“Hei!” entah sudah berapa kali tepukan tangan mendarat di bahuku, dan aku belum juga ingin melihat siapa gerangan yang mengganggu tidurku. Dalam sebuah kereta yang sarat dengan penumpang, seharusnya aku waspada terhadap banyak hal yang tak diinginkan orang lain. Tapi aku malah menganggap seperti berada di rumah. Dan merasa tepukan tangan itu hanya punya ibu yang selalu usil membangunkan aku jika terlelap.

Kusandarkan diriku sebentar ke arah jendela kereta, embun yang mendarat di kaca, serta silau kota yang sudah terlihat serasa membuat aku ingin lebih menenggelamkan tidurku yang masih kurang.

“Ini di mana?” sontak aku kaget. 
Kugulung cepat-cepat kain tebal yang biasa kubawa dari rumah ke dalam tas. Orang tadi, yang mungkin menepuk bahuku, atau juga bukan, berdiri gagah dengan tatapan mata nyalang. Seolah aku seorang penjahat yang sedang dicari seluruh negeri.

“Sudah jam berapa?” tiba-tiba kuberanikan diri untuk bertanya. 
Orang itu, yang sedari tadi memandangku, dengan tangan terlipat antara dadanya yang bidang, mendekatkan mulutnya ke kupingku. “Tak ada jam di dalam kereta ini!”

“Seharusnya, sewaktu kau naik, kau sudah tahu peraturan kereta?”

“Kemana tujuanmu?” Aku tergagap. 
Dari balik tubuh orang itu, kulihat seseorang lain tersenyum sambil memamerkan deretan gigi peraknya.

“Edelweis!” panggil orang itu.

“Cepat. Masih banyak urusan yang harus kau selesaikan.” Lalu pria itu bergegas pergi tergopoh-gopoh menelusuri setiap tumpahan orang di lorong kereta seolah tak ada apa-apa sambil memberi sebuah tanda di pergelangan tangan kananku.

 “Suka minum?” Lelaki bergigi perak mendekat.

“Maaf! Aku tidak minum!” aku menggeserkan posisi dudukku.

“Itu Edelweis.” Katanya.

“Aku Nila.” Lelaki itu mengulurkan tangannya.

Dengan gugup dan takut karena berada di samping orang yang sedang minum minuman beralkohol, kusebutkan juga namaku padanya dengan mulut dan tangan bergetar. Ia berdehem dan larut dalam sebuah lagu yang mengalun dari ponselnya. Serta menegak minuman ditangannya berkali-kali sampai ia mendengkur.

Di balik kaca kereta, malam belum jatuh pada cahaya pagi. Lampu-lampu yang setia menerangi jalan dan ladang terus saja kulihat ditelan malam yang gulita. Dan aku masih memikirkan dengan dalam kemana sebenarnya sebuah tujuan yang kurakit sebelum naik dalam kereta ini. Dan entah mengapa, aku merasakan ada orang lain dalam tubuhku yang mengarahkan aku hingga berada di sini.

Saat pagi telah merekah di udara, kudengar suara burung, suara orang, serta dengungan peluit kereta tanda pemberhentian terakhir menjerit di stasiun yang belum pernah kulihat sebelumnya. Walau sudah pagi dan berembun lebat, masih bisa kulihat warna lampu yang sangat beragam di stasiun ini.

Orang-orang turun. Ada yang murung, ada yang senang. Lantas aku entah ingin turun atau tidak. Karena aku belum juga bisa memastikan sebuah tujuan. Sebelum naik kereta ini, tujuanku hanya ingin pulang ke Bogor, bukan pergi ke tempat yang sama sekali tak pernah kujamah sebelumnya. Ini seperti mimpi! Tapi semua yang kulihat dan kuraba adalah kenyataan.

Aku masih ingat betul sebelum detik-detik terakhir melangkah masuk dalam kereta ini. Waktu itu suara azan magrib belum sempat memecah senja, orang-orang masih sibuk melakukan pekerjaannya. Macet, polusi, dan segala kesemrawutan jalan raya membuatku mempercepat langkah agar tak ditinggal kereta terakhir. Saat ingin menyeberang jalan itulah kuperhatikan seorang gadis kecil duduk di taman dengan airmata mengalir dari matanya.

“Kenapa, Dik?” aku mendekat.

Gadis itu melihatku dengan penuh antusias. Ia menghambur ke dalam pelukanku. Seolah baru saja menemukan harta karun yang dicarinya.

“Aku Maladeva. Kau tidak ingat?”

“Kemana saja kau, Ren?”

Aku terdiam di hadapan gadis itu. Maladeva, Ren. Dua nama yang baru kudengar dan terus memutar ingatanku pada mereka. Siapa Maladeva? Siapa Ren? Sepertinya nama itu bukan ditujukan padaku sampai aku melihat ke arah belakang dan kupikir di sana ada Ren yang dipanggilnya.

