Mewaspadai Diri dan Kehidupan


Sumber Google



Sadar atau tidak, media menjadi hal penting yang sangat dibutuhkan pada masa kini. Sama seperti bensin, handphone, bahkan mungkin beras yang menjadi makanan pokok kita. Kita, sebagai pengkonsumsi—dalam hal media—tidak lagi mengambil pusing atas apa yang telah terjadi. Misalnya, dari pagi saat libur begini, anak-anak kita akan dikenalkan dengan tontonan kehinduan yang diputar oleh stasiun televisi. Di sana ada Khrisna, Bima Sakti, dan Kehinduan lain yang terus membawa anak-anak kita menggemarinya. Karena bersifat kartun, maka anak-anak akan dengan terbukanya menerima apa yang dilihat. Tak terbesit dalam diri mereka bahwa pada suatu saat mereka akan mengenang dan menceritakan kembali perihal-perihal kehebatan tokoh yang ditontonnya.

Pada masa agak sedikit panas hari, mungkin sekitar pukul 13.00, anak-anak kita akan diajarkan lagi, bagaimana seekor kucing menjadi paling jahat dalam sebuah kartun. Mereka senang. Tertawa dengan adegan-adegan tersebut. Tapi apakah nanti, ketika kita tanyakan pada mereka, apakah kucing apa tikus yang menjadi favorite mereka, jangan heran jika mereka lebih memilih tikus karena ketokohan sang tikus telah dirangkai sedemikian rupa untuk disukai. Dan kucing, akan sedikit demi sedikit ditinggalkan oleh anak-anak karena karakter antogonis yang diusung oleh penulis ceritanya. Namun begitu, tak memungkinkan memang jika hanya sekedar menilik kemana arah sebenarnya. Tapi benar-benar mempertanyakan. Apakah selama ini memang media bertujuan untuk saling menghancurkan sebuah peradaban, dan membangun peradaban yang pernah dihancurkan. Dan sepertinya, jika boleh jujur, kita sendiri menerima kehadiran itu.

Belum lagi, acara-acara kehinduan yang begitu kental habis, kini kita kembali dikenalkan dengan Kearjunaan yang agung. Atau kalau masih ada kesempatan, nanti juga akan ada Kehanomaan. Di sanalah kesempatan media-media seperti ini akan menyerang anak-anak kita dengan budi luhur kehinduan. Yang sebenarnya kita juga punya hal itu. Namun disayangkan sekali memang, ketika dunia kita adalah dunia orang lain. Di mana kita sendiri menjadi jonggos kebanyakan mereka. Orang-orang yang punya wawasan tentang ini pun bisa dibilang larut dengan dirinya sendiri. Keliberalannya telah masuk kesumsum. Ia tak lagi menganggap hal itu adalah sebagian dari dosanya. Namun baginya hal itu sah-sah saja selama tidak menggangu orang lain. Sama seperti seseorang mengatakan si A baik walau tak shalat dan sunat apalagi puasa. Dia telah berbakti kepada Tuhan. Tapi ia akan mengatakan si B berengsek walaupun ia menjalankan sunnah, berpuasa, zakat, dan berhaji.

Dalam konteksnya, seharusnya kita sudah sampai pada sebuah “Puncak” di mana kita bisa berdiri sendiri dan menepiskan hal-hal lain di mana kita punya hukum, tatacara, dan “Keilahian” yang tak padam. Namun apa yang terjadi kini? Semua produk, institusi, kelembagaan, dan pun kekuasaan, telah membawa kita pada ujung kehancuran. Orang-orang Islam sendiri sudah terpecah belah. Hancur berkeping-keping. Penyatuan seperti apa yang akan kita dapatkan? Kadang ada pertanyaan seperti ini. Tapi sebenarnya bukan pertanyaan yang kita butuhkan. Melainkan tindakan-tindakan nyata. Agar apa yang kerap terjadii—terutama pendangkalan akidah melalui televisi-televisi—tidak terlalu berpengaruh. Bisa dihadapi dengan cara kita sendiri. Apalagi yang harus kita sangsikan? Kenyataan-kenyataan yang ada bahkan kita anggap hal biasa. Tidak terlalu membuat kita tergelitik untuk berpikir kritis. Kehinduan yang telah lenyap dari bumi ini, mau atau tidak telah merasuk kembali. 

