Yang Telah Menjadi Kemarin
Rupanya, setelah berhari-hari terkurung dalam sebuah jam, aku baru ingat bahwa yang kemarin siang aku lupakan adalah apa yang telah menjadi kemarin. Dan aku menebak-nebak lagi, seperti apa sebenarnya yang telah menjadi kemarin itu. Apakah bercahaya, atau hanya serupa irama musik yang menggema.
Aku membayang-bayangkan bahwa, yang menjadi kemarin adalah seumpama kenangan yang datang bagai harum seulanga. Atau---masih dalam bayangan yang tak dapat di raba itu---jika boleh kucurahkan segala ingatan, yang telah menjadi kemarin itu adalah engkau yang cerah bagai cahaya rembulan.
Sebab tanpa sengaja, ada tawamu yang kutemukan pecah di lembaran-lembaran buku. Lalu jauh menusuk menjadi sebuah tangisan. Dan aku menemukan engkau seperti ditelan oleh sore kemarinnya lagi; rembulan tiba-tiba redup, katamu. Dan aku adalah siul-siul burung menunggu orang-orang di meja makan.
Pamulang, 2014
Matahari Terpanggang
Dalam mata siapakah aku pernah melihatmu
merajut segala kesunyian dengan tenang
Dalam diri siapakan aku pernah mengenalmu
datang seperti hujan memercik kolam renang
Di waktu jam berapakah aku sering menemanimu
hingga engkau meminta untuk segera pulang
Lalu aku mengantarmu dengan kupu-kupu kuning
yang menabur harum matahari terpanggang
Pamulang, 2014
Noktah
Telah aku hitung di setiap tikungan
dan di sana aku selalu menemukan; kesunyian,
kehampaan, bahkan kematian.
Telah aku hitung di setiap tikungan
dan di sana aku selalu menemukan; kicau-kicau
burung tak lagi ada antara langit ke delapan.
Telah aku hitung setiap tikungan
dan di sana aku selalu menemukan; wajah-wajah
yang segera masuk ke dalam surga-Nya Tuhan.
Pamulang, 2014