“Hei. Aku memanggilmu,” perempuan itu menghentakkan tanganku.

“Namaku bukan Ren. Dan aku tak mengenal kamu,” ujarku cepat.

“Namaku Damar. Lebih tepat Damar Sasungka.” Aku tersenyum dan mengulurkan tangan ke arahnya. 

“Jangan bercanda, Ren!” ucap gadis itu.

“Sepertinya kamu harus ke dokter dan memeriksan diri.” Saranku. Lalu aku bangkit dan meninggalkan gadis itu sendiri di taman kota. Menurutku, gadis itu menceracau. Memanggil aku Ren. Atau pura-pura mengenal aku, lalu dengan memanfaatkan keibaanku, ia akan minta diantar ke rumahnya di salah satu tempat. Padahal di tempat itu telah ia pasangkan perangkap untuk menjerat! Aku tahu modus itu. ini Jakarta! Semua hal bisa terjadi.

Aku terus berjalan tanpa melihat ke belakang. Tak perduli ada suara-suara kecil membuntuti diriku. Bau pesing dan debu menguar di udara. Hingga tonggak-tonggak stasiun terlihat dekat dan nyata.

“Ren! Antarkan aku. Tolong, Ren. Hanya kau yang tahu jalan pulang! Kemana saja kau selama ini? aku telah lama masuk ke dunia manusia, dan saat menemukanmu dalam ketidakberdayaan, kau tidak perduli?” aku sudah yakin. Ini pasti modus perampokan seperti yang diberitakan di tv-tv itu.

“Jangan mencari perhatian.” Bentakku tanpa menoleh.

“Kau boleh melihatku di dunia manusia sebagai seorang gadis kecil yang membutuhkan belas kasihan. Tapi ingatlah. Kita pernah berada di satu tempat. Di satu negeri yang sudah lama kau tinggalkan! Ren! Dengarkan aku! Kau tak boleh pergi begitu saja!” Dengan sama sekali tidak mengindahkan suara gadis di belakangku, aku masuk dalam stasiun lalu menuju tempat pembelian tiket dan masuk dalam gerbong kereta. Dan tiba-tiba, gadis itu hilang dalam penglihatanku. Kereta telah melaju.

***

Aku memacu kuda dengan cepat. Di belakang ada ribuan Aglomoes siap mencabik-cabik tubuhku jika saja aku tak lebih cepat dari mereka. Tapi, sebuah cahaya milik kaum Nours dan ribuan panah api terbang menutup bulan purnama. Panah-panah itu menancap pada setiap Aglomoes yang ada di belakangku.

 “Sudah kubilang! Kaum pendusta itu tak akan pernah berhenti membuat kekacauan!” aku mendengar suara salah satu kamu Nours yang memiliki sayap Troides Meoris warna kuning, mengoceh sambil melesatkan dengan cepat ratusan anak panah ke arah para Aglomoes.

Karena terlalu cepat dan tak punya keseimbangan, kuda yang kutumpangi jatuh tersungkur mencium tanah. Dengan cepat aku bangun dan memasang kuda-kuda. Peperangan yang kuhindar pun terjadi. Aku menghempas setiap Aglomoes yang mendekat dengan pedang Tirai. Tak ada kata berhenti sampai kucium amis darah mulai menguar di udara. Dan para Aglomoes sedikit demi sedikit berkurang dan mundur perlahan.

 “Aku pikir kaum pendusta itu telah kalian musnahkan. Dan menurut legenda, memang kalian membinasakan mereka, bukan?” aku bergabung dengan kaum Nours. Kaum peri yang tinggal di dalam balik gunung.

“Benar, Renasean! Benar. Memang legenda seperti itu. Tapi ada yang tak kau ketahui.” Ratu Ball, penguasa mereka tiba-tiba muncul karena mendapatkan kabar bahwa ada serangan dari para Aglomoes di perbatasan.

“Dan karena hal itulah kau kuundang kemari. Ada hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orangmu.” Aku melihat sebuah pintu terbuka dari balik gunung. Dengan tercengang, karena baru kali ini  diundang ratu Ball ke istananya, aku takjub dengan apa yang baru saja kulihat.

Setelah pintu itu terbuka, kulihat juga anak-anak tangga mengatur diri sendiri secara menanjak. Menuju tempat tinggi dan berbelok ke arah kanan. Di samping kiri kananku, terdapat lampion-lampion kuning dan merah tembaga yang menjadi penerang.

“Seharusnya kalian cerita padaku jika para Aglomoes masih berkeliaran di daerah kekuasan kalian. Jadi aku tak perlu kaget seperti ini!” Ada sejuta beban yang terlihat olehku saat ratu Ball berdiri dan menatapku.

“Maafkan aku, Ren. Kau, sebagai penguasa timur Champ, dan bangsa yang tertua, seharusnya mengetahui hal ini!”

“Desas-desus kebangkitan para Aglomoes sudah terlalu sering diperbincangkan.”

“Dan sekarang kita benar-benar melihat mereka!”

“Tanpa kalian, mungkin aku sudah tercabik-cabik!”

Kami sampai di istana Balleirs. Penuh dengan perempuan-perempuan perupa. Anggur di setiap kebun, air terjun sejauh mata memandang. Dan angin yang hangat membelaiku sampai aku merasakan aroma surga.

“Renasean. Sudah lama hal ini ingin kusampaikan padamu. Tapi belum kunjung waktu yang tepat. Karena purnama selalu ditutup gerhana. Malam ini, seijin ayahandamu dulu, kita berkumpul di sini untuk membahas kepergianmu.”

“Dan?” aku bertanya.

“Kau akan masuk ke dunia manusia. Dan menemukan seorang perupa yang telah lama meninggalkan kita.” Ratu Ball menunduk.

“Kumohon temukan dia. Ada rumus yang belum terpecahkan. Dan rumusnya ada padanya. Pada perempuan perupa itu. Namanya Galuh Kandina.” Ratu Ball menyerahkan sebuah perekat baja padaku. Kuterima barang itu dan mengingat-ngingat di buku mana pernah kubaca kisahnya. Ya. Aku pernah membacanya. Perekat baja yang menarik perupa yang melarikan diri ke dunia manusia dengan bantuan orang-orangku. Dan bahkan, pekerjaan ini sudah turun temurun dilakukan.

“Jika embun sudah turun dari langit, perekat itu akan bertubuh padamu. Kau akan berada di satu tempat dalam dunia manusia. Entah sedang minum, makan, atau tidur. Jika hal itu sudah terjadi. Pakaikan perekat itu pada pergelangan tanganmu. Nanti kau akan dibimbing pada perupa yang kita cari.”

“Dan sebaiknya kau memang tidur saja!”

“Jika nanti kau pun tak kembali, aku akan mengutus orang yang paling dekat denganmu. Agar kau mau kembali.”

“Itu bukan perjanjian!” aku membantah.

“Itulah yang dilakukan orang tuamu dulu.” Ratu Ball membuang pandangannya ke air terjun yang menghampar di depan mata kami.

“Baiklah jika memang harus seperti itu!” aku berdengus.

***

Benar kata ratu Ball. Saat perekat baja telah bertubuh pada pemegangnya, kita akan berada di satu tempat yang sama sekali tak kita tahu di mana. Dan kini, saat giliran aku masuk dalam dunia manusia, kutemukan diriku sedang menyapu sebuah tempat yang seperti Kuldox di tempatku. Aku belum tahu bagaimana manusia menyebutnya sampai kudengar salah seorang anak remaja menggunakan baju putih dan celana abu-abu menyebutkan kata stasiun.

“Kami sudah di stasiun, Kek.” Sebut remaja itu.

“Iya. Di Jakarta. Kakek sudah sampai?” remaja itu bicara lewat salah satu benda yang ditempelkan ditelinganya. Apa itu? Apakah alat penghubung yang biasa kugunakan di tempatku?

Dengan pakaian lusuh dan bau keringat, kutinggalkan Kuldox dan berjalan menuju arah yang ramai sekali orang lalu lalang. Walau belum tahu tujuannya, aku percaya bahwa perekat baja telah membimbingku. Dan inikah Jakarta? Legenda yang kubaca dari buku di tempatku? Ah. Betapa senang aku berada di sini.

Aku masih ingat bagaimana ayahku menidurkanku dulu sambil membacakan kisah Sang Ratu dari Timur. Legenda-legenda yang dibacakan orang tua pada anak-anaknya selalu membekas dibenak kami. Dan dengan sendirinya, kami selalu ingin menumbuhkan rasa percaya bahwa dunia manusia memang ada. Dan Jakarta itu harus dikunjungi oleh bangsa-bangsa kami. Tapi tak semua orang-orangku dapat menyelesaikan beberapa tugas agar bisa mendapat kesempatan menjemput para perupa yang melarikan diri setelah membaca legenda Sang Ratu dari Timur.

Setelah ke luar dari Kuldox, aku berjalan menuju satu arah. Jalan tanpa kehendak. Hanya langkah yang menggiringku entah kemana. Di salah satu simpang, kulihat sebuah puncak yang megah. Dalam legendaku, kutahu puncak itu bernama Monas. Ah. Betapa senangnya aku. Ini mungkin sebuah keberuntungan buatku. Sebentar lagi apa yang akan kulihat? Adakah masih seperti dalam buku legenda? Kota Tua, Tugu Monumen Nasional, Gedung Joang 45, Museum Satria Mandala, Rumah Si Pitung Marunda, dan banyak lagi yang kulupa namanya?

