Franchise Jurassic Park sebenarnya sudah mulai kehilangan arah sejak awal 2000-an. Bukan dari sisi duit, karena trilogi Jurassic World yang dimulai tahun 2015 sukses banget secara box office. Tiap filmnya tembus lebih dari 1 miliar dolar. Tapi masalahnya, kualitas filmnya nggak sekuat itu. Tiga film tersebut terasa basi dengan cepat, penuh CGI berlebihan, dinosaurus buatan laboratorium, dan jalan cerita yang aneh. Rasa kagum dan magis yang dulu dibawa Spielberg di film original benar-benar hilang.
Pertanyaannya, bisa nggak franchise ini bangkit lagi? Bisa nggak kita melupakan sosok Chris Pratt dengan gaya “raptor trainer” yang kaku itu? Jawabannya ternyata bisa banget. Gareth Edwards bersama David Koepp, penulis asli Jurassic Park, berhasil menghidupkan lagi rasa seru itu lewat Jurassic World Rebirth. Film ini bahkan bisa disebut yang terbaik sejak tahun 2001, dan kalau kamu nggak terlalu suka dua sekuel Jurassic Park sebelumnya, mungkin ini terasa terbaik sejak 1993.
Tentu saja film ini tidak bisa disamakan dengan Jurassic Park pertama. Spielberg menciptakan sesuatu yang hampir sempurna waktu itu. Rebirth tidak mencoba mengalahkan atau menciptakan ulang roda. Film ini hanya ingin mengingatkan kita bahwa menonton film dinosaurus bisa sangat menyenangkan. Memang ada kekurangan, ceritanya agak berantakan, dialognya kadang bikin geleng kepala, tapi semua itu terasa kecil kalau dibandingkan dengan momen-momen spektakuler yang ada.
Ceritanya sendiri cukup absurd kalau dipikir pakai logika. Ada miliarder farmasi bernama Martin Krebs yang butuh darah tiga dinosaurus raksasa—dari darat, laut, dan udara—untuk bikin obat penyakit jantung. Alasannya? Karena dinosaurus punya jantung besar, dan tiga dinosaurus ini dianggap spesial. Untuk misi aneh ini, ia menyewa tentara bayaran Zora Bennett yang diperankan Scarlett Johansson, dibantu Duncan Kincaid yang dimainkan Mahershala Ali, serta paleontolog Dr. Henry Loomis yang diperankan Jonathan Bailey. Perjalanan mereka jelas tidak berjalan mulus, apalagi ketika bertemu sebuah keluarga yang terdampar di pulau dinosaurus. Dari situ misi yang awalnya sederhana berubah jadi pertarungan untuk bertahan hidup.
Awal film memang agak lambat, butuh waktu sekitar 20–30 menit untuk membangun cerita. Tapi begitu sampai di pulau, film ini langsung terasa hidup. Banyak adegan penuh ketegangan yang bikin penonton kembali merasakan sensasi khas Jurassic Park. Karakter paling menonjol jelas Dr. Henry Loomis. Bailey sukses besar membuat sosok ini jadi jantung cerita. Dia digambarkan sebagai ilmuwan yang benar-benar cinta dinosaurus, mirip Alan Grant di film original. Ada momen ketika dia berkata, “Membunuh dinosaurus itu dosa,” yang rasanya bikin penonton pengen berdiri dan tepuk tangan.
Film ini juga memanjakan penonton dengan banyak sekali dinosaurus berbeda. Tidak ada satu dinosaurus antagonis utama, melainkan berbagai jenis yang muncul di setiap bagian cerita. Dari kejar-kejaran T-Rex di sungai, momen manis anak kecil dengan bayi dinosaurus, hingga ketegangan khas ala Spielberg yang fokus pada reaksi manusia saat menghadapi predator, semua terasa menghidupkan kembali jiwa franchise ini.
Akhirnya, Jurassic World Rebirth memang bukan film sempurna. Ceritanya absurd, dialognya kadang bikin heran, dan tempo awalnya agak bikin bosan. Tapi film ini berhasil mengembalikan apa yang paling kita rindukan: rasa kagum, seru, dan nostalgia saat dinosaurus berjalan lagi di layar lebar. Ini adalah kebangkitan sejati untuk franchise yang sempat kehilangan arah.
🎬 Rating: 8,5/10
Film ini seru, penuh nostalgia, dan bikin kita merasa seperti anak kecil lagi yang pertama kali lihat dinosaurus di layar.
