SERAMBI INDONESIA, Minggu, 31 Agustus 2014


KTP-Merah-Putih


Pernah orang tua kami yang hebat itu
ditusuk dengan kata-kata setajam belati
mengiris mereka pelan-pelan
sebelum berhelai-helai harapan mati
 
aku melihat adegan itu dengan airmata nanar
dan terjadi retak yang dalam sekali di hatiku
pecah hancur berkeping-keping
dan tak pernah lagi bisa kusatukan
 
lalu deret senjata manakah yang kita buang
agar yang larut dalam diri kita terkikis
tak membuatnya menjadi sejarah paling kelam
yang pada suatu saat nanti memunculkan lagi pemberontakan
 
Jakarta, 2014
 
Jembatan Peunayong
Anak-anak lain bersorak-sorak
tapi tidak dengan mereka yang menyimpan masa lalu
tentang kepedihan, kehilangan, juga rentetan senjata
yang tak pernah alpa berderak dalam hati mereka
anak-anak lain bersorak-sorak
berdiri gagah dengan kacamata hitam yang ditimpa matahari
bedil-bedil mainan umpama tentara
mengapit lengkap di antara baju biru rumput dan baret merah menyala
anak-anak lain bersorak
sedangkan mereka menanti kapan ayah dan ibu pulang
membawa kabar kemenangan
membawa kabar kemenangan
Jakarta, 2014