Langit dan Bumi (Majalah Story)


Oleh Pilo poly – Jacob Julian

Bumi sudah berbeda setelah perang besar antar umat manusia terjadi lagi. Ini lebih besar dari perang dunia yang tercatat di buku-buku sejarah manusia. Dunia tempat tinggal mereka porak poranda, karena perang yang mereka ciptakan sendiri, perang yang dilandasi nafsu belaka, dan hilangnya nilai-nilai kemanusian.

Saat perang terus saja berlanjut dan telah menelan setengah jiwa manusia yang tercatat sebagai penduduk bumi, tiba-tiba kekuatan dari langit datang.

Kekuatan itu berasal dari bangsa Orh, dari planet Deazola yang jaraknya beribu-ribu juta tahun cahaya dari galaksi Bima Sakti. Mereka datang dengan damai hanya ingin membantu umat manusia mengakhiri krisis perang ini. Dengan tujuan yang mulia seperti ini, tentu pihak yang tidak suka perang sangat menghormati kedatangan mereka di bumi. Apalagi setelah bangsa Orh datang, entah bagaiamana caranya, perang pun usai dan bumi kembali damai. Tetapi bangsa Orh tidak bisa tinggal di bumi dan memilih bermukim di atmosfer bumi.

Namun dibalik ‘kepahlawanan’ bangsa Orh, mereka menyimpan maksud tersembunyi. Mereka ingin mendapatkan kekuatan ‘ruh’ bumi yang mereka yakini dapat membantu krisis di planet mereka sendiri, Deazola. Karena merasa punya hutang budi kepada bangsa Orh, para pemimpin bumi mengijinkan bangsa Orh mengeksploitasi bumi, asalkan tidak merusak lingkungan bumi.

Beberapa ilmuwan terpercaya pilihan para pemimpin bumi ditunjuk untuk melakukan misi ini. Di antaranya adalah Dr. Jones dan Dr. Samantha, yang kebetulan mereka paham akan arkeologi.

“Kekuatan yang mereka cari ini ada hubungannya dengan sejarah awal terciptanya bumi,” terang Jones di depan para ilmuwan terpilih. Secara bulat Dr. Jones diangkat menjadi ketua ekspedisi karena kepintarannya.

“Apakah ada kaitannya dengan Atlantis?” seorang ilmuwan bertanya.

“Mungkin… kita belum mengerti sepenuhnya. Mungkin ada hubungannya dengan kristal-kristal Atlantis… tapi…”

“Mereka hanya berkata kepada kita untuk mencari ‘ruh’ bumi. Dan kau mengaitkannya ke legenda Atlantis, bukankah itu terlalu jauh?” sela Samantha.

“Maksudmu miss?” tanya Jones heran. Kini seluruh mata tertuju padanya.

“Penyembahan berhala. Nabi-nabi jaman dulu. Adam, Musa, Nuh… mungkin bisa juga…”

“Kau mau mengatakan kalau ini berkaitan dengan religius?” bantah Jones yang tak percaya dengan hal-hal berbau mistis.

“Mungkin saja…”

Kalau saja tidak ada yang menyela agar mereka berdua bekerja sama dengan segera mencari kekuatan ruh bumi ini, mereka akan terus berbantah-bantahan sampai tidak mempunyai ujung.

Setelah para ilmuwan tadi di teleport ke langit tempat bangsa Orh selama ini tinggal  dengan perlengkapan yang jauh lebih lengkap, mereka berusaha sekuat tenaga mencari ruh yang dimaksud oleh bangsa Orh.

Tak lama, setelah bangsa Orh menunjukkan petunjuk-petunjuk seperti apa contoh ruh bumi, kali ini pendapat Jones dan Samantha ada benarnya juga. Bangsa Orh mencari semacam inti bumi yang mengandung energi-energi besar. Dengan menggunakan semacam alat pencari yang dibuat oleh bangsa Orh, tim ekspedisi langsung menemukan apa yang mereka cari.

“Kalau ada ini, kenapa mereka butuh kita?” kata Samantha skeptik.

Alat ini menunjukkan tempat di mana energi itu tersimpan. Di sebuah daerah dekat sungai Amazon.

“Apa ini? Kita mencari kota emas atau ruh bumi?” tanya Jones yang sama-sama skeptik.

