Yang Membuat Saya Terus Menulis



Pastilah tidak mengapa sebuah puisi meletakkan dirinya ke dalam baris-baris yang membuat kita merasa 'dilecut' nya. Kita diminta agar masuk ke dalam cerita yang ia kisahkan. Tapi masuk dengan cara dipaksanya, sehingga kita merasa terpaksa masuk. Dengan kata lain ada suatu keadaan dari cara kata terpasang dalam puisi, yang membuat baris-baris puisi itu, seolah manusia, yang memaksakan agar ia mesti kita dengarkan. Padahal kita belum tentu mau mendengarkannya.

Tapi rupa rupanya baris-baris pilo ini tidak begitu. Apa yang menarik, kita lalu berpikir, setelah dibawanya secara lembut, ke apakah yang membuat kita masuk dengan suka rela pada baris-baris puisi Pilo ini. Semua puisinya, yang serentak ia tayangkan, itu kuasa membawa kita hanyut kepada apa yang diceritakan oleh puisi. Pikiran seperti ini membuat kita lalu bertanya, akan sifat dan cara sifat kata itu terpasang sebagai baris puisi, sehingga kita merasa dibawanya, hanyut mengikuti puisi. 

Tetapi apakah monogram 1 itu puisi, atau prosa, semua kita boleh membalik-balik buku kembali, mencari ciri mana puisi dan mana prosa dan berdasarkan sifat dan ciri itu, kita mungkin akan sampai kepada kesimpulan, bahwa itu puisi atau bahkan, itu prosa - hal yang tak terlalu merisaukan bagi diriku, sebab saat bahasa membuatku senang memasukinya, itu bagiku sudah cukup. Apakah ia prosa, atau ia puisi, tak menjadi masalah benar bagiku.

Ruang dan waktu rupanya menentukan juga. Seperti saat ini, puisi yang saya baca seolah bersaingan dengan sunyi. Dari dalam puisi keluar suara seakan suara yang saya dengar dari malam hari. Suara itu, adalah suara sunyi. Musiknya musik sunyi.

Terpesona oleh keadaan yang saya alami saat ini, saya mulai melakukan perbandingan dengan cara melepaskan sebaris puisi, lalu mendengarkannya. Berhenti, lalu melepaskan malam hari ke dalam diri. Seperti saat saya melepaskan baris puisi itu tadi, saya mendengarkan bunyi malam hari.

Mereka sama, saya kira. Sama-sama bunyi sunyi. Walau tiga buah 'dan' berdentang di monogram tiga dan ia seakan bunyi interupsi yang memecah kesunyian, saya tak bisa menafikan bahwa sunyi di monogram tiga itu, telah menjalar seperti sunyinya malam hari yang saya alami saat ini. Serasa saya melihat waktu keluar dari apa yang kita sebut malam itu, keluar seolah bunyi jam yang saya dengar, bergerak, lamat-lamat tapi teratur.

Puisi-puisi yang beriringan itu bagus-bagus, dan ada sebuah puisi, puisi nomor empat, yang mengantarkan kita kepada kesia-siaan, atau puisi yang lain. Tapi akhirnya saya memilih puisi monogram tiga, oleh puisi ini paling punya keseimbangan, keselarasan, lalu kita tahu apa yang harmoni itu, rupanya adalah laju kesunyian juga. Hal ini terkonfirmasi saat saya mulai membacanya kembali, dan mengalami rasa sunyi oleh malam yang memang sunyi.

Saya berpikir akan kata yang paling tepat, yang bisa menggambarkan perasaan hati, saat mengalami rasa sunyi, yang datang di malam hari. Apakah kesenyapan itu memunculkan rasa sedih, jadi kata sedih, yang paling kuasa menjadi wakil diri, di malam sunyi. Atau rasa takut yang timbul dari kesunyian? Ataukah kata hening?

Sebab detak jam 'tiga dan' di monogram tiga pilo itu memang mengganggu keheningan bahasa; jejaknya saya rasakan oleh tiga dan itu mendatangkan rasa bising, bukan rasa hening. (tapi apakah 'benak' itu juga? Tidakkah benak ini juga bising, yang artinya 'hati' lebih membening, seolah malam serupa manusia di mana nurani hari, kini saling berjawab dengan nurani hati).

