PETANG ITU
Petang itu
senja malu menampakkan siluetnya
sambil mengapit langkah, kau tinggalkan lelah
mengikat candaan di depan mataku dengan bibirmu
Petang itu sampai seterusnya
engkau mengajakku melihat awan berarak
kita bergamit, mata dan langkah telah kita buang
pada lari-lari panjang, hingga lahir kenangan
dan ketika aku sadar, selampi petang dan searak awan
hanyalah masa yang melupakan alamat pulangnya
seperti karat di engsel pintu yang tak lagi berdenyit
lantaran penghuni telah beranjak jarak
meninggalkan kesepian sebagai tuan rumah yang tak ramah
aku telah terjatuh pada rindu yang dulu pernah singgah
Puri Gading, 2012
SUSU DALAM TV
Anak-anak kecil dalam televisi, menawarkan susu siap jadi
anak-anak kecil di pinggir kali, tengah cemas meracik mimpi
susu yang dilihatnya dalam tv, mimpi tak terbeli
ibunya sudah mati, ayahnya kawin lagi
jalanan adalah ibu tiri
katanya pada diri
setiap malam, ia bayang-bayang lagi susu di tv
ia kembali bermimpi, di sudut trotoar
suara orang-orang, gitar, dan motor
mungkin bisa membawanya pada mimpi
mimpi membeli susu dalam tv
Puri Gading, 2012
UJUNG KE UJUNG
pagi ini, angin telah gugur, tak lagi tampak ujung ke ujung.
sedangkan hujan, telah mengobati tanah yang retak,
meluapkan harap-harap. hanyut bersama daun-daun,
menikung tanpa aturan, merapat hingga diam.
di atasnya, berenanglah aku tak sampai-sampai
tepi telah jauh, sauh habis ditelan.
dan angin, tetap tak tampak ujung ke ujung,
aku pun diam dalam-dalam.
dalam diam, pelan, dan dalam
kuambil setiap kenangan yang tenang
kutanggalkan cemas dan gemas
sampai akhirnya, apa yang telah kularung
memang harus tuntas
Puri Gading, 2012
Terbit 13 Juni 2013