Aku terus melangkah. Melewati banyak hal yang belum pernah kulihat di negeriku. Orang-orang membawa mesin, berteriak, mengamen, dan meminta-minta. Sempat seorang kakek mendekatiku, karena melihat pakaianku lusuh, ia menghindar. Mengira aku sama sepertinya. Yaitu peminta-minta. Padahal aku telah memasukkan tangan ke dalam celana dan ingin mengambil sekeping koin dan memberikan padanya.

Seorang perempuan bermata sipit yang rambutnya dibaca angin, berjalan cepat seperti hendak berlari. Aku mencium aroma orang-orangku ditubuhnya. Dan seketika itu, tanpa kuminta, langkahku mempercepat geraknya sendiri mengikuti perempuan bermata sipit itu hingga aku sampai pada halaman rumahnya.

“Galuh! Galuh!” aku berteriak tapi ia semakin bergegas masuk ke dalam sebuah tempat yang bertudung seperti rumah. Dan aku masih menebak-nebak benarkah itu rumah? Kenapa sama seperti di negeriku? Pagar, bunga, dan segala aroma negeriku di sini kuteguk semua.

“Jangan coba-coba membuntutiku!” tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram leherku dengan kuat. Bau bunga Melori yang ditanam di tanah-tanah kami kucium dari rambutnya yang mengenai hidungku.

“Siapa kau? Penyusup dari Andromeda?” Tanya perempuan itu. Ah. Akhirnya benar, Galuh Kandina, yang dicari ratu Ball akhirnya aku menemukanmu.

“Iya. Kau tidak merindukan negerimu?” tanyaku.

“Bukan urusanmu!” perempuan itu makin mencengkeran leherku.

“Jangan marah. Aku hanya diperintah Ratu Ball. Kalau kau tak mau balik, pecahkan saja rumus yang pernah kau janjikan padanya!” aku mencoba membela diri.

Saat hendak melawan, kulihat perempuan itu melemahkan cengkeramannya. Ia terduduk lemas di sebuah batu di belakangku. Ada hal yang mungkin dipikirkannya.

“Sudah sekian lama aku pergi, rupanya rumus itu belum terpecahkan. Kenapa ratu Ball tidak mengajari orang lain di sana? Dan kau, hanya karena hal ini ingin membawaku kembali? Kau tak akan pernah bisa. Percayalah!”

Aku ikut duduk di samping perempuan itu. Parasnya ayu, rambutnya yang tak diikat sesekali dibawa terbang angin. Kulitnya putih langsat, dan bermata biru. Sama seperti mata-mata perempuan di negeriku.

“Siapa namamu?” perempuan itu mengulurkan tangannya.

“Renasean.” Balasku.

Setelah itu, aku terlalu larut dengan pemandangan yang menakjubkan. Bintang-bintang, dan lampion di pucuk gedung, serta atap-atap rumah yang menusuk langit, memang sebuah hal yang sangat baru bagiku.

“Kau harus mengganti bajumu. Sini. Ikut denganku.” Perempuan itu menarik tanganku. Aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam sebuah rumah berarsitektur seni tinggi.

Saat masuk. Ada suasana yang begitu dekat dan kental yang kukenal. Seperti suasana rumah ayah sebelum kami pindah ke tempat lain di negeriku. Aroma-aroma batik pesisir, batik klasik, dan aroma lain yang suka ditenun oleh ibu dan digantung dalam lemari kaca.

“Aroma ini. Aroma batik!” kataku pada Galuh Kandina. Ia tersenyum. Dan seperti tahu bahwa memang ada hal serupa di negeri manusia dengan negeriku.

“Sudah kukatakan. Kau tak akan mau kembali ke sana!”

“Mengapa begitu yakin?” tanyaku.

Perempuan itu masih tersenyum. Lalu membuka sebuah lemari yang diukir penuh dengan seni yang tinggi dan melempar padaku sepasang kain. Kukira itu baju dan celana.

“Pakailah! Nanti kita akan ke suatu tempat. Dan kau akan menyukainya.” Galuh menyarankan aku memakai bajunya di sebuah kamar. Saat masuk dalam kamar itu, kulihat sederet lukisan buah tangan Galuh Kandina.

“Mengapa banyak lukisan leluhur kita di sini?” aku kegirangan saat berada dalam kamar itu. Dan aku yakin, pasti ini buatan Galuh. Tak mungkin bukan.

“Tan Malaka, Raden Ajeng Kartini, Jendral Soedirman, Teuku Umar,” Aku menghitung nama-nama leluhur kami satu persatu.

“Iya. Itu aku lukis agar aku tak lupa pada wajah mereka.” Galuh seolah begitu tulus mengucapkan hal itu.

