Identitas Ke-Acehan Muda Mudi Tanah Rencong


Untuk mengenalkan Aceh pada daerah luar, bukanlah hal yang terlalu sulit untuk kita lakukan. Apalagi Aceh dari dulukala telah dikenal dengan Ke-Islaman penghuninya. Dan hal itu terbukti dengan adanya Kerajaan pertama Islam yang berada di Perlak pada abad 840 M yang dipimpin oleh Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah, keturunan dari Meurah Perlak Syahir Nuwi atau Maharaja Po He La. (AcehPedia).

Dalam hal ini, penulis ingin mengajak kaulamuda Aceh untuk memperkenalkan kembali Aceh dengan memakai nama Ke-Acehannya seperti sebagaimana indatu-indatu urueng Aceh dulu kala memakai nama-nama tersebut. 

Sebutlah beberapa nama yang sering kita dengar seperti Dien, Keumalahayati, Beuluen, Bunthok, dan nama-nama lain yang sangat erat dan lekat dengan Aceh itu sendiri. Dengan begitu, kita sebagai putra-putri yang lahir di Tanah Rencong akan begitu mudah dikenal kembali oleh orang-orang luar saat kita merantau atau mendapatkan kerja di luar Aceh.

Alasan penulis ingin mengajak anak-anak Aceh untuk memperkenalkan Aceh dengan nama yang dipakainya lantaran penulis ingin agar identitas Ke-Acehan kita tidak pernah lekang seiring waktu. Sebagaimana indatu-indatu kita mempertahankan nama-nama tersebut. 

Lihat saja misalnya di Pulau Jawa, kita bisa langsung mengenal anak-anak di Pulau Jawa jika mereka memperkenalkan diri pada kita dan menyebutkan nama Prowoto, Susilo, dan Puji Asmoro. Begitu juga dengan Batak, Minang dan Ambon.

Jika dari suku Batak, maka akan kita baca nama marga diakhir nama mereka seperti Lubis, Hasudungan, Ritonga. Jika itu dari Minang, maka akan kita temukan beberapa nama mereka seperti Tan Malaka, Upiak, Talipuak, dan Sirancak.

 Begitu pun dengan Aceh. Sebenarnya kita banyak sekali nama-nama Ke-Acehan tersebut yang sudah jarang sekali dipakai pada anak-anak yang lahir di tanah ini. Anak-anak Aceh sekarang lebih terkenal dan akrab dengan kebanyakan nama-nama pemain sinetron. Tidak lagi seperti dulu kala saat Aceh begitu jaya. 

Sebagai contoh, lihat saja nama-nama anak lelaki yang diberikan oleh indatu-indatu ureung Aceh pada masa dulu kala seperti Nyak Gambang, Banta, Agam, Meurah, Keumari, Bentara, Bintang, Muda, Nanta, Prang, Raja, Seudang, Sabon, Teulot. 

Begitu pun dengan nama anak-anak perempuannya. Indatu ureung Aceh akan memilihkan nama anak-anak mereka seperti Baren, Baloet, Blet, Bueleun, Bunthok, Cahya, Dara, Inong, Intan, Inseun, Keumala atau Geumbala, Maneh, Meuligoe, Meulu, Meutia, Mirah, Beut, Putroe, dan Syakeubanda. 

Dan generasi kini, kemana kita buang nama-nama itu? Adakah terbesit diingatan kita bahwa bukan budaya dan adat saja yang indatu ureung Aceh pikirkan, tapi jauh dari itu. indatu urueng Aceh telah dengan seksama memilihkan nama-nama tersebut agar orang lain tahu bahwa saat kita menyebutkan nama Ke-Acehan kita, maka mereka akan tahu bahwa memang kita putra dari tanah Raja.

- See more at: http://www.atjehtoday.com/article.php?art_id=316#sthash.wPdXOiTX.dpuf