Oleh Pilo Poly – Ninuk Anggasari
“Mama…” Airmataku mengalir deras begitu Mama menarik tanganku melewati pintu bandara.
Mama tak peduli. Sambil menarik sebuah koper sedang, mama terus mengapitku supaya berjalan lebih dekat. Aku seperti anak ayam. Tak berkutik. Tak bisa lagi menolak takdir yang diciptakan Mama dengan negosiasi seperti biasa. Pedih. Aku tak bisa melihat jalan di depanku dengan benar karena terhalang air mata.
“Aku ada janji dengan Elang,” kataku sambil terisak. “Aku ada janji dengan Elang.”
Mama tak acuh. Sudah tiga puluh delapan kali aku mengucapkan kalimat senada tanpa bisa berhenti menangis. Beberapa pasang mata yang kebetulan melihat kami menatap curiga pada Mama. Mungkin mengira aku ini korban penculikan atau semacamnya. Tapi toh aku tak berteriak minta tolong. Dan orang-orang itu, tak mungkin benar-benar peduli kalaupun aku menjerit dan minta Mama berhenti menarik paksa aku saat ini juga.
***
“Elang memang sudah punya pacar kok,” kata Alisa kemarin pagi. “Kamu tahu Mbak Debrina, yang mirip Laura Besuki? Iya, dia. Elang pacaran dengan dia.”
Aku menelan ludah. Kuremas ujung rok abu-abuku sambil berusaha tersenyum manis. Elang yang memberiku payung ketika kami sama-sama basah di musim hujan yang lalu. Elang yang membentakku ketika tanpa sengaja aku menginjak kertas gambarnya. Elang yang sama, yang sudah kucintai sejak lama.
“Hujannya deras sekali. Apa yang kamu tunggu?” Elang tak tahu aku sedang menggigil.
Kurasa aku bisa mendengar degup jantungku sendiri ketika tahu-tahu Elang berdiri dekat sekali di dekatku. Aku merasakan perbedaan ketika tak ada lagi tetes air yang membasahiku. Rupanya Elang memegang payung. Menaungi kami berdua dari hujan deras yang sedari tadi menusuk tajam kulit wajahku.
Lalu sebuah tangan yang hangat menggenggam telapak tangan kiriku. Elang. Dia menarikku berjalan sambil tetap menggenggam payung dengan tangan kirinya. Kami menuju halte tua di seberang jalan. Aku tidak berontak. Kunikmati desir yang mengiringi kecipak langkah kami di jalanan yang nyaris membanjir.
“Sesekali mungkin kamu perlu menikmati hujan. Tapi secukupnya saja, Kinan. Kamu akan sakit jika terlalu lama kedinginan.”
Kami bergabung dengan belasan orang yang pakaiannya masih kering. Kubayangkan mereka sudah berada di sini sejak satu jam terakhir. Sementara aku, aku berjalan dengan tatapan kosong di bawah hujan sampai kuyup. Hidungku memerah. Kulit tanganku agak pucat dan rasanya nyaris mati rasa karena kedinginan.
Aku membiarkan Elang membuka jaketnya dan menyelimutkannya padaku. Seketika aku merasa hangat. Sekali lagi hatiku berdesir. Sebuah hawa panas menjalar dari hati menuju otakku. Menuju kantung air mata lalu mengalirkan air hangat itu ke pipiku. Aku menangis. Tapi segera kuusap supaya Elang tak sempat melihatnya.
“Seperti Desember tahun lalu ya,” gumamku sambil tersenyum miris. Aku menolehkan kepala untuk melihat Elang. Tetapi dia menatap lurus kedepan. Wajahnya sangat tenang.
“Mengenang masa lalu memang indah. Tapi jangan terlalu larut. Kamu punya banyak hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan,” nasihatnya lagi.
Pedih. Kupejamkan mataku supaya tak mengeluarkan air mata lagi. Elang tahu benar apa yang kubicarakan. Tentang hari itu. Ketika pertama kali dia menggandeng tanganku padahal sebelumnya kami selalu berselisih pendapat. Pertama kali dia memberikan payungnya pada perempuan, katanya. Padahal di kelas kami selalu bertengkar dan tak pernah berhenti saling hujat. Sudah setahun, sejak aku jatuh hati pada kelembutan hati Elang di balik sosoknya yang dingin dan kejam.
“Aku agak kaget tahu kamu punya pacar, maksudku.. yah, orang seperti Elang mana bisa jatuh cinta, kupikir. Hahaha..” aku tertawa, sedapat mungkin berusaha agar terlihat sedang melawak.
Dia tersenyum. Lagi-lagi tenang dan lembut sekali.