Untuk mengujinya saya naik ke monogram pertama dan mulai melihat laku tanda baca adalah koma di sana, yang saat membaca pertama kali, terasa di sore hari kalah hening dengan di malam hari. Jadi koma itu seolah sore seperti malam seakan hati. Saya kembali ke posisi koma di puisi pilo, di monogram pertama-nya.

"Saya ingat pertama kali bertemu dengannya - di sebuah tempat yang hiruk-pikuk dengan bermacam rencana - dan saya tahu bahwa ada yang bersinar dari dalam dirinya,"

Saya juta terpesona dengan baris baris ini dan seperti monogram tiga itu, saya mengalami rasa hening - rupanya musik dalam puisi itu, nama lainnya adalah rasa hening atau bening. Tapi saat dirinya ini tak dihentikan sehingga ia menjulur terus menjadi 'dirinya seperti larik larik hikayat perang sabil', apa yang saya rasakan itu tiba-tiba terputus, alirannya anti harmoni.

Tanpa jeda, dalam hal ini koma, aliran itu seakan musik yang dipaksakan. Suara kita jadi fals karena semestinya, suara kita tak setinggi itu, atau setelah, sebelum 'seperti', seharusnya 'dirinya' telah berhenti lewat koma. tapi 'dirinya' itu tak seakan manusia tak sabar: ia terus mekar dan akhirnya bertemu dengan 'seperti'. Sehingga keheningan yang telah terciptakan, artinya konstruksi baris-baris pilo sebelum sampai ke seperti-dirinya ini, sangatlah hening olah ia musik yang rapi sekali. Akhirnya berantakan oleh cara letak tanda terpasang.

Demi tulisan itu sendiri, tulisan mesti kita pelankan. Memelankan bahasa itu penting walau orang tak banyak menyadarinya, atau ia menyadarinya tapi bukan lewat kepengertian, tapi insting dalam berpuisi. Oleh memelanlah bahasa lalu membukakan dirinya, membuat kita merenung. Entah oleh metaforanya, entah oleh irama musiknya, entah oleh pikiran yang bukan metafora, tapi kehadirannya, telah membuat kita bertanya tanya karena ia diolah, lewat jalan memelan.

Saya kira sesudah prang sabi itu juga berlaku tanda baca dengan pola yang sama. Sore saat pertama menerima undangan pilo untuk membacanya, saya berkata bersemangat di situ: susah memilih puisimu oleh ia bagus-bagus. dan memang ia. monogram pertama itu segera saya hadap-hadapkan dengan bahasa pilo yang ini, padahal saya itu sebenarnya, tengah berhadapan dengan bahasa pilo nomor tiga. Nah itulah rasanya susahnya: kata-kata di sana terpasang dengan cara, bukan semata ide tapi basah dengan perasaan kehidupan.

Pilo,
Aceh Di Mata Dunia[6]
:Hasan Tiro

Telah saya tinggalkan buku itu di suatu tempat dalam diri saya. Bukan untuk menghindar dari kenyataan, melainkan saya menghindari ilalang-ilalang di dalamnya yang menusuk mata saya hingga terluka. Dan saat membaca buku itu, saya merasa bagaikan raja kehilangan istana.

'Telah saya tinggalkan buku itu di suatu tempat dalam diri saya.'

Inilah yang kita katakan sebuah ide, ide tentang cara berucap dalam puisi, bahwa puisi bukanlah pikiran apa adanya dan karena itu, boleh digelar saja secara telanjang, walau puisi 'telanjang tanpa baju bahasa', memang banyak juga yang bagus, artinya basah dengan kehidupan yang kita katakan ini. Puisi ini basah dengan kehidupan, maksud saya, baris yang sedang saya letakkan dengan cara, memetiknya dari baris baris puisi Pilo dan membiarkanya saja sendirian, tepat di atas saya kini menulis. Ia adalah baris pikiran yang basah dengan kehidupan.

Bahwa itu riwayat, kisah kejadian yang dialami seseorang, artinya ingatan, akan suatu masa lalu, jadi bersifat diary buku. Tapi mengapa buku itu ada di dalam dirinya? Diri itu tempat dunia badan kita dan rasanya, kalaulah ia tidak disaku, atau di dalam antara celana dan badan seperti Chairil saat mencuri buku dan Muhtar Lubis tertawa lalu memberi kesan heroistik karena segalanya ditempatkan dalam dunia, di satu pihak Chairil yang urakan, di pihak lain keadaan diri tengah dijajah orang dan toko buku itu, mungkinlah toko buku milih penjajah.