Oleh Pilo Poly - Winona Akilakanya
Seorang Nagian berdiri di atas Bukit Penyesalan sambil melihat peperangan antara beberapa sekte yang bukan berasal dari kaumnya. Nara, Camo, Raygain dan Erra terus berperang merebut kekuasaan di depan pintu suci Legion. Suara dentingan pedang terdengar jelas ke atas bukit. Sinar-sinar silau dari pedang yang dihasilkan sinar matahari menusuk mata mereka.
“Sangat disayangkan peperangan ini harus terjadi,” kata seorang Nagian lain sambil menancapkan tombaknya ke atas Bukit Penyesalan. Dia adalah tetua sekte yang berumur lebih dari 5000 tahun. Mereka yang berasal dari Sekte Nagian memanggilnya dengan sebutan Xeor.
“Aku juga tidak mengerti dengan mereka. Apa sebenarnya yang diperangi sekte-sekte itu. Mungkinkah perihal perluasan tanah?” Xian Po menjawab keheranan Xeor. Kali ini mereka bersama-sama menyaksikan peperangan yang sudah berlangsung puluhan tahun tanpa satu pun kemenangan, hanya kematian yang menjemput mereka.
“Padahal tanah di semenanjung selatan dan karimud tenggara telah kita lepas untuk mereka.” Sambung Xeor sambil menatap empat sekte yang tak pernah damai itu.
“Mungkin kita bisa menyatukan mereka lagi,” ucap dua orang dari sekte Lagos bersamaan yang datang secara tiba-tiba di belakang mereka. Mereka adalah pemimpin-pemimpin Sekte Lagos yang berasal dari ras manusia. Sedangkan Nagian adalah ras spesial. Dimana setiap sel darah mereka berwarna putih. Mereka adalah campuran bumi dan langit. Sekte Nagian adalah “Priest” penyelamat bagi korban peperangan.
“Hai, Kio dan Lora. Apa kabar kalian? Sudah sangat lama kita tidak berdiri bersama melihat peperangan seperti ini, ya.” Sambil menepuk bahu Kio, Xeor merapatkan dirinya seraya menjabat erat tangan mereka berdua. Xian Po ikut serta, senyum lebar dikirimnya saat mata Kio menembus lembut ke arahnya. Begitu juga Lora, keturunan kedua yang baru memasuki umur 30 tahun itu. Sedangkan Xian umurnya sudah 3000 tahun. Sangat beda dengan ras manusia.
Selagi mereka bercengkrama di atas bukit. Sebuah panah melesat ke arah mereka. Xeor, Xian, Kio dan Lora sama-sama kaget. Hampir saja anak panah itu mengenai tetua Nagian, jika anak panah itu tidak ditangkap dengan gigi oleh Lora. Mata Lora tajam bak elang. Dan ditatapnya dalam-dalam kerumunan sekte di bawah bukit. Lalu ia berteriak lantang.
“SIAPA PEMILIK BUSUR INIII?! Apa yang kalian lakukan?! Kalian mau Adi Luhur marah?! Hentikan perang itu!” bentaknya sambil mematahkan anak panah yang terbuat dari baja, dengan pedang emas. Xian terpesona dengan Lora yang berasal dari ras manusia itu. Sedangkan Xeor pun merasa sangat bangga pada Lora.
Lalu Xeor memutar-mutar tombaknya di atas kepala. Muncullah sebuah lubang seperti air. Sambil membaca sesuatu, Xeor melihat gambaran seseorang yang sedang membidikkan anak panahnya ke arah mereka.
“Itu dari kaum Erra, si pemanah,” sebut Kio sambil mengeluarkan pedangnya. Kilauan emas persis mirip seperti pedang Lora. Tapi sangat berbeda. Pedang ini lebih besar. Gagangnya lebih panjang, juga bobotnya lebih berat. Serta merta membuat semua sekte terperangah. Mereka belum pernah melihat pedang seperti yang kini di pegang Kio. Dentingan pedang terhenti segera. Senyap.
Kaum Nagian tidak memiliki sifat dendam. Saat Kio ingin menebas salah satu kaum Erra karena hampir saja membunuh Xeor. Dengan lantang ia berkata. “Jangan ada lagi pertumpahan darah! Cukup sudah! Ini tidak ada keuntungan sedikit pun!”