Tim ilmuwan dibagi. Samantha dan beberapa ilmuwan yang ahli di lapangan akan langsung terjun ke arah yang ditunjukkan benda tadi. Sedang Jones akan bersama dengan bangsa Orh mengawasi mereka dari Dealozaa.

Regu Samantha diturunkan dan langsung bergerak cepat menuju titik yang ditunjuk Terex, alat yang dipinjamkan bangsa Orh. Alat itu langsung menujuk ke sebuah situs pemakaman kuno yang masih berdiri sampai sekarang dan tidak hancur akibat perang yang berkepanjangan.

“Aku mau masuk ke sana!” kata Samantha kepada Jones di alat komunikasinya. Samantha penasaran karena alat Terex tidak menunjukkan apa-apa. Benda itu hanya berkedip-kedip di luar situs.

“Jangan berbuat macam-macam!” bentak Jones.

“Kau hanya berbicara dari teleport sedangkan aku berkerja di lapangan.”

‎”Aku ketua ekspedisi! Diam dan kerjakan tugasmu amati Terex sambil dia menunjukkan tanda-tanda!” bentak Jones.

What the hell!” Samantha memasang muka masam sambil melihat ke arah monitor di atas kepalanya. Jones menjelaskan prosedur yang terlalu berbelit. Sedangkan waktu terus berpacu. Keputusan nekat pun diambilnya, teleport yang menjadi sarana mereka berkomunikasi dihancurkan.

Gelap. Hening.

“Sam? Sam? Damn! Dasar wanita!” Jones melepas headsetnya dan memakai baju seragamnya.
Damn it! Wanita memang tidak bisa diandalkan!” bentaknya.

Jones memutuskan untuk turun. Ia berjalan menuju sal-sal pengiriman bantuan Orh melalui cahaya, untuk segera menghentikan perbuatan bodoh Samantha.

“Turunkan aku ke Situs itu sekarang juga!” perintah Jones pada anak buahnya.

Kilatan petir dari pintu langit hanya terlihat seperdua detik, Samantha tahu bahwa ada yang dikirim melalui pintu-pintu cahaya setiap kali genderang bertabuh dan cahaya kilat menyambar bumi.

***

Awan berubah gelap. Seringai serigala membahana mengalunkan rintihan kemurkaan. Di ujung malam yang gelap dan dingin, Samantha sadar akan kesalahan yang dia lakukan. Ini sangat fatal. Bagaimana pun situasinya sangat tidak dibenarkan menghancurkan alat komunikasi dengan langit. Hanya dengan alat komunikasi itu tim expedisi yang berada di Dealoza bisa mengirimkan bantuan secepat kilat, jika terjadi sesuatu pada tim lain yang ditugaskan ke bumi, melalui cerobong-cerobong cahaya dibantu petir buatan.

***

Ada kesalahan yang dilakukan Samantha. Yaitu menggali dua lubang tanah di areal situs. Salah satu lubang telah dipasang beberapa dinamit, hal itu dilakukan karena Samantha telah dipusingkan dengan argumen Jones. Bahwa ada satu titik yang menandakan areal menuju situs sejarah spiritualitas dan untuk mencapai permukaan situs harus dengan cara meledakkannya. Namun, ledakan itu melebar, tidak seperti yang diinginkan.

“Ledakan itu telah membangunkan beberapa penghuni di alam ini.” Sebut salah satu tim Samantha.

Samantha bergidik, aroma amis membaur di pekatnya malam. Entah kabut atau pun asap di luar sana. Yang ia ketahui jam sedini ini tak ada yang menyalakan api unggun. Apalagi di tempat yang dijauhi kebanyakan orang!

‘Cliiing!’ Terdengar sebuah suara dari kejauhan 600 menit perjalanan. Beberapa tim dikerahkan Samantha untuk memeriksa. Sedangkan Samanhta sibuk menggali dan menggali lagi. Sekarang hanya berbekal sebuah peta kuarto 0,1 yang dipegangnya. Tak ada petunjuk lain yang bisa diandalkan. Jam penunjuk arah dan Terex mati mendadak. Padahal jam dan Terex sangat di butuhkan untuk mengulur waktu perjalanan ke langit sambil menunggu bantuan.

Stupid!” bentaknya pada diri sendiri. Merasa menyesal telah menghancurkan alat komunikasi dengan langit. Semoga saja Jones tidak murka dengan kejadiaan ini. Dirogohnya tas kulit yang menempel di punggung, tangannya mencari-cari sesuatu.

