: Abdullah Syafe'i
Tiba-tiba saya ingat pada gambar ini gara-gara seseorang yang datang membawa mulut burung dan mengomel sepanjang lusinan terik matahari yang pecah di jendela kaca. Lalu sambil mengibaskan rambutnya yang bergelombang itu, angin yang lewat buru-buru menerjang setiap helainya dengan aroma laut pesisir yang ganas. Lantas saya mendengar dia seperti mendongeng. Membawa saya pada satu tempat yang tak pernah saya dengar dan jamah lewat dongengnya yang kasar dan mengutuk siapa saja Cuak yang telah merenggut Pamannya.
Tiba-tiba saya ingat pada gambar ini gara-gara seseorang yang datang membawa mulut burung dan mengomel sepanjang lusinan terik matahari yang pecah di jendela kaca. Lalu sambil mengibaskan rambutnya yang bergelombang itu, angin yang lewat buru-buru menerjang setiap helainya dengan aroma laut pesisir yang ganas. Lantas saya mendengar dia seperti mendongeng. Membawa saya pada satu tempat yang tak pernah saya dengar dan jamah lewat dongengnya yang kasar dan mengutuk siapa saja Cuak yang telah merenggut Pamannya.
Dan saat itu saya tidak bisa menolak untuk pura-pura bodoh dengan diam dan tidak mencoba untuk mengeringkan airmatanya. Saya tahu saat itu ribuan Rencong telah menusuk ke setiap tubuhnya sendiri hingga ia mati dalam kata-kata. Dan saya ikut terdiam sambil melirik ke bahu jalan di hadapan rumah saya yang pernah menjadi saksi seperti apa pembunuhan dan terciptanya tuhan dari moncong senjata.
Pamulang, 2014