“Mbak Debrina memang cantik. Boleh juga selera kamu. Meskipun lebih tua, tapi dia masih terlihat imut. Periang, lagi. Ya, kan? Seimbang sekali dengan kamu yang kalem dan pendiam. Mungkin dia bisa mewakilkan kamu memesankan baso tanpa seledri kalau kalian sedang makan. Atau membungkuskan es jeruk dan mengantarnya ke kursi beton di taman perpus ketika kamu sedang haus tapi malas jalan ke kantin. Atau juga….”
“Kamu kenapa, Kinan?” Elang memotong racauanku.
Aku tercekat. Kutarik nafasku dalam-dalam tanpa menatap kearahnya lagi. Aku sedang membicarakan diriku sendiri. Bukan Debrina yang bahkan tak pernah kukenal langsung kecuali dari pembicaraan Alisa dan Egisti.
“Maaf.. aku terlalu banyak meracau akhir-akhir ini,” desisku sambil tertawa ganjil. Tanpa sadar mataku kembali memburam. Rasa sesak yang tak asing kembali menghimpit rongga dadaku.
“Kinan…” Elang menyentuh lembut ujung kepalaku, membuat aliran hangat ajaib yang mengalir ke sekujur tubuhku.
Sedetik, aku bersitatap dengan mata sejuknya yang luar biasa. Kemudian tanpa sadar aku menubruknya. Kudekap, kubenamkan kepalaku di dadanya yang hangat karena memang sama sekali belum tersentuh percikan hujan. Aku tidak peduli pemuda dengan dada bidang ini sekarang adalah milik Debrina. Aku tidak peduli apa yang akan dipikirkannya ketika nanti pelukan ini kulepaskan. Yang kutahu, aku merindukannya. Jauh dari rindu lebat manapun yang pernah kupelihara dan kubiarkan liar merajalela.
“Mungkin kamu hanya lelah, butuh refreshing?” ujar Elang, suaranya terdengar ringan. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Besok, seharian.”
Aku mengusap air mataku sambil melepaskan diri dari dekapan Elang.
“Besok?”
“Ya, besok. Naik bianglala, jet coaster, masuk rumah hantu, seperti yang pernah kita lakukan dulu.” Dia tersenyum sambil menaikkan alisnya.
Aku tertawa kecil. Kuusap pipi dan bagian bawah kedua mataku sambil memandangi jalan yang masih diguyur hujan.
“Berdua?” dalam hati aku menambahkan, jangan-jangan dengan Debrina juga?
“Dulu kita berdua, tentu saja besok juga berdua.”
Aku tersenyum, terlebih ketika sebelah tanganku digenggam hangat olehnya. Ketika aku menoleh, Elang berpura-pura cuek. Sambil mempererat genggamannya, dia menatap lurus ke depan. Seulas senyum kulihat terbentuk di bibirnya.
***
“Mama, please, stop…” aku memohon lagi. Mataku memerah akibat terlalu banyak menangis.
Orang-orang di bandara menatap ke arah kami dengan tatapan aneh untuk kesekian kalinya. Aku sendiri tidak mengerti apa yang Mama lakukan di sini. Mama berjalan ke arah check in pesawat. Padahal sebelumnya aku telah bersiap-siap menuju halte tua sesuai janjiku dengan Elang.
“Ma, kita mau kemana?” Tanyaku gugup. Peluh mengalir tanpa henti. Padahal ruangan ini dilengkapi dengan AC.
“Kamu harus sadar, Kinan!” Mama kembali menggengam tanganku, kali ini kulihat dari arah pintu masuk keberangkatan pesawat seseorang yang tidak asing. Mang Irfan! Supir keluarga kami itu melambaikan tanggannya ke arah Mama. Di tangannya tergenggam tas Gucci hitam milik mama. Barangkali tertinggal, atau barangkali mama memang menugaskan Mang Irfan untuk membawakannya.
“Ini Bu, sudah saya letakkan di dalam semua.” suara Mang Irfan menggema diantara kesibukan di bandara. Sementara Mama belum juga melepaskan genggaman tangannya. Seolah aku penjahat yang akan dimasukan ke dalam bui.
“Terimakasih, Mang, cuma Mamang yang selalu bisa saya andalkan.”
Aku mengerutkan dahi. Meskipun selama ini Mama selalu sibuk bicara soal bisnis yang tak kumengerti, tapi kutebak pembicaraannya kali ini ada hubungannya denganku. Kuperhatikan betapa tergesa-gesanya Mama ketika mengambil tasnya dari tangan Mang Irfan.
“Mama?” panggilku.
