesederhana itu. Ia bisa menjadi semacam warisan yang tidak pernah secara resmi diberikan kepada siapa pun, tetapi tetap berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui cerita, kebencian, nama-nama yang tidak boleh disebut dengan baik, atau kisah tentang orang-orang yang dahulu pernah melakukan sesuatu kepada kita.
Sungu Lembu hidup di dalam warisan semacam itu. Ia tidak memilih masa lalu, tetapi masa lalu memilihnya. Karena itu Watugunung menjadi lebih dari seorang raja yang harus dibunuh. Ia menjadi pusat dari sebuah ingatan yang telah lama mengendap. Ketika seseorang hidup cukup lama dengan satu nama sebagai sumber kemarahannya, nama itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada orang yang memilikinya. Watugunung bukan lagi hanya Watugunung. Ia menjadi lambang dari semua yang telah hilang, dari kekalahan, penghinaan, kehilangan, dan sesuatu yang barangkali bahkan tidak dapat dijelaskan lagi oleh Sungu sendiri. Dalam keadaan seperti itu, membunuh seseorang bisa tampak seperti cara untuk menyelesaikan sejarah. Seolah-olah, jika orang yang dianggap sebagai sumber malapetaka itu mati, masa lalu akan ikut mati bersamanya.
Yusi tidak memberikan kemudahan semacam itu kepada tokohnya. Justru di tengah perjalanan menuju orang yang hendak dibunuhnya, Sungu bertemu dengan Raden Mandasia, anak Watugunung. Di sinilah novel mulai menjadi lebih menarik daripada sekadar kisah petualangan dan pembalasan. Sebab Mandasia tidak datang kepada Sungu sebagai “anak dari musuh” dalam pengertian yang sederhana. Ia datang sebagai manusia, dengan seluruh keanehan, kelemahan, keberanian, selera, kecerdikan, dan kebodohannya. Mereka kemudian berjalan bersama, dan persahabatan tumbuh di antara dua orang yang secara genealogis seharusnya berada di dua sisi yang berlawanan. Ada ironi yang pelan-pelan terasa di sini: Sungu membutuhkan Watugunung sebagai musuh agar dendamnya mempunyai tujuan, tetapi ia justru menemukan seorang sahabat dalam diri anak lelaki yang berasal dari darah musuhnya.
Saya kira bagian ini penting karena kebencian hampir selalu membutuhkan jarak. Kita lebih mudah membenci orang yang tidak kita kenal. Kita membenci nama, kelompok, keluarga, bangsa, penguasa, atau siapa pun yang telah lebih dahulu ditempatkan dalam cerita sebagai lawan. Tetapi begitu seseorang yang semestinya kita benci duduk bersama kita, makan bersama kita, berjalan bersama kita, tertawa pada hal-hal yang sama dan takut pada hal-hal yang sama, batas itu mulai menjadi tidak nyaman. Musuh kehilangan bentuknya yang sederhana. Ia mempunyai wajah. Ia mempunyai suara. Ia mempunyai kebiasaan. Ia bahkan dapat menjadi orang yang kita tunggu ketika perjalanan terlalu panjang. Mandasia, dengan segala tingkah lakunya yang kadang lucu dan berlebihan, melakukan sesuatu yang mungkin tidak disadari Sungu pada mulanya: ia membuat musuh menjadi manusia.
Karena itu saya tidak melihat perjalanan Sungu dan Mandasia semata-mata sebagai perjalanan menuju Gerbang Agung atau sebagai rangkaian petualangan yang sengaja dibuat liar dan penuh kejutan. Perjalanan itu juga merupakan perjalanan keluar dari ruang kecil tempat dendam Sungu selama ini hidup. Dunia yang mula-mula hanya terdiri atas Banjaran Waru, Gilingwesi dan Watugunung tiba-tiba menjadi jauh lebih luas. Ada laut, negeri-negeri asing, manusia dengan kebiasaan yang tidak dikenalnya, perempuan, makanan, perjudian, kelucuan, kekerasan, tipu daya, peperangan dan berbagai macam kehidupan yang membuat satu persoalan pribadi tampak semakin kecil. Sungu berangkat dengan keyakinan bahwa hidupnya mempunyai satu urusan yang harus diselesaikan, tetapi dunia yang ditemuinya sepanjang jalan terus-menerus memperlihatkan bahwa manusia tidak pernah sesederhana tujuan yang dibawanya dari rumah.
