Ponsel Kurang Hajar


Pada satu kesempatan yang terdahulu, yang masih membekas dalam diri saya, adalah saat saya berjalan di satu tempat yang sibuk. Orang-orang dengan segala aktivitasnya terlihat memikul banyak beban yang enggan untuk diceritakan. Namun di sudut lain, dalam bola mata saya, saya mendapati seorang ibu dan anak saling lalai dengan diri mereka sendiri. Yang satu---sang ibu---asik dengan ponsel bagus mungkin sedang chatting dengan salah satu temannya. Yang satu---anaknya dengan mata biru laut---juga asik dengan dirinya tapi ada hal yang mungkin tak ia mengerti dan bermaksud meminta bantuan pada ibunya itu.

Tapi, apa yang kemudian saya tangkap tidaklah memuaskan nalar saya. Setelah memperhatikan sekira lebih dari 20 menit---sebelum anak kecil itu menarik-narik baju ibunya---ibunya masih asik dengan ponsel 'kurang hajar' itu. Lalu anak itu---tanpa diperhatikan ibunya---entah bermaksud ingin meminta bantu pada orang lain. Mungkin dalam pikirannya akan menyelesaikan apa yang membuatnya bingung.

 
Beberapa detik kemudian, di seberang jalan yang padat, dia melihat seorang anak kecil dengan mata warna cokelat dan kulit putih seperti mawar, melambaikan tangan pada anak itu. Dan anak di seberang---yang akhirnya saya tahu bernama Fabian---juga membalas lambaian tangannya. Dan sekali lagi, pada satu kesempatan yang terdahulu itu, saya menemukan gairah tertentu dari setiap bola mata mereka. Entah bagaimana, tiba-tiba gadis itu akhirnya memutuskan untuk mendekat pada Fabian---ia telah memohon pada ibunya tapi ibunya tetap asik dengan dirinya sendiri---yang ada di seberang jalan.

Dan..., apa yang terjadi? Anak itu terlempar beberapa meter karena diserunduk sebuah sedan mewah yang mengkilat mutiara. Saat kejadian itu, sang ibu pun masih terlalu sibuk bukan main hingga seorang supir yang menabrak gadis itu turun dan secara histeris berteriak dan memeluk anak itu.

"Veronica...," jeritnya.

Saat mendengar suara orang menjerit---saya begitu kaget bukan main---ibu itu baru sadar bahwa anaknya telah pergi untuk selamanya di tangan suaminya sendiri---supir itu---yang masih menangis sejadi-jadinya. Merasa bersalah, Fabian yang bermata cokelat itu dengan jaket kuning kotak-kotak pergi meninggalkan tempat itu. Dan saya, sebagai salah satu saksi, saat dimintai keterangan secara terang menerang menyalahkan ibu gadis itu. Apakah ada yang salah?