Perang diantara empat sekte itu pun usai. Setiap sekte duduk membungkuk mengarah ke atas bukit. Sekte Nara, mereka adalah perpaduan naga hijau. Jika mentari meninggi pertanda senja datang Nara akan berubah menjadi Naga.
Camo, sekte paling buruk rupa, mereka seperti orang yang terkutuk, bau seluruh badan mereka sangat kental. Mereka adalah perpaduan antara kemurkaan dan dendam.
Raygain, sekte ini termasuk disegani dan ditakuti dengan segala macam sihir yang mereka punya. Seluruh sekte pun tak pernah mau bersahabat dengan mereka.
Erra, mereka adalah suku pemanah. Bisa berubah menjadi kuda sambil melepaskan busur mereka.
Nagian adalah sekte yang sangat dihormati kebanyakan sekte setelah Lagos. Tidak ada yang lebih berani menantang mereka. Kecuali antara Nagian dan Lagos. Peperangan antara Nagian dan Lagos telah terjadi dahulu kala. Dimana Sang Adi Luhur murka. Lalu mengirimkan beberapa sekte ke daratan untuk menumpas semua keburukan kedua sekte. Tapi malah kebalikannya. Mereka bersatu dalam peperangan itu. Mereka menganggap bahwa sekte-sekte baru yang hadir adalah musuh. Sehingga hadirlah sekte-sekte baru seperti Nara, Camo, Raygian dan Erra.
***
Darah Di Perbatasan
Tidak disangka. Beberapa sekte melakukan kudeta. Nara, Camo, dan Raygian. Mereka berkudeta ingin menjatuhkan kekuasaan Lagos di timur Mumeira. Berbeda dengan sekte Erra. Mereka tidak bisa mengingkari janji. Karena telah diberi ampunan oleh Xeor atas kejadian di pintu suci yang hampir saja membunuh tetua sekte, akhirnya sekte Erra mengabdikan diri pada kerajaan Nagian di ujung barat Ignatia Maria.
Xime mememacu kudanya melintasi bukit Harau untuk mengantarkan surat dari Xeor untuk pemimpin Lagos yang berbatasan dengan Padang Totai. Tinggal sehari berkuda lagi, dia akan sampai di Negeri manusia. Tanpa disadarinya, Xian Po mengikutinya diantara debu hutan dan dinginnya malam atas perintah Xeor sebagai pengawal banyangan. Xian Po memacu kudanya tanpa terlihat. Bahkan Xime sekali pun.
Tanda-tanda pergerakan dirasakan Xian Po. Ia melihat beberapa ketidakberesan di perbatasan Totai dengan telepati instingnya. Tanpa menunggu lama ia mengirimkan satu buah sinyal biru ke udara dengan ujung tombaknya. Tak lama kemudian. Kekhawatirannya terjawab sudah. Ribuan anak panah mendarat tepat di jantung Xime sebelum ia sampai di pintu perbatasan lagos. Bayang-bayang hitam sekte Raygian terlihat jelas diantara hamparan malam, juga dengan sekte Erra. “Apa yang terjadi?” Gumam Xian Po.
***
Xeor melihat ke udara. Ada warna biru di atas sana. Itu adalah tanda dari Xian. Tanda bahaya yang telah lama tak terlihat. Itu menandakan sesuatu telah terjadi. Tangannya reflek, lantas dengan sendiri memukulkan beberapa tanda agar semua Nagian berkumpul di altar upacara. Tongkat kecil itu di putarnya lagi. Mencari titik dimana Xian berada. Apa yang telah terjadi.
“Bukit Harau, berbatasan dengan Totai, satu malam lagi perjalanan akan sampai di gerbang Lagos. Kerahkan pasukan kesana secepatnya. Xian Po perlu bantuan,” ucap Xoer. Serta merta perintah itu dilakukan oleh Nagian-Nagian lain. Xeor pun segera merapatkan diri di baris terdepan.
***
Xeor dan para Nagian lain akhirnya tiba di perbatasan bukit Harau. Bekas-bekas serangan malam itu masih terlihat. Anak panah bertancapan kuat di tanah, juga di pepohonan. Xeor memerintahkan para Nagian untuk memeriksa daerah tersebut. Tiba-tiba terdengar siulan nyaring yang lantas menarik perhatian Xeor.
Ternyata siulan itu berasal dari Xian Po, yang sedang bersembunyi di atas sebatang pohon. Dia melompat turun, kemudian menghampiri Xeor sambil menarik kudanya yang dia sembunyikan di balik semak-semak.