Mungkin di situlah letak keanehan novel ini. Ia begitu banyak bercerita tentang perjalanan, tetapi semakin jauh tokoh-tokohnya berjalan, semakin jelas bahwa yang sebenarnya mereka bawa bukan peta, bukan senjata, bahkan bukan tujuan, melainkan masa lalu. Mereka dapat berpindah tempat sejauh apa pun, tetapi sesuatu dari tempat asal mereka tetap ikut di dalam tubuh. Sungu membawa Banjaran Waru. Mandasia membawa Gilingwesi. Dan keduanya, meskipun tidak selalu membicarakannya, membawa sejarah yang telah membuat mereka menjadi seperti sekarang. Tidak ada kapal yang cukup besar untuk membawa seseorang pergi dari masa lalunya sendiri.
Di dalam perjalanan itu pula, Yusi seperti sengaja mempermainkan batas antara yang serius dan yang konyol. Ada daging sapi, perampokan, makanan, pesta, tubuh, kelucuan, kebodohan dan berbagai kejadian yang kadang membuat kita tertawa pada saat cerita sebenarnya sedang bergerak menuju sesuatu yang gelap. Bagi saya, humor semacam itu bukan sekadar hiasan. Ia justru membuat kekerasan terasa lebih dekat dengan kehidupan manusia. Manusia memang tidak selalu menjalani tragedi dengan wajah muram. Orang masih bisa lapar ketika perang akan dimulai, masih bisa bercanda ketika kematian berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, masih bisa memikirkan makanan ketika kerajaan sedang menghadapi kehancuran. Barangkali karena itulah manusia menjadi manusia, bukan sekadar tokoh dalam sebuah tragedi.
Tetapi pada akhirnya, semua perjalanan itu menuju perang. Dan perang selalu mempunyai cara sendiri untuk mengubah ukuran persoalan. Dendam seorang manusia yang semula terasa sangat besar mendadak berhadapan dengan ribuan tubuh. Di hadapan perang, satu nama bisa menjadi terlalu kecil. Orang-orang yang tidak mengenal Sungu, tidak mengenal Mandasia, dan tidak pernah mendengar cerita tentang Banjaran Waru dapat mati karena keputusan orang-orang yang mungkin bahkan tidak mereka kenal. Di sinilah kisah pribadi bertemu dengan sejarah. Dendam yang semula hanya berada dalam dada seseorang tiba-tiba menemukan panggung yang jauh lebih luas, dan di panggung itu kematian tidak lagi mempunyai wajah yang mudah dikenali.
Saya selalu merasa perang dalam sastra menjadi penting justru ketika ia berhenti menjadi cerita tentang strategi. Sebab di atas peta, perang adalah garis, wilayah, gerakan pasukan dan nama-nama kerajaan. Tetapi di tanah, perang adalah tubuh. Ia adalah seseorang yang tidak pulang, seorang ibu yang menunggu, seorang anak yang kelak hanya mengenal ayahnya melalui cerita. Orang-orang yang menulis sejarah mungkin akan mengingat siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi orang-orang yang kehilangan keluarganya mempunyai ingatan yang berbeda. Bagi mereka, perang tidak pernah selesai ketika perjanjian ditandatangani atau ketika pasukan kembali. Ia selesai jauh lebih lambat, jika memang pernah selesai.
Dalam keadaan semacam itu, Watugunung juga perlahan-lahan berubah di mata pembaca. Pada mulanya ia adalah pusat dari dendam Sungu, sosok yang dapat dengan mudah ditempatkan sebagai sumber segala kesalahan. Tetapi cerita tidak berhenti pada gambaran semacam itu. Watugunung mempunyai sejarahnya sendiri, dan sejarah seorang penguasa hampir selalu lebih rumit daripada cerita yang diceritakan oleh orang-orang yang menjadi korbannya. Ini tidak berarti kejahatan menjadi benar hanya karena pelakunya mempunyai alasan. Bukan itu persoalannya. Yang menarik justru bagaimana manusia sering membangun sejarah dengan cara yang sangat nyaman: korban mengingat lukanya, pelaku mengingat alasannya, dan keturunan mereka masing-masing mewarisi versi yang berbeda.
