Terbit Di Radar Seni

Ilustrasi Google
Membaca Bahasa

Ketika kau datang pada malamku
Kau dan aku memang tahu
Kalau kita sedang merindu
Rindu membaca bahasa
Yang telah kita lupa

Kita selalu tersenyum
Seolah luka masa lalu
Adalah permata terindah
Yang pernah kita dapatkan

Padahal semua itu
Adalah jarum menusuk tajam
Pada setiap langkah
Dan perjalanan

Puri Gading, 2012




Secawan Bulan

Kita adalah secawan bulan
tergadai pada malam yang pura
karena bulan sebenarnya
telah bersembunyi di balik luka

kita selalu mengaduk-ngaduk janji
pada telinga yang lelah
tapi telinga itu tak membantah

mereka menganggap kita orang yang intelektual
penuh ilmu yang telah kita rengkuh dulu
di sepanjang perjalanan menuju tua
kita semakin tak menepati janji yang ikut menua

Puri Gading, 2012


Meniti

Sauhku telah patah
di laut tak berpasir
ke ujung pesisir
tak mungkin dzikir

adakah lorong ajaib
yang membawaku raib
hingga aku ini
habib

Owh segala rindu
akarmu menembus tanah hati
ingin segera berlari
meniti hidup abadi

Puri Gading, 2012


Dipaksa Memaksa

Di mata engkau sekalian
kulihat hamparan padang luas
dicumbu banjir
menggagahi pedalaman
jauh menjamah ranah

padanya kalian bukit tandus
adalah anak mau dikawinkan
ketika truck-truck dari kota
membuat peta di desa

engsel pintu berdenyit lemah
pada pagi lembut yang buta
buta karena menutup mata
lantaran jauh di sana
kita dipaksa memaksa

Puri Gading, 2012


Topeng Kesekian

Apa guna kita pakai jam
Jika jarum tak tepat janji
Ia seperti burung elang
Selalu memantau kesempatan

Mencari mangsa
Adalah kerja harian
terik siang dan debu jalanan
itu topeng kesekian

setelah melipat-lipat mangsa
kita duduk bersimpuh
menampakkan jeri payah
yang didapati orang dengan susah

Puri Gading, 2012


Negeri Sebelah

Namamu adalah sejarah panjang yang kelam
terombang ambing di selat entah berantah
lalu kembali pada tepi danau yang mengering
karena terlalu lama menunggu engkau mereguknya

pada senja yang tak punya telinga
aku perdengarkan keindahan yang ia punya
padahal sama sekali senja itu tak mengiyakan
hanya diam dan masuk membawa malam

dan aku telah menelurkan airmata
sebuah sesal yang tak bisa kutarik
karena namamu tetaplah sejarah
walau pusara di negeri sebelah

Puri Gading, 2012


Published On Friday, October 05, 2012 By admin. Under: Puisi.
http://radarseni.com/2012/10/05/puisi-puisi-pilo-poly/