“Bagaimana?” tanya Xeor.
Xian menceritakan dengan suara pelan. Tentang Xime, anak-anak panah yang membunuhnya, dan tentang bayangan seorang penunggang kuda yang bermandikan cahaya bulan. Tadi sempat dilihatnya sekilas setelah anak-anak panah tersebut berjatuhan, sebelum menghilang kedalam kegelapan malam.
“Selain itu lihatlah yang aku temukan.” Ujar Xian sambil menyodorkan sebuah kalung emas bermata intan. Ditengah-tengah intan itu terukir sebuah huruf “E”. Simbol bangsawan dari kaum Erra.
“Astaga.” Bisik Xeor. Matanya membelalak terkejut. “Tidak mungkin. Mereka tidak akan bisa mengingkari sumpah kuno.” Saat itu bangsa Erra melakukan sumpah darah di depan pintu suci Legion, dan di saksikan sekte Lagos untuk tidak pernah melawan Ras Nagian. Jika hal itu dilanggar maka bangsa Erra akan dimusnahkan oleh Kio dan Lora.
“Panggilah Sekte Erra kemari. Ada yang perlu dirundingkan.” Perintah Xeor kepada salah seorang Nagian. Nagian itu mengangguk hormat sebelum berderap pergi. Setelah beberapa jam, dia kembali membawa beberapa perwakilan dari Sekte Erra.
“Jelaskan.” Ujar Xeor sambil memperlihatkan anak-anak panah tersebut. “Anak-anak panah ini adalah anak panah yang biasa dipakai oleh Ras Erra.”
Pemimpin Erra mengambil barang-barang tersebut, kemudian menelitinya. Setelah beberapa saat penuh keheningan, dia menggeleng dan berkata, “Anak panah ini memang biasa digunakan dalam ras kami, tapi saya yakin bukan kaum kami yang menyerang Tuan Xime”
Xeor hanya diam, memandang pemimpin Erra tersebut dengan tatapan dingin. “Benarkah?” tanyanya dengan suara menusuk seperti es. Pemimpin Erra tersebut seperti mematung, diam tidak bergerak! Walaupun semua orang bisa melihat sorot matanya yang ketakutan dan kesakitan.
“Ini bukan busur kami, Xeor!!” seru seorang dari sekte Erra.
“Kami telah mengabdi padamu dengan sumpah darah. Tidak mungkin kami berkhianat. Karena itu akan membunuh sekte kami dengan sendirinya,” sambung Erra yang lain menyakinkan Xeor.
Setelah Xeor diyakinkan kaum Erra bahwa busur-busur yang dilepaskan di perbatasan Bukit Harau bukan milik mereka tabuh perang pun bergenderang.
***
Sudah bertahun-tahun tidak diadakan pertemuan sekte sebesar ini, sejak perjanjian yang dibuat antara kaum Lagos dan Nagian dengan sekte-sekte lainnya. Semua anggota sekte, termasuk anak-anak mereka juga hadir. Para Nagian yang memanggil mereka. Beberapa Lagos dan Nagian berpatroli di tempat pertemuan, untuk berjaga-jaga. Tapi walaupun begitu, anehnya udara berbau kecemasan.
Xeor berdiri di atas bukit, menghadap seluruh sekte yang berkumpul di bawah mereka. Xian Po berdiri di sebelahnya, sambil sekali-sekali melirik wajahnya. Dia tampak khawatir, tapi Xeor menyembunyikannya dengan baik. Tepat ketika matahari terbenam dan langit gelap, Xeor berdiri.
“Kita berkumpul di sini untuk memerbaharui pernjanjian kita, dan mengungkapkan kebenaran. Beberapa hari lalu Xime terbunuh.” Terdengar seruan-seruan terkejut.
“Oleh anak-anak panah kaum Erra. Masalahnya tidak ada satu pun kaum Erra yang mengakuinya. Maka sekarang dihadapan seluruh ras, kami minta kalian mengaku.”
Suara-suara protes memenuhi lapangan. “Diam. Kami tahu kalian berbohong. Bisakah kalian menjelaskan ini?” seru Xeor sambil menunjukkan kalung yang ditemukan Xian. Kalung itu berkilau memantulkan cahaya obor.
“Ini kalung bangsawan Erra. Nah, bukti ini sudah cukup untuk kami. Sekarang apa pembelaan kalian?”