Damm! Damm!” gerutunya lagi. Alat penerang dari batangan cahaya flouro tidak ada lagi.

Bagaimana caranya kita bisa menggali lagi” ketusnya dalam hati.

***

Bola api berlapis baja terlempar disalah satu koordinat terakhir komunikasi antara Jones dan Samantha. Dampak dari pendaratan tim expedisi Orh yang menggunakan pesawat cahaya membuat lubang kawah yang sangat besar. Setelah pendaratan dianggap berhasil Jones segera berlari menuju ke tempat Samantha. Sayangnya dirinya tidak mengetahui keberadaannya.

“Dimana dia..?” tanya Jones sambil menghidupkan alat Terex pendeteksi koordinat terakhir komunikasi. Lima belas menit kemudian titik-titik panas Orh lain ditemukan 10 kilo jauhnya dari tempat pendaratan pesawat.

“Mengapa bisa sejauh itu..!!” Jones kebingungan. Koordinat terakhir dengan temuan baru saling berlawanan. Ada apa sebenarnya?

Jones mempercepat gerak langkah. Jejak Samantha yang belum dapat dihubungi melalui jaringan Terex.

***

Samantha kagum apa yang dia temukan. Sebuah situs makam yang belum pernah seorangpun datang dan meliputnya, bahkan kalau National Geographic datang, situs akan menjadi semacam hiburan bagi para turis-turis dari segala macam penjuru dunia.

Situs makam ini berbentuk oval. Di tengahnya terdapat patung, sedang disekelilingnya banyak ukiran dan relief yang mungkin akan butuh waktu beberapa tahun untuk menemukan artinya. Samantha bergerak ke dalam situs. Dia takjub melihat makam berbentuk kotak yang panjang, yang ajaibnya di tengah makam atau peti mati itu terdapat sebuah tunas pohon yang berwarna hijau. Kontras sekali warnanya dengan warna makam yang abu-abu.

Ketika mendekat, Terex samantha meledak. Dia menjerit saat Terex yang berbentuk jam berubah bentuknya menjadi cahaya diagonal mengelilingi peti mati dan memancarkan sinar merah ke arah tunas yang tiba-tiba saja layu berubah wujud menjadi sesosok wanita.

***

Jones merasa ada masalah. Dia mendengar suara ledakan dari kejauhan. Dan cahaya kuning tiba-tiba berpendar dari langit. Kilatan-kilatan cahaya dari langit menghujam bumi bagaikan meteor-meteor ke arah Samantha terakhir berada. Jones mempercepat langkahnya karena merasa ada yang tidak beres.

***

“Siapa kamu?” tanya Samantha ke arah perempuan yang terjebak cahaya Terex.

“Aku Gaia, manusia. Kenapa kalian membangkitkan diriku lagi? Apakah tanaman-tanaman yang kalian tanam di bumi sudah hancur akibat ulah kalian sendiri?” kata wanita cantik yang seluruh tubuhnya dilapisi oleh dedaunan. Samantha makin bingung.

Gaia? Ibu bumi? Bagaimana mungkin mitos yang biasa dia baca di buku-buku dongeng sekarang ada di depannya.

Gaia berusaha keluar dari cahaya kuning yang mengelilingi dirinya, tapi tidak bisa. dirinya bagai dikurung.

“Siapa yang melakukan semua ini padaku? Wahai manusia, kau tahu?”

“A-aku… sebenarnya kami ke sini atas perintah dari bangsa Orh.”

“Orh?”

“Ya… Orh. mereka berasal dari planet Dealozaa. Mereka membantu kami, dan kini giliran kami membantu mereka dengan mencari sumber daya di bumi yang bisa menolong mereka…”

“Kalian manusia malah menolong para bangsa langit? Astaga roda takdir sudah berputar sedemikian cepatnya. Sudah lama kami para penjaga bumi menentang kekuasaan langit sejak dulu. Kini kalian malah membantunya? Demi para penjaga bumi yang lain, betapa cerobohnya kalian…”

“Tunggu dulu. Kami tidak ceroboh. Kami membalas bantuan mereka setelah mereka membantu kami. Saling tolong menolong.”