“Tapi kenapa kau tak mau pulang?” Aku mendekat ke salah satu lukisan.

“Itu bukan urusanmu!” Galuh masih bersikeras.

“Kau lihat? Ini, ini gambar ayahku!” Galuh terbelalak saat aku mengambil sebuah lukisan kecil yang berhadapan dengan cermin kaca dan memperlihatkan padanya.

“Tak mungkin! Tak mungkin itu ayahmu!”

“Buktikan padaku bahwa kau adalah keturunan Bangsa Champ dari timur Andromeda!” setelah mengganti pakaian, aku ke luar kamar dan mendapati Galuh Kandina duduk sambil menangis di sebuah teras yang dibalut terang bulan.

“Kau mau bukti? Ini!” aku menarik lengan baju panjang yang diberikan Galuh Kandina. Lalu dari sana ada cahaya biru laut yang memberikan tanda keturunan.

Galuh Kandina hanya menatap. Lalu lesap dalam dirinya sendiri. Dan terakhir aku tahu bahwa, dengan tidak adanya tanda cahaya biru di garis tangan Galuh Kandina, sangat mustahil baginya untuk kembali. Inikah masalahnya?

“Kita bukan satu keturunan. Walau memang dari satu negeri Timur Andromeda. Tapi kita bisa kawin. Dengan berkahwin, kita bisa memiliki anak. Dan anak itulah nanti yang akan mengantikan posisiku. Pada dia aku akan menurunkan segala rumus yang ratu Ball inginkan. Jika tidak, kita tidak bisa apa-apa.” Aku tercekat. Baru kali ini ada seorang perempuan yang mengatakan hal itu padaku!

“Dan pun syaratnya sangat menyiksamu. Kau pun akan sama sepertiku. Kehilangan cahaya dari tangan kita.”

“Jika ini untuk sebuah perubahan kenapa tidak?” Aku menyakinkan diriku. Kali ini, walau salah aturan, kupastikan akan bertanggung jawab pada ratu Ball jika memang dia mengirimkan penyusup lain untuk menjemputku.

“Tapi bagaimana bisa cahaya itu hilang dari tanganmu?” kutanyakan hal itu pada Galuh Kandina karena penasaran!

“Sewaktu aku tahu bahwa dunia manusia yang diceritakan ibu-ibu kita benar adanya dari seorang perupa lelaki dari bangsaku, aku ingin turut ikut bersamanya. Hingga pertentangan terjadi di keluargaku. Termasuk Ratu Ball yang menentang kepergian ini.” Galuh Kandina terdiam.

“Tapi aku mengacuhkan segala pertentangan yang ada karena aku begitu cinta pada lelaki perupa itu. Syaratnya, jika memang aku ingin ke negeri manusia, cahaya biru laut di lengan sebagai identitas bangsaku harus dilenyapkan dulu.” Galuh Kandina berhenti lagi dan meraih sapu tangan dari saku bajunya lalu menghampus jejak air mata yang ada di pipi merah muda itu.

“Aku tidak setuju penghapusan identitas. Dan akhirnya aku melarikan diri dengan perupa itu. Tapi, perupa lelaki yang begitu kucinta dan kusayang rupanya pengkhianat. Ia meninggalkan aku di sini karena mendapatkan seorang perempuan muda yang energik dan jatuh hatin padanya. Dan karena malu, aku bermohon pada Allah SWT pada setiap pertengahan malam dengan sholat tahajud untuk menghilangkan identitas yang ada di lenganku.” Akhirnya kutahu seperti apa sebuah derita yang ditanggung perempuan ini.

***

Aku turun dan duduk di sebuah stasiun di tengah kota. Tapi ada yang aneh dengan kota ini. Tak ada tulisan nama, tak ada penjual asongan, pesemir sepatu, pengamen, pencopet. Semua hal yang ada di sini adalah hal yang sama sekali belum pernah kulihat.

Orang berjalan dengan pakaian serba aneh. Warna warni dan terlihat sangat gemerlap. Matahari menguning di atas langit. Terasa begitu dekat. Tapi tak kurasakan panas yang membakar ubun-ubun kepalaku.

Setelah bosan duduk. Dengan sendirinya kakiku melangkah ke luar stasiun. Lalu mendapati seorang perempuan yang mendekat ke arahku sambil bersiul dan memutar-mutarkan rambutnya di bawah sebuah payung warna ungu.

“Akhirnya kita bertemu di sini, Renasean.” Perempuan itu menunduk. Dan menggiringku menuruni undakan tangga stasiun. Saat itu benar-benar kurasakan bibirku kelu. Lidahku seperti dipasung ribuan rantai. Tak dapat bicara!

“Kita telah bertemu sebelumnya, bukan?” tanyanya.