Mama tersentak. Tas yang dipegangnya terjatuh, membuat beberapa isinya berserakan. Dengan panik Mama dan Mang Irfan membereskannya. Sementara aku bergeming. Benda yang dimasukkan Mang Irfan ke dalam tas Mama, aku telah melihatnya. Aku melihat semuanya. Belasan lembar foto-foto yang tak asing bagiku berceceran di lantai.
Aku berjongkok. Meraih selembar foto yang tercecer di dekat kakiku. Selembar itu saja, kugenggam erat-erat. Itu foto seorang cowok berkacamata memakai bandana merah. Disampingnya berdiri seorang cewek memakai pakaian putih abu-abu. Itu foto Elang. Bersamaku.
“Apa ini, Ma? Mama membuntuti Kinan dan Elang?”
Mama diam. Mang Irfan membisu. Petugas bandara melihat secara bergantian ke arah kami.
“Nak…”
Aku gugup. Tanganku bergetar. Kutatap Mama dan Mang Irfan bergantian. “Ini ada apa, Ma? Jangan bilang Mama ingin mengajakku pergi gara-gara Mama tidak suka pada Elang?” Aku menyeringai putus asa. “Mama lucu. Apa Mama sedang ingin bertindak seperti di sinetron-sinetron? Ayolah, Ma.. Bahkan Kinan dan Elang tidak pacaran!” aku histeris.
Mama menghela nafas, lalu meraih bahuku. “Tapi kamu mencintainya, kan? Elang itu… kamu mencintainya, kan?”
Aku menutup wajahku sembari menangis keras-keras. Aku tidak mengerti Mama. Sampai kapanpun aku tidak pernah mengerti. Kalau apa yang Mama lakukan (membawaku pergi dari Bandung) hanya untuk menjauhkan aku dari Elang, tidakkah itu sangat kekanak-kanakan? Apa salahku hingga untuk jalan-jalan dengan Elang saja tidak diperkenankan?
“Jangan kira Mama melarangmu jatuh cinta. Boleh, Nak.. Tentu saja boleh…” Kurasakan Mama mengusap kepalaku, lalu mendekapku ke pelukannya. “Tapi jangan dengan Elang, sayang…”
Isakanku terhenti. Kuusap wajahku dengan bagian kain jaket di lenganku. “Maksud Mama?”
“Kamu ingat Antonio Pranata? Saudara tirimu yang sekarang tinggal dengan Papa?”
Aku mengangguk. Perasaanku tidak enak.
“Dia Elang, sayang.. Elang itu, saudara tirimu..”
Aku menggigil lagi. Tanpa sadar kurasakan tubuhku terkulai lemas. Sempat kudengar mama menjerit dan mengguncang tubuhku yang bersentuhan dengan lantai dingin. Kemudian aku tak ingat lagi. Semuanya gelap. Lebih gelap dari yang aku bayangkan.
***
“Kinan, bangun.. Ini aku, Elang,” sebuah suara samar-samar terdengar.
Aku belum percaya dengan kenyataan ini. Semburat pelangi mendadak hilang dari pandanganku. Tentang Elang yang sudah lama aku cintai, kini aku harus sadar akan semua kenyataan yang pahit ini.
“Maafkan aku, Kinan. Seharusnya aku cerita padamu. Meski aku sengaja memberitahu Alisa bahwa aku sudah punya pacar, tapi sebenarnya…” Elang menggenggam tanganku. Kulihat aliran sungai kecil dari binar matanya.
Aku masih terdiam, mengingat kembali kejadian indah dengan Elang. Ketika Elang memberiku payung di bawah rinai hujan. Ketika Elang marah gara-gara aku menginjak gambarnya, yang terakhir kutahu bahwa gambar itu gambar Mama. Aku berdesis sambil menggingit bibir, airmataku pun perlahan jatuh. Rupanya selama ini aku telah mencintai kakakku sendiri. Betapa bodohnya aku.
Tak lama berselang, kulihat dari arah jendela kamar rumah sakit Alisa melambaikan tangannya. Mama melemparkan senyum. Elang masih duduk di sisi kiriku sambil menggenggam erat tanganku. Kulihat dari sorot matanya. Seperti sebuah pesan yang ia ingin ucapkan. Tapi aku tak tahu apa makna dari pesan sorot matanya.
“Cepat sembuh ya, adik kecilku..” Elang bicara sambil mengacak rambutku.
Hatiku sesak. Kurasakan Elang menyeka airmata yang mengalir di pipiku tanpa terasa.
”Tidak usah menangis. Setelah kamu sembuh nanti kita jalan-jalan ya. Mama sudah kasih izin kok.”
Aku semakin terisak.
Cinta itu, seperti inikah? [tamat]
Terbit di Majalah Story edisi 46/Th. Iv/Juli 2013

0 Komentar