Mandasia menjadi jembatan yang membuat perbedaan itu sulit dipertahankan. Ia adalah anak Watugunung, tetapi ia juga sahabat Sungu. Ia berdiri di antara dua ingatan yang tidak mudah dipertemukan. Ketika kemudian Mandasia mati, kematiannya seperti meruntuhkan satu bagian penting dari bangunan dendam Sungu. Sebab sejak saat itu, Watugunung tidak lagi hanya merupakan orang yang harus dibunuh. Ia adalah ayah dari seseorang yang telah menjadi sahabat Sungu. Hubungan itu tidak menghapus kejahatan, tetapi membuat kebencian kehilangan kemudahannya. Ada manusia lain di tengah-tengahnya, dan manusia lain itu sudah mati.
Saya kira ini salah satu kesedihan paling dalam dari novel tersebut. Kita sering baru benar-benar memahami kedudukan seseorang setelah ia tidak lagi dapat kita ajak bicara. Mandasia, setelah kematiannya, seperti menjadi lebih besar daripada ketika ia masih hidup. Hal-hal yang dahulu tampak sebagai kelucuan atau kebiasaan kecil perlahan memperoleh arti lain. Begitulah ingatan bekerja. Ketika seseorang masih ada, kita merasa selalu mempunyai waktu untuk bertanya, untuk memahami, bahkan untuk meminta maaf. Setelah ia pergi, kita hanya mempunyai ingatan dan segala kemungkinan percakapan yang tidak pernah terjadi.
Di sinilah dendam menjadi persoalan yang jauh lebih sulit. Sungu mungkin dapat mencapai orang yang selama ini dikejarnya. Ia mungkin dapat menyelesaikan tugas yang sejak awal menjadi alasan perjalanannya. Tetapi apakah itu berarti masa lalunya selesai? Saya tidak yakin. Bahkan saya merasa justru sebaliknya. Dendam memiliki satu kelemahan yang jarang kita pikirkan: ia membutuhkan masa lalu untuk tetap hidup. Selama seseorang masih dapat mengatakan, “Ini yang dahulu mereka lakukan kepada kami,” dendam mempunyai alasan untuk bernapas. Tetapi apabila suatu hari pembalasan telah dilakukan, yang tersisa hanyalah masa lalu itu sendiri. Orang yang dibenci mungkin telah mati, sementara orang yang membencinya masih harus hidup bersama seluruh ingatan yang selama ini memberinya tenaga.
Mungkin karena itu saya selalu kembali kepada novel ini. Bukan karena saya lupa bagaimana ceritanya berakhir, melainkan karena saya semakin tidak yakin bahwa cerita semacam ini benar-benar mempunyai akhir. Pada pembacaan pertama, barangkali yang terasa adalah petualangannya: perjalanan yang jauh, pertemuan-pertemuan yang aneh, kelucuan yang tiba-tiba, peperangan, dan keberanian dua lelaki yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Pada pembacaan berikutnya, yang lebih terasa justru hubungan antara Sungu dan Mandasia. Setelah itu, saya mulai melihat hal lain: bagaimana seseorang bisa hidup begitu lama di dalam cerita yang diwariskan kepadanya sampai ia tidak lagi dapat membedakan antara masa lalu yang sebenarnya dan masa lalu yang telah dibentuk oleh ingatan.
Bukankah kehidupan kita sendiri sering bekerja seperti itu? Kita menyimpan beberapa kejadian selama bertahun-tahun, kemudian menceritakannya kembali sampai cerita itu menjadi lebih kuat daripada kejadian aslinya. Kita mengingat siapa yang menyakiti kita, tetapi jarang mengingat bagian diri kita sendiri yang mungkin telah berubah sepanjang waktu. Kita mengingat kesalahan orang lain dengan sangat baik, sementara perubahan pada diri sendiri kita anggap sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya. Dendam membuat waktu berhenti pada saat seseorang terluka. Tubuh terus bertambah tua, rumah berubah, anak-anak tumbuh, orang-orang pergi, tetapi di dalam ingatan, kejadian itu masih berlangsung seperti kemarin.