Melihat aku tak dapat menggerakkan bibirku untuk bicara, perempuan itu mengusapkan tangannya ke wajahku. Lalu dengan sendirinya lagi aku langsung mengoceh.

“Namaku Damar Sasungka,” ujarku ketus.

“Aku tahu jawaban itulah yang akan kudengar.”

“Dan dengan sedikit trik. Kau telah masuk dalam gerbong kereta yang salah. Akhirnya, dengan kelalaianmu tidur sepanjang perjalanan, kau tak pernah tahu bahwa aku bertubuh padamu.” Aku kaget bukan main. Benar firasatku. Bahwa memang ada yang menggerakkan langkahku hingga aku menuju tampat ini.

“Kau tidak perlu takut. Sebenarnya, setelah berulangkali kuteliti saat kau tidur, memang bukan kau yang harus kutubuhi melainkan ayahmu, Renasean. Yang telah menghilang dari negerinya sendiri saat ingin membawa pulang para perupa yang melarikan diri ke negeri manusia.”

“Dan dalam tubuhmu. Ada aliran darah seorang pejuang. Dengan tanda yang selalu kau bawa di pergelangan tanganmu.” Aku melirik tanda cahaya biru laut yang terdapat pada lengan kananku.

“Sabarlah. Setelah ini kau akan kembali ke negerimu. Hanya saja, ada hal yang harus kau selesaikan. Yaitu bertemu dengan ratu Ball. Orang yang pernah mengirimkan ayahmu ke dunia manusia. Tapi dia tak pernah kembali karena cahaya  biru dalam tubuhnya menghilang lantaran berkahwin dengan seorang perupa. Kudengar kabar bahwa dia melakukan itu untuk sebuah perubahan. Walau aku sebenarnya tak rela, tapi aku harus melepaskan dirinya.” Perempuan itu mengusap matanya.

Aku terus berjalan mengikuti langkah perempuan itu. Dari balik bayangannya, kulihat wajah seorang gadis yang duduk di taman kota saat aku hendak menyeberang jalan menuju stasiun untuk pulang ke Bogor.

“Kau, bukankah perempuan di taman kota itu?” tanyaku dengan bergidik karena telah menyangka perempuan secantik ini adalah perampok.

“Iya, benar. Aku Maladeva. Tapi saat di negerimu, aku memang diharuskan berubah menjadi anak kecil. Karena anak kecil akan membuat iba orang lain. Dan keibaan itu akan menjadi senjata paling mematikan. Bukan untuk membunuh, tapi untuk menarik semua informasi keberadaan ayahmu. Tapi hingga saat ketiga purnama, pencarianku tidak membuahkan hasil. Aku menangis dan sudah cukup lelah. Dan kau datang! Kau penyelamat.” Aku mendengar ia menceritakan semua beban hatinya dengan menepuk-nupuk bahuku.

Tanpa terasa, matahari telah berganti dengan kegelapan. Aku melihat ke atas langit. Tak ada bintang walau langit cerah. Yang ada hanya bulan yang bulat sedang bercermin pada sebuah danau yang luas.

“Akhirnya Maladeva berhasil membawa pulang kuturunan Renasean. Terima kasih. Malam besok adalah purnama terakhir. Kita harus bisa menyelesaikan rumus itu. Kalau tidak, akan perlu waktu lama lagi untuk menyelesaikannya. Sedangkan para Aglomoes telah bersekutu dengan Xeon.” dari sebuah tempat, kulihat seorang perempuan yang memakai baju biru muda dengan manik-manik kilau di seluruh wajahnya, turun dari sebuah tangga. Entah benar apa yang kulihat. Karena, dari wajah perempuan itu, aku dibawa pada satu tempat yang pernah kulihat sebelumnya.

“Ratu Ball? Kau kah itu?” tanyaku padanya.

“Iya. Inilah aku yang telah menunggu sekian lama hingga bukan ayahmu yang kembali melainkan engkau.” Ratu Ball, yang pernah kulihat dalam lukisan ibu dalam kamarnya, mendekat dan membelaiku dengan penuh kasih sayang.

“Setelah kau menyelesaikan rumus ini, kau boleh pulang dan bergabung dengan Kardigamu. Di negeri manusia, apa sebutan untuk sebuah Kardiga?” Ratu Ball menyerahkan padaku secarik kertas yang menggulung bulat.

“Maksudmu keluarga?” Sambil meraih kertas, aku menjawab pertanyaan ratu Ball. Dan saat kubaca satu persatu, baru kutahu bahwa ada rumus-rumus fisika di dalamnya.

“Owh! Keluarga? Menakjubkan.” Ratu Ball menuntunku ke salah satu tempat duduk yang memiliki meja besar dan banyak buah anggur serta menghampar sejauh mata memandang sebuah tebing yang melahirkan air terjun warna biru muda.

Sambil duduk. Kuperhatikan setiap rumus itu. Kata Maladeva, rumus itu harus dipecahkan saat purnama terkahir. Dan hanya ayahku yang bisa. Bagaimana aku mengerjakan rumus-rumus ini? Aku terdiam. Lalu membolak-balik setiap halaman itu. Entah dari mana, tiba-tiba kuraih sebuah alat tulis yang ada dalam sebuah gelas bening di hadapanku.

Setelah benar-benar kuperhatikan dan kuteliti lagi. Aku menemukan rumus-rumus energi angin di kertas itu. Dan ingin sekali aku bertanya apa gunanya rumus itu.

“Tak ada waktu lagi, Damar. Jangan menunggu gerhana menutup bulan yang terang itu. Cepatlah selesaikan!” ratu Ball melipat tangannya ke dada sambil menatap bulan yang benderang. Kulirikkan mataku ke arah Maladeva yang dari matanya penuh harapan.

“Boleh aku bertanya?” aku menaruh alat tulis di atas kertas dan menunggu jawaban Ratu Ball.

“Boleh, Damar. Cepat!” jawab Ratu Ball tanpa menoleh.

“Apakah di sini akan kalian bangun pembangkit tenaga listrik?” Ratu Ball menoleh ke arahku. Dari wajahnya, kulihat ia senang sekali.

“Iya, Damar. Dari mana kau tahu itu?”

“Ini yang kupelajari di sekolah.”

“Sekolah? Apa itu?”

“Ya sekolah. Tempat dimana kita diajarkan hal seperti ini. Bisa membuat pesawat terbang, radio, televisi, dll.” Jawabku mantap. Ratu Ball mendekat dan memelukku.

“Apakah kau ingin tinggal di sini? Dengan banyak cahaya, kita bisa mengusir para Aglomoes dan Xeon yang telah bersekutu?” ajaknya.

“Tapi bagaimana dengan sekolahku? Aku bisa menyelesaikan malam ini.” aku menyakinkan ratu Ball.

“Masalah sekolahmu, tempat kau akan diajarkan hal seperti ini, akan aku pertimbangkan. Tapi apakah kau ingin tinggal di negeri ini? Kapan kau mau, kau boleh berlibur atau melepas rindu dengan Renasean dan Galuh Kandina.” Aku berpikir keras. Di sini, di tanah yang tak pernah kujejaki sebelumnya, entah kenapa kudapatkan ketenangan. Tak sama seperti Jakarta yang sudah terlalu sempit dan macet di mana-mana.

“Baiklah kalau begitu. Tapi ratu Ball harus menepati janji.” Aku menyalami tangan Ratu Ball. Dan mungkin, aku akan menetap di sini.

“Tapi, jika nanti aku ingin pulang, bagaimana caranya?” tanyaku panik.

“Gampang. Dengan perekat baja yang ada ditanganku.” Ratu Ball menunjukkan sebuah gelang warna putih bening di tangannya. Dan aku akan menyelesaikan tugasku dulu agar para Aglomoes dan Xeon tidak berbuat onar lagi. Menurut cerita ibu, Aglomoes digambarkan dalam sebuah dongeng tidur sewaktuku kecil adalah Aglomoes yang kejam dan meminum darah itu terbentuk dari dendam seorang peri dari bangsa Ratu Ball sendiri. kekejaman itulah yang hendak dihilangkan Ratu Ball. Karena selalu membuat peri-peri yang tinggal di balik gunung khawatir.

***

Sudah empat puluh tahun lebih aku hidup bersama Galuh Kandina. Perempuan perupa yang melarikan dari dari negeriku. Berkat kepercayaan Ratu Ball, aku diijinkan menuju dunia manusia dan membawa kembali Galuh Kandina ke tempat asalnya walau aku tahu itu bukan sebuah tujuan final dari perintah Ratu Ball. Ada hal lain. Yaitu menyelesaikan rumus yang telah lama belum terpecahkan. Dan hanya Galuh Kandina yang bisa.

Malam ini ulang tahun negeri manusia. Aku dan Galuh Kandina berencana akan merayakan dengan orang-orang lain di Monas. Menunggu kembang api pecah di antara emas yang ada di puncaknya seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya aku, Galuh Kandina dan anak kami akan membawa tikar, dan beberapa makanan kecil dari rumah. Lalu duduk dengan indah di salah satu pojok hutan kecil dalam area monas. Tapi malam ini, aku dan Galuh Kandina belum melihat anak kami pulang. Sudah satu minggu lebih ia tak terlihat.

“Terakhir dia bilang mau kemana?” tanyaku pada istriku.

“Dia ke Bogor,” kata Galuh Kandina sambil merapikan beberapa baju di ruang tamu. Sejenak aku berpikir, kemana perginya anak kami. Biasanya dia akan mengabarkan kepergiaannya jika pergi lama atau menginap di rumah sahabatnya di Bogor.

