Subuh Luruh
Berdentang tajam
Suara gerak itu
Dalam tambur telinga
Memekik tak henti
Aku duga itu surga
Namun nyatanya
Lain makna
Entahlah ...
Subuh ini aku luruh
Dalam gemerlap kota
Karena semalam
Cinta yang kuraih terlepas sudah
Ia mengkayuh sampan hatiku
Tak berpulang kesebenarnya muara
Puri Gading, 26/04/12
Suara Cinta
Ingin kucerna suara angin
Maksud apa yang terbawa
Masa lalu atau di sini putarannya
Aku meringkuk kedinginan
Sedangkan hadirnya
Membuncah rindu yang bertali di hatiku
Oh ...
Raja segala cinta
Ijinkan aku menyulap gundah
Merajut kisah yang dulu merekah
Puri Gading, 26/04/12
Surat Langit
Tahukah kau tentang asmara langit
Yang mengalun bersamaan
Saat mendung menyulam
Ada tabuhan berkerjaran
Itu surat langit
Yang tak pernah lelah
Hanya memberi
Tak ingin dibalas
Dan itu anugerah hujan
Atau pun genderang lafaz Astaghfirullah
Yang tak sadar kita sebutkan
Setiap genderang itu gagahi alam
Puri Gading, 26/04/12
Memori Lirih
Telah kukabarkan pada malam kemarin
Agar kenangan itu tak datang malam ini
Tapi harap menggunung sudah
Cemas tertuai tuntas
Belum juga aku mengerti
Saat hati merintih perih
Selalu saja butiran mutiara tumpah
Menapaki kulit wajah
Kadang pun aku bertanya pada malam yang lalu itu
Kenapa perjumpaan harus bersalam manis
Yang akhirnya membuat langit mataku gerimis
Dan malam ini terulang lagi memori lirih
Puri Gading, 26/04/2012
Terbit di Tabloid Gaul Edisi 24 Tahun XI 18-24 Juni 2012
