Harian Cakrawala Makassar, Sabtu, 12 Juli 2014

Yang Datang Dalam Mimpiku

Yang semalam datang dalam mimpiku
adalah sepasang mata petani yang merindukan hujan,
tapi tidak dengan tanah-tanah kering berkepanjangan.

Seperti suatu sore yang cerah dengan langit biru laut itu,
aku melihat kedua pasang petani itu tersenyum,
menerima syukur panjang mereka.

Tapi pada suatu waktu yang lain
ada bisikan aneh yang merasuk kalbu mereka,
yang telah lelah selalu pasrah.

Yang semalam datang dalam mimpiku
adalah sepasang mata petani yang merindukan hujan,
tapi tidak dengan tanah-tanah kering berkepanjangan.

Puri Gading, 2013



Prahara

Dik. Benar katamu. Di sabitnya bulan
bukan tempat kita bermain petak umpet
atau duduk bermancing ikan di pinggir gambar.

Apalagi langit sudah begitu keruh
tak ada lagi bunga bintang
kutakut ke gelap pandang jatuh
lalu amis darah kembali terulang.

Puri Gading, 2013



Sebuah Jejak Dalam Gambar

Di mata gajah
seorang lelaki sedang resah
tiba-tiba rebah di tanah rumahnya yang basah.

tubuhnya digiring menuju pulang
di jalan penuh-sesak perkabungan
ada yang melambai, ada yang membelai

Seorang anak kecil berlari
air matanya melahirkan mahkota
kelak di kepalanya menghamba

di kuburan
seorang ibu mengubur luka
sambil menggali kubur suaminya
yang di tembak mati kafir Belanda

Puri Gading, 2013



Mencari yang Hilang

Lima butir embun di segulung daun suji
merah mentari berdiam di pucuk water lily,
lembut bagai lukisan Ju Duoqi.

Di atas jembatan, tersesat seorang lelaki dan perempuan.
Mereka tengah mencari jalan pulang menuju bulan,
tapi lupa letak tangga di mana mereka simpan.

Seorang pemain piano dan peniup violin,
datang bersama nada berjudul Rain.
Membawa nada itu ke seluruh celah angin.

hingga nada dan mentari hilang
lelaki dan perempuan yang tersesat itu masih bimbang,
bertanya-tanya siapa yang harus disalahkan.

Puri Gading, 2013




Jalan Menuju Hening

Pinus tua rantingnya kering
mata gagak ke merah pucuk daun mengelinding,
dan angin membawa apa yang katanya dingin.

Di mulut seekor enggang
anak kelelawar keburu kaku dicengkeram,
darahnya ke bening air terekam.

sedang di tebing
ada yang diam-diam memamah hal paling hening.
Seperti berserah diri seekor luwing dimangsa musang warna kuning.

Puri Gading, 2013




Merdeka atau Berdosa

Hanya hal seperti ini yang sering diulang-ulang oