Terbit Di Majalah KISS (Kisah Inspirasi Siswa/Siswi)


Katniss Everdeen

Kau turun dari atas bernama langit,
menarik anjing tua yang batuk
disanggul kepalamu, kau tancapkan topi miring
baju dan celana yang kulihat pada tubuhmu
selaras dengan sepatu kets merah jambu
orang-orang menatapmu tajam
beringsut bersamaku dibalik jendela dan pintu

Di pojok rumah tua yang dari atapnya mengepul asap
seseorang tak muda lagi menggigit tulangnya sendiri
ia tak perduli dengan aroma parfum yang kau bawa
darah yang mengalir pelan, menyelamatkannya dari dahaga
ketika kau tepat berada diujung hidung lelaki tua itu
Ia juga beringsut, tergugu bersamaku

Pelan-pelan, matahari meninggi dan menunggu, detak jantung kami bertemu
saat kau membawa barisan kami menaiki panggungmu
atas nama masa lalu untuk masa depan

“Perang adalah teman yang setia,
darah adalah cambuk yang setiap waktu siap telanjang
di depan harapan.” Katamu

Oh, Katniss Everndeen, sudah berapa sungai yang kau tumpahkan airmata
karena perang yang tak usai, karena darah yang masih basah
Sebab tanpa engkau ketahui jua, derita itu membuat sebentuk harap baru
pada orang-orang yang sudah benci dengan tingkahmu
pada akhirnya, kami menyemburkan revolusi
dan perang, tetap menjadi luka dihati kami
walau pun sudah kami jadikan sampah masa lalu

Puri Gading, 2012


Dejavu


aku datang padamu kala itu ketika malam hampir membunuh pagi,
kau mengajakku ke selatan rumahmu, dekat dengan perkebunan yang seujung mata memandang hanya ada kuburan. Di sana, terdapat kursi panjang yang ramah, kita kerap membungkus rindu di situ, sambil menelantarkan setiap waktu yang ragu.

tapi ke selatan sana tak ingin kugapai,
aku merayumu agar engkau memenuhi inginku
aku ingin kita berkelana ke utara, suata tempat yang membuat kita dekat,
dekat dengan yang tak pernah bertemu, tapi selalu mengalungkan rindu

setelah janji kita ikat, aku mulai mengatur waktu yang semakin jemu
dalam penantian, aku dapatkan sebuah kenangan,
ketika kau mengajakku bertemu di selatan rumahmu
dekat dengan perkebunan yang seujung mata memandang hanya ada kuburan
di sana, terdapat kursi panjang yang ramah,
kita kerap membungkus rindu di situ,
sambil menelantarkan setiap waktu yang ragu.

Puri Gading, 2012


Negeri di Mimpi


Di negeri kami, membawa masuk rembulan ke dalam rumah adalah mimpi
bagai sebuah kutukan keramat, yang jika dikerjakan akan laknat,
membawa petaka pada selanjutnya keturunan pun tempat
tapi kami tidak memikirkannya, kami terus saja bermimpi agar dapat
terjatuh dalam pengalaman padat

di negeri kalian, para gelandangan adalah harta
kalian membekali mereka dengan rendah diri
kalian sejajarkan dengan status dan kedudukan
hingga akhirnya mereka berani bermimpi
tak pernah takut jatuh dan terinjak

tapi apa kalian pernah tahu bahwa dari negeri kamilah negeri kalian berasal
negeri yang lelah menuntut, karena kalian handal menjahit alasan
berpura-pura baik, tapi sebenarnya jahat, membunuh mimpi kami
dengan janji yang tidak kami kenal. Tapi kami tak berhenti,
kami terus saja bermimpi sampai keringat kami
berubah damai

Puri Gading, 2012


Atas Nama


Berapa mata yang kau pasang disetiap ruangan itu?
apakah ada matamu yang sebenarnya?
atau hanya mata dari seribuan mata yang kau tera
dan darah adalah urat nadi , bergelantung dengan nasib para pendusta

kau lontarkan seribu racikan ayat
untuk tutur yang tak jelas
kitapmu yang basah oleh kebohongan
terlalu lampau untuk sebuah hubungan

Sebab, setelah engkau yang mengaku Tuhan
engkau mulai menyerempeti rumah kami dengan peluru
seringai mulutmu dan gigi runcingmu
menyakinkan kami bahwa
engkau memang telah berdusta
atas nama Tuhan
engkau hanyalah manusia

Puri Gading, 2012

Terbit di Majalah KISS (Kisah Inspirasi Siwa/Siswi).
Edisi 01 Tahun 1, Oktober 2012.