Terbit di Radar Seni II

Menatap Kenangan
Gapuraning Rahayu
 
Dari kampung rambutan
Gapuraning rahayu itu
Sayup-sayup membawa rinduku
Ia tak lelah membungkus daku
Pada keinginan kemarin dulu

Pada pertigaan terminal yang belum kukenal
Aku berdiri tegak melepas semua kaku
Agar ketika tubuhku jatuh ke tubuhmu
Hatiku tak lagi bergemuruh seperti dulu

Telah aku jelaskan juga pada perasaan
Bahwa aku juga memikirkanmu
Itu sebabnya malam ini
Kurela jika harus menunggu
Untuk bertemu denganmu

Cilacap, 28 Oktober



Teluk Penyu

Airmata jatuh tumpah dipipi putihmu, aku membaca bibirmu dengan seksama
saat sebelum airmata itu berhasil mengangkat tanganku untuk manghapusnya.
Kau diam. Hanya diam, tak ada bahasa yang kudengar.
Semakin kau diam, semakin airmatamu lupa berhenti.
Seolah ia juga tak mau kutinggalkan.

Padahal tadi di teluk penyu itu
Telah kita isyaratkan pada hati kita masing-masing
Bahwa tak akan ada airmata yang tumpah
Sebab kita harus saling mengerti, sebuah pertemuan pasti ada perpisahan.
Tapi entah kenapa, diam-diam airmataku pun luruh.
Dari mata hatiku yang juga tak ingin berpisah.

Karena jarak selalu berhasil membuatku gelisah dan gundah
jika suatu saat nanti hatimu telah lelah

Cilacap, 28 Oktober

 
Menghitung Rindu

Aku duduk di halaman tak berpintu
Angin laut yang lupa kujamah asinnya
Menerpa rambutku yang tak begitu panjang
Ya, di depan stasiun kota, aku mulai merapatkan perahu rinduku
Di sana, engkau dengan wajah dan senyummu
Juga tengah merajut beberapa rindu

Nanti ketika mata kita telah bertemu
Kita mulai menghitung, menghitung berapa rindu yang kita punya
Dan bagaimana kita mengutarakannya

Cilacap, 28 Oktober


Menatap Kenangan

Pahala kencana membawaku pulang
Rindu yang dulu kusalam kini jadi kenangan
Ia tersimpan erat dalam lamunanku
Semoga saja sepi lupa kembali
Sebab ia tak mengerti yang namanya rindu

Bis-bis telah padam panjang di jalanan
Sebatang rokok kusulut dengan lahap
Orang-orang dengan wajah lelah menatap sama lain
Sedangkan aku asik menatap kenangan

Ketika supir telah menghilang dari pandangan
Orang-orang mulai panik mencari tempat duduk
Klakson telah berbunyi tiga kali
Sedangkan aku masih menyulut rokok dan menikmati kenangan

Bumi Ayu, 28 Oktober

November 05-2012
http://radarseni.com/2012/11/05/puisi-puisi-pilo-poly-2/