“Tapi sudah ada perjanjian, kalau kalian tidak boleh menerima apapun dari bangsa langit. Ohh… apakah leluhur kalian tidak menceritakan kisah-kisah tentang kami…”

Belum Samantha menjawab, sebuah ledakan keras meledak dibelakangnya. Dia terkejut saat bangsa Orh keluar dari kumpulan asap yang dibuat oleh ledakan bangsa Orh tadi. Bangsa Orh kemudian mengeliling Gaia. Mengucapkan bahasa aneh dan sebuah cahaya merah keluar dari tangan mereka yang membuat Gaia menjerit kesakitan.

“Tunggu apa yang kalian lakukan!” teriak Samantha yang pilu mendengar Gaia menjerit. Seketika itu juga bumi bergetar dengan kencang.

“SAMANTHA!” teriak Jones.

“Jones!”

Jones berhasil menemukan Samantha yang berusaha menghindar dari batu-batu situs yang berjatuhan sementara bangsa Orh masih mengeluarkan cahaya merah.

“Kau tak apa? Ada apa ini? Mereka sudah menemukan apa yang mereka cari.”

“Kau harus mencegah bangsa Orh menyerang Gaia, Jones!”

“Gaia?”

Samantha lalu menunjuk ke arah Gaia yang menjerit. Semakin keras jeritannya semakin hebat bumi berguncang. Jones paham maksud Samantha, dia lalu menghalau bangsa Orh mengeluarkan cahaya merah itu lagi. Hal itu juga dilakukan Samantha. Tapi percuma mereka tidak bisa mencegah.

“Manusia… lihat perbuatan kalian. Aku tidak bisa menolong kalian lagi. Ini akibat kalian menerima bantuan dari bangsa langit. Jika mereka mengambil kekuatanku maka… bumi akan musnah. Sejarah dan kehidupan kalian akan hilang bersama hilangnya diriku.”

“T-tunggu apa maksudmu?” tanya Jones tak percaya.

“Lihat manusia… ini akibat keteledoran kalian…” Cahaya terang keluar dari tempat Gaia. Cahaya yang menyilaukan Samantha dan Jones yang membuat mereka seakan buta dan tidak ingat apa-apa lagi.

***

Jones terbangun dengan Samantha di sisinya.

“Hey…” sapa Samantha. Dia memakai baju yang aneh. Seperti bangsa Orh.

“Hei… di-di mana kita?” kata Jones yang masih merasa pusing.

“Planet Dealozaa.”

“Maksudmu?” Jones bingung dengan perkataan Samantha. Samantha lalu menunjuk pakaian yang dipakai Jones. Pakaian bangsa Orh.

“La-lalu apa yang terjadi pada bumi?” tanya Jones yang masih heran. Dia berharap ini mimpi.

“Sudah tidak ada. Mereka mengajak kita ke planet mereka. Ayo keluar dan temui teman-teman ilmuwan kita yang lain…”

Samantha menggandeng Jones. Planet Dealoza berbeda dengan planet bumi. Di sini awannya berwarna biru kegelapan. Dan ada beberapa bulatan yang terlihat di angkasa. Bahkan tanpa sadar Jones bisa bernapas.

“Mereka sudah menyeting kita menjadi salah satu dari mereka. Kita menjadi bangsa Orh,” kata Samantha melihat Jones penasaran kenapa dirinya bisa bernafas.

“Apa maksudmu?”

“Kita diselamatkan mereka Jones. Mereka mengambil Gaia, ibu bumi kita untuk menjadi ibu bumi bagi mereka. Lihatlah pohon yang besar itu…”

Jones melihat pohon besar di kejauhan yang dikeliling oleh cahaya kuning.

“Mereka menamainya Yggdrasil, pohon kehidupan… mereka membuat kehidupan baru untuk manusia di sini. Kata mereka bumi sudah tidak layak.”

“T-tapi di mana manusia lain?”

“Hanya kita dan team ilmuwan…” Samantha memandang pohon Yggdrasil sambil menghirup udara segar di sekililingnya.

“Terima kenyataan Jones. Aku awalnya tidak percaya… tapi aku yakin ini sebuah awal yang baru…”

“Awal yang baru?”

“Ya… untuk kelangsungan hidup manusia…”*


Cerpen Duet Fantasy. Terbit on Majalah Story Edisi 41/Th. IV/25 Januari – 24 Februari 2013

Posting Komentar

0 Komentar