Pada sebuah kehidupan, katakan saja tentang petuah-petuah, ada satu petuah yang harus kita kaji ke kedalamnnya. Seperti petuah zaman dulu, di mana petuah-petuah itu sendiri memberi arti pada kehidupan yang banyak. Misalnya, kita ambil saja sejarah petuah tipi hana meure, tipe hana meuri yang sering diutarakan orangtua zaman kepada anak-anaknya khusus di Aceh. Dan apa yang terjadi kemudian? Hal itupun bermunculan. Penipuan demi penipuan dari televisi terjadi. Persekongkolan yang terus mewabah. Menjadi penyakit umum yang tak bisa kita elak. Lalu kita akan terjebak di dalam sana tanpa bisa keluar. Termasuk misalnya, dari sebuah iklan, iklan terkecil misalnya. Tentang sepeda motor. Mau tidak mau, saat anak kita melihat iklan itu, inderanya telah terpacu jauh pada satu dokrin secara tidak langsung “ingin memiliki” dan kemudian, dengan keinginannya tersebut, ia akan mengutarakannya kepada orangtua misalkan. Ketika orangtuanya orang mampu, maka mereka akan dengan senang hati tentunya mengabulkan permintaan buah hati. Tapi jika orangtuanya tidak mampu, maka yang akan terjadi adalah kecemburuan sosial. Itulah dampaknya.

Kita bisa meninjau hal ini secara lebih dekat, secara pasti dan penuh dengan kenyataan. Lihat saja, sebagaimana pengambaran seorang muslim di film-film yang dibuat Amerika. Misalkan di dalam film tersebut, orang-orang Islam Arab akan dijadikan sebagai bahan lelucon. Lebih mengenaskan lagi, mereka-mereka—orang-orang Arab itu—dijadikan pusat perhatian sebagai seorang terrorist. Di mana skenario kebencian begitu kental dikabarkan. Mau atau tidak, kita telah terserap ke dalam skenario mereka. Lalu lahir lagi islam-islam Liberal. Menyokong keberadaan orang-orang yang telah ratusan tahun membenci kedamaian, yang menurut mereka harus segera didukung oleh banyak pihak, tapi jika menilik ke arah sebenarnya, jika mata kita tak salah melihat, padahal mereka-mereka ini yang tengah menghancurkan peradaban Islam khususnya.
Ini bukan saja hanya omongan belaka. Apa yang saya takutkan dan saya banyangkan memang rupanya—setelah melihat The Arrivals—telah berkembang pesat dari dahulu kala. Telah terjadi penyimpangan yang tanpa kita sadari secara kasat mata atas nama A New World Order. Di dalam A New World Order itu sendiri, kehidupan, sistem, ekonomi, bahkan politik, telah benar dan sengaja diatur dengan skenario tertentu. Nyanyian, film, bahkan ke ranah yang lebih jauh—New Relegion—telah dipersiapkan. Dan tentunya, jika saja kita mau bertanya sedikit lebih kritis pada diri kita, apakah aku sudah tertipu dengan semua itu? Iya! Kita telah ditipu dengan segala hal. Bahkan media tidak lagi menjadi tempat di mana mencari informasi utuh, melainkan permainan elit untuk kepentingan-kepentingan mereka. Mungkin A New World Order dalam The Arrivals akan membatu siapapun untuk mengetahui lebih jauh.  

Kita sebagai orangtua, Kakak, Saudara, Tetangga, sejak sekarang harus memberi protec pada diri dan keluarga. Menjaga mereka pada tontonan yang baik. Setidaknya, ajaran leluruh yang masih terkadung dibadan kita harus segera kita uapkan lagi. Mengaji pada magrib misalnya, bukankah hal seperti ini yang kerab kita terima dulu saat masih kecil? Tidak ada tontonan. Televisi masih terbilang susah. Hanya beberapa rumah yang sanggup menyediakan. Namun sekarang, teknologi telah mengalahkan akal sehat. Kadang anak-anak kecil yang pikirannya masih bersih, telah terkotori dengan iklan-iklan berbau porno dari internet. Internet, sebagaimana kita ketahui, telah dapat diakses oleh siapapun. Sadarkan kita ini adalah salah satu misi terselubung Zion? Sila menilainya sendiri.