“Tenang saja, Renasean. Kita tak akan kehilangan dia.” Galuh Kandina menatapku. Lalu aku balik menatapnya.

“Berarti malam ini tak ada Damar di sisi kita seperti tahun sebelumnya. Padahal ada yang hendak aku ceritakan padanya.” Aku duduk di hadapan Galuh Kandina dan seakan memohon padanya agar membantuku untuk menyelesaikan sebuah cerita yang belum usai kami ceritakan pada Damar.

Galuh Kandina diam. Tak bergeming. Ia terus saja sibuk dengan dirinya sendiri. Walau pun cahaya biru di lengan kami sudah hilang, tapi aku bisa melihat kegelisahan Galuh Kandina. Ada hal yang juga ia sembunyikan. Tapi aku tahu hal apa itu.

“Iya. Tahun ini memang Damar tak akan ada di sisi kita. Dalam tatapan mataku. Aku melihat seorang perupa lain, pada sebuah lampu merah, menangis haru di hadapan Damar.” Kudengar Galuh Kandina bicara sambil bangun dan menaruh baju-baju yang sudah terlipat rapi ke dalam lamari besar yang ada di depan kami.

“Maksudmu?”

“Damar ada di Andromeda!” jawab Galuh Kandina.

“Bagaimana bisa?” tanyaku belum percaya.

“Iya. Ia dimanipulasi kereta apinya oleh seorang perupa. Namanya Maladeva!” aku terkejut bukan main. Maladeva, orang yang pernah kutaksir di dunia kami itu rupanya masih setiap pada Ratu Ball.

“Tapi bagaimana bisa Maladeva tahu bahwa Damar anak kita?” tanyaku panik bukan main.

“Dengan tanda yang ada di tangan anak kita. Kau kan tahu, tanda di pergelangan kita telah hilang karena kita telah berkahwin. Tapi, tanda itu tetap akan muncul pada anak kita. Dia penerus kita. Dan dialah yang akan menghancurkan Alglomoes dan Xeon-Xeon itu.”

Malam telah turun saat itu. Angin membelai bebunga yang menghampar di halaman rumah kami. Aku dan Galuh Kandina entah kenapa tidak lagi menghakwatirkan kehadiran Damar. Karena kami tahu, Ratu Ball adalah Ratu yang adil dan bijaksana.

“Apakah menurutmu, Damar, anak kita itu bisa menyelesaikan rumus yang pernah aku emban?” Galuh Kandina duduk di sampingku sambil menikmati letusan kembang api dari jarak jauh. Kami tak lagi ingin mengulang kenangan tahun-tahun lalu di taman Monas karena ketidakhadiran Damar.

“Aku yakin Damar bisa. Kau ingat ketika ia kecil? Ia begitu cinta dengan apa yang kauturunkan padanya. Dan dia gemar dengan hal tersebut.” Aku menyakinkan Galuh Kandina.

Galuh Kandina terdiam. Begitupun denganku. Kami menghirup aroma angin dan campuran bunga di halaman rumah kami. Saat itu, serasa aku berada di istana Ratu Ball yang megah dan mewah. Serta kurasakan juga belai angin yang datang dari air terjun yang begitu biru.

“Kau merasakan apa yang kurasakan?” tanyaku pada Galuh Kandina.

“Iya. Angin dari air terjun,” jawabnya. Lalu. Ledakan kembang api lagi-lagi pecah  di udara dan menghadiahkan kami letusan-letusan yang memekakkan telinga. Tapi entah kenapa, kami malah ingin lagi dan lagi mendengar ledakan itu dan melihat terus menerus kembang api yang tak ada di negeri kami.

“Ini ulang tahun Jakarta yang keberapa?” tanyaku.

 “Ke 486 tahun.” Galuh Kandina menjawab dan tersenyum ke arahku.

“Semoga saja Damar bisa menyelesaikan rumus-rumus dan segera pulang. Ada hal yang hendak kuceritakan lagi padanya. Bagaimana kita bertemu, dan bagaimana aku terpisah dengan bangsaku sendiri. Anak kita tak boleh ceroboh seperti kita. Cahaya di lengannya harus tetap bersinar agar bangsa-bangsa kita tahu bahwa, walau pun raga kita tak ada di sana, tapi penerus kita akan terus berbakti pada bangsanya.” Galuh Kandina menitikkan air mata.

Aku terharu dengan apa yang baru saja kudengar. Jauh di lubuk hatiku, ada keinginan untuk pulang kembali dan menceritakan pada bangsa Cham bahwa memang legenda yang diceritakan ibu-ibu dan ayah-ayah kami nyata adanya. Bukan hanya dongeng pelengkap tidur. Bukan hanya untuk diceritakan. Tapi untuk diingat dan dikenang.*