Itulah barangkali sebabnya Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi bagi saya bukan terutama novel tentang pembalasan. Ia adalah novel tentang manusia yang berusaha membawa masa lalu ke masa depan dan kemudian menemukan bahwa masa lalu tidak selalu mau dibawa dengan cara yang sama. Sungu berangkat dengan dendam, tetapi sepanjang perjalanan ia memperoleh persahabatan. Ia pergi untuk mencari seorang musuh, tetapi menemukan seorang manusia yang tidak dapat lagi ia tempatkan dengan mudah sebagai bagian dari musuh. Ia hendak menyelesaikan satu urusan lama, tetapi justru memperoleh begitu banyak pengalaman baru yang membuat urusan lama itu menjadi semakin rumit.
Mungkin di situlah Yusi paling berhasil mengganggu pembacanya. Ia tidak mengatakan bahwa dendam itu sia-sia. Ia juga tidak memberi khotbah bahwa manusia harus memaafkan. Kehidupan tidak sesederhana itu. Ada luka yang memang terlalu dalam untuk disuruh sembuh oleh sebuah nasihat. Ada sejarah yang terlalu panjang untuk diringkas menjadi ajakan berdamai. Yang dilakukan novel ini lebih menarik: ia membawa kita mengikuti seseorang yang hidup bersama dendam sampai kita sendiri mulai merasakan betapa melelahkannya membawa sesuatu yang seharusnya sudah lama ditinggalkan.
Setelah beberapa kali khatam, saya justru semakin merasa bahwa pertanyaan penting dalam novel ini bukan siapa yang menang, siapa yang kalah, atau apakah Sungu akhirnya mendapatkan pembalasan yang diinginkannya. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi kepada manusia setelah tujuan hidup yang selama bertahun-tahun ia kejar akhirnya berada di belakangnya. Sebab selama tujuan itu masih jauh, hidup terasa mempunyai arah. Kita tahu ke mana harus pergi. Kita tahu siapa yang harus dicari. Kita tahu siapa yang harus disalahkan. Tetapi bagaimana setelah semuanya selesai?
Barangkali di sanalah masa lalu menjadi paling berbahaya: ketika ia tidak lagi mempunyai bentuk peristiwa, tetapi berubah menjadi bagian dari diri kita. Kita tidak lagi sekadar mengingat dendam; kita menjadi orang yang dibentuk oleh dendam itu. Dan jika demikian, membunuh orang yang menjadi sumber dendam tidak otomatis membunuh dendamnya. Ia bisa tetap hidup dalam cara kita memandang dunia, dalam cara kita memilih kawan, dalam cara kita mencurigai orang lain, bahkan dalam cara kita menceritakan kembali kehidupan sendiri.
Saya kira itulah yang membuat saya tidak pernah merasa selesai setelah menutup Raden Mandasia. Novel ini memang selesai sebagai cerita, tetapi tidak selesai sebagai pertanyaan. Sungu dapat pulang, kerajaan dapat jatuh, para penguasa dapat mati, perang dapat berakhir, dan nama-nama dapat kembali menjadi bagian dari masa lalu. Namun sesuatu masih tertinggal di kepala pembaca: bagaimana mungkin seseorang benar-benar pulang apabila sebagian dirinya masih tinggal di tempat ia pernah kehilangan sesuatu?
Mungkin itu pula yang membuat setiap pembacaan kembali terasa berbeda. Buku yang sama tidak pernah benar-benar dibaca oleh orang yang sama. Kita berubah di antara dua pembacaan. Apa yang dahulu tampak sebagai keberanian mungkin kemudian terlihat sebagai keras kepala. Apa yang dahulu terasa sebagai kejahatan mungkin kemudian tampak sebagai bagian dari rangkaian sejarah yang lebih panjang. Apa yang dahulu kita anggap sebagai akhir, setelah beberapa tahun justru terasa seperti permulaan dari pertanyaan lain.
