Terbit di Radar Seni ke III

Ilustrasi By Google
128 Hari

Berdirimu tak lagi tegak, gurat wajah yang lelah
menghiasi setiap ucapmu. Dengan payung hitam
kau duduk menelungkupkan harap. Sinar terik yang menyengat
tak lagi kau rasa sebagai sebuah masalah. Kau dengan peci hitammu
dan segelas air mata yang lupa kau letakkan di mana
telah kering seiring bergantinya waktu dan pemimpin negara

Di sana, 128 hari kau mengenang yang tak dikenang orang
Di depan istana yang dibangun dengan airmata rakyat
Kau mengharap agar pemimpinmu menghambur kepelukanmu
Lalu menangis seperti kau menangisi kepergian saudaramu
Tersedu sedan seperti sedumu yang tak mampu kau perlihatkan lagi

Sebab. Sebagaimanapun kau mengelak
Tetap saja hatimu tak betah menahan gundah
Tragedi semanggi yang merenggut anak dan istrimu
Telah berumur tua, seperti umurmu yang telah kau lupa ke berapa

Puri Gading, 2012


Hikayat Hujan

Hujan tadi sore
mengajakku pada sepi
sepi yang sebenarnya
sebenarnya orang lupa

lupa mengunci pintu
dari pintu sepi datang
masuk dalam selimutku
membelaiku sampai pagi

dan ketika sadar dari lelap
sepi makin dingin
sedingin hujan sore tadi
yang sempat meninggalkan jejak
pada sepotong hikayat

Hujan tadi sore
mengajakku pada sepi
sepi yang sebenarnya
sebenarnya orang lupa

Puri Gading, 19/11/2012


Di Kampung Kami

sungai telah mengalir deras
menghanyutkat tempat tidur kami
tempat sholat dan belajar kami
pun ikut bermimpi untuk kembali

di kampung kami
arimata telah terbawa arus
harta benda tak berharga saat itu
hanya doa yang pelan-pelan keluar dari mulut kami
itu pun sudah kami paksa
agar sungai-sungai itu berhenti memporak-porandakan kampung kami

kampung kami
kampung nista
yang telah dikutuk
dikuntuk olehNya

setiap sore
sepasang remaja saling jatuh cinta di sana
di bawah payung besar
atau di ujung karang

mereka menafkahi kerinduan
dengan cumbu panjang
saling mendekatkan bibir
saling merangkul tangan
mereka melepas rindu
dengan melahirkan dosa

Puri Gading, 21/11/2012


Ilalang Senja

Ilalang, berpangku mesin waktu
tergugu bersamaku digelap tak sampai

malam masih tergantung
diujung mata yang terasa lelah

ketika burung berarakan di atas angin sambil meniti jalan pulang,
semburat senja tampak di balik laut, tak lama kemudian
bayang-bayang cantik bersendawa dengan ilalang yang bergoyang.

ah, kemana saja kau Pelita sore
yang sempat menghilang dalam gapura hatiku
dikursi yang tak utuh lagi ini
aku sering mencuri pandang
padamu yang di seberang
 
Puri Gading, 2012


Karena Satu Hal

hati kami telah robek dengan air mata. bahasa yang kami jadikan peluru telah sirna dengan bintang dipundak kalian. kami dipaksa mengunyah tebu untuk kalian ambil hasilnya: Tapi tetap saja hasil itu tak kami dapat.

di lorong waktu yang sesak. kalian menitipkan satu belengguh pada kami. tentang desas-desus di beranda bibir kalian itu: Aku menyebutnya membela anak sendiri walau salahnya tak terkira.
Dan, inilah hukum di negeri ini. kalian yang punya nama dan pangkat, adalah selalu benar. sedangkan pencuri ayam itu. kalian adili hingga nyawa melayang, lalu pulang kepada Tuhan.

Puri Gading, 21/11/2012