REGENERASI
Oleh Pilo Poly
Di lembar buku mana kita pernah berhenti, lalu bertahan di sana sebegitu lama hingga fajar telah menggeserkan pucuk rumah ke arah lain, dan siul burung tak lagi menggema seperti pagi senin yang lain.
Kita sebenarnya tahu, bahkan lebih dari selembar buku intelektual itu. Tapi selalu kalah dalam menjelaskan kembali pada orang-orang, tentang lembaran asing itu yang sempat membuat kita beku. Lalu jam yang berdetak lama pun diam. Tak lagi berputar pada tempatnya. Seperti marah pada kita.
Di lembar buku mana kita pernah berhenti, lalu sama-sama membagi pengetahuan kita. Atau saling membahas seperti apa ending buku itu yang tak kita sangka akhirnya akan menderita. Ah seandainya kau masih di sini, pasti saja kita masih bisa saling bertukar kabar. Setidaknya saling bertanya lagi, sudahkahj kau selesaikan membaca buku itu?
Sebab aku belum pernah tahu endingnya seperti apa.
Kita sebenarnya tahu, bahkan lebih dari selembar buku intelektual itu. Tapi selalu kalah dalam menjelaskan kembali pada orang-orang, tentang lembaran asing itu yang sempat membuat kita beku. Lalu jam yang berdetak lama pun diam. Tak lagi berputar pada tempatnya. Seperti marah pada kita.
Di lembar buku mana kita pernah berhenti, lalu sama-sama membagi pengetahuan kita. Atau saling membahas seperti apa ending buku itu yang tak kita sangka akhirnya akan menderita. Ah seandainya kau masih di sini, pasti saja kita masih bisa saling bertukar kabar. Setidaknya saling bertanya lagi, sudahkahj kau selesaikan membaca buku itu?
Sebab aku belum pernah tahu endingnya seperti apa.