Karena itu saya tidak ingin menyebut Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi sebagai novel tentang dendam saja. Dendam memang menjadi darah yang menggerakkan cerita, tetapi di bawahnya ada sesuatu yang lebih tua: ingatan. Dendam dapat habis setelah pembalasan, tetapi ingatan tidak mempunyai batas yang jelas. Ia bisa berpindah dari satu orang kepada orang lain, dari seorang ayah kepada anaknya, dari sebuah kampung kepada generasi berikutnya, kemudian suatu hari muncul kembali dalam bentuk yang bahkan tidak lagi dikenali oleh orang yang pertama kali mengalami peristiwa itu.
Dan mungkin itulah yang paling mengganggu dari novel ini. Kita membaca kisah Sungu Lembu sebagai kisah orang lain, tetapi lama-kelamaan kita menemukan bahwa mekanismenya tidak terlalu asing. Kita semua, dalam kadar yang berbeda, mempunyai sesuatu yang belum selesai dengan masa lalu. Ada yang menyebutnya kenangan, ada yang menyebutnya luka, ada yang menyebutnya harga diri. Sebagian mungkin memang dendam. Kita hanya tidak selalu mengakuinya karena dendam adalah kata yang terasa terlalu kasar untuk sesuatu yang sudah kita rawat bertahun-tahun.
Setelah beberapa kali membaca novel ini, saya tidak lagi terlalu tertarik untuk bertanya apakah Sungu benar atau salah dalam membalas dendam. Pertanyaan itu terasa terlalu mudah. Yang lebih sulit adalah membayangkan bagaimana hidup seseorang apabila seluruh masa depannya telah dibentuk oleh sesuatu yang terjadi sebelum ia cukup dewasa untuk memilih. Apakah kita masih bebas jika hidup kita terus-menerus diarahkan oleh kejadian yang sudah lama berlalu? Dan jika pada akhirnya kita berhasil membalas, apakah kita benar-benar memperoleh kembali sesuatu yang telah hilang?
Saya tidak menemukan jawaban yang sederhana dari novel ini. Mungkin memang tidak ada.
Yang saya temukan hanyalah perjalanan panjang seorang manusia yang membawa masa lalu di dalam dirinya, bertemu dengan orang yang semestinya menjadi musuh tetapi kemudian menjadi sahabat, kehilangan sahabat itu, menghadapi perang, berhadapan dengan kekuasaan, dan akhirnya harus hidup dengan sesuatu yang lebih sulit daripada dendam: ingatan.
Karena dendam, pada suatu saat, bisa saja selesai.
Ingatan tidak.
Itulah sebabnya setiap kali buku ini saya tutup, saya selalu merasa seperti belum benar-benar selesai membacanya. Bukan karena saya tidak tahu bagaimana kisah Sungu Lembu berakhir, tetapi karena saya tahu bahwa pertanyaan yang ditinggalkan novel ini tidak ikut selesai bersama halaman terakhir. Ia masih tinggal di luar buku, di dalam kepala pembaca, dan mungkin di dalam pengalaman kita sendiri tentang orang-orang yang pernah kita benci, kehilangan yang pernah kita alami, dan masa lalu yang sampai sekarang diam-diam masih kita bawa ke mana-mana.
Mungkin memang begitu cara sebuah novel bertahan. Bukan karena ceritanya terus kita ingat, melainkan karena setelah selesai dibaca, ia membuat kita mulai membaca kembali diri sendiri.
Dan Raden Mandasia adalah salah satu buku yang, bagi saya, melakukan hal itu dengan cara yang tidak terburu-buru. Ia mengajak kita berjalan jauh, membuat kita tertawa, membuat kita terpukau oleh cerita, kemudian pelan-pelan membawa kita ke tempat yang lebih gelap: ke dalam pertanyaan tentang dendam yang kita kira milik masa lalu, padahal barangkali masih hidup di dalam diri kita.
Saya sudah beberapa kali khatam.
Tetapi barangkali saya belum selesai membacanya.