Hening. Hanya terdengar suara napas yang tertahan. Setelah beberapa saat, akhirnya salah satu kaum Erra maju. Dia adalah Ratu Arya, penguasa kaum Erra.
“Ya, memang kami yang menyerang Xime. Kami butuh tempat yang lebih luas. Anda lihat kan, populasi kami meningkat dengan pesat. Tanah yang ada saat ini sudah tidak bisa menghidupi kami lagi. Awalnya kami mencoba merebutnya dari sekte-sekte lain. Tetapi kemudian kami semua melihat, kalau Lagos dan Nagian lah yang mendapat tempat paling luas. Maka kami berniat untuk menghancurkan kalian semua.” Ujar Arya, kemudian dia mencabut busurnya. Serentak seluruh sekte mengikutinya, kecuali Lagos dan Nagian yang merupakan sekutu.
“Tidak bisakah kita rundingkan secara damai?” seru Xeor. Dia juga mengeluarkan senjatanya. Begitu juga kaum Lagos dan Nagian lainnya.
“Tidak, kami sudah menunggu begitu lama.” Jawab Arya keras, dan dengan ditiupnya terompet dari bangsa Erra, pertempuran dimulai.
Pertempuran itu sangat imbang. Pihak lawan memang terdiri dari berbagai sekte, tetapi Lagos dan Nagian sangat kuat sehingga mampu menahan mereka. Apalagi kaum Nagian memiliki ilmu penyembuhan, dan sihir pembangkitan. Sehingga yang kalah bisa dibangkitkan kembali, dan yang terluka disembuhkan. Tetapi ada beberapa kematian yang tidak bisa pulih. Mati karena racun, dan karena hancurnya jantung tidak bisa dibangkitkan. Xian Po, sayangnya terkena anak panah yang menusuk tepat di jantungnya. Itu adalah kematian pertama yang dialami kaum Nagian.
Sempat terjadi hal yang mengkhawatirkan. Suatu malam seorang Camo tertangkap sedang berkeliaran di antara tenda-tenda Nagian. Sebelum dia sempat ditanya-tanyai, tersiar kabar bahwa Xeor dan pemimpin kaum Lagos, Kio sakit parah akibat racun. Seluruh kaum Nagian mencoba mencari obat penyembuhnya, tetapi gagal. Sementara para Lagos menginterograsi Camo yang tertangkap itu. Awalnya dia menolak berbicara. Kaum Nagian dan Lagos sangat cemas, karena kondisi kedua pemimpin mereka yang melemah. Tepat disaat Xeor dan Kio dalam masa kritis, Camo itu akhirnya mau memberitahu penawarnya dengan jaminan kebebasannya, yang ternyata adalah madu. Maka Xeor dan Kio berhasil diselamatkan.
Setelah berhari-hari, kemenangan Nagian dan Lagos terlihat. Kaum Erra, Camo, Nara, dan Raygian semakin berkurang karena banyaknya kematian yang mereka alami. Sedangkan kaum Lagos dan Nagian tetap utuh karena kemampuan Nagian yang sangat berguna. Akhirnya pada hari ketujuh, Arya menyerah.
“Kami menyerah Xeor. Ras kami menderita. Begitu juga dengan Camo, Nara, dan Raygian. Kami pasrah akan hukuman kami.” Ujar Arya dengan wajah hampa.
Xeor terdiam sejenak. Kemudian dia berdiri dan berjalan ke hadapan Arya yang sedang berlutut. Kemudian dengan ramah dia berkata, “Bangunlah saudara. Kau sudah mengakui kekalahan dan kesalahanmu. Itu cukup bagiku. Kau akan mendapat tanah yang diinginkan, begitu juga dengan Camo, Nara, dan Raygian.” Sambil mengulurkan tangannya.
Arya sangat terkejut, tapi kemudian dia menerima tangan Xeor dan bangkit berdiri. Kaum Lagos dan Nagian tersenyum ramah kepada Arya. “Terima kasih banyak…” bisiknya.
Maka kaum Nagian kemudian membantu Arya, mengirim penyembuh untuk memulihkan ras Erra dan ras-ras lainnya. Sejak saat itu kedamaian tidak pernah terusik lagi, tidak ada yang mau menentang kebaikan kaum Nagian. Maka Negeri Nagian pun aman selama-lamamanya.*
Cerpen Duet Fantasy ini Di muat di Majalah Story Edisi 33/25 April/2012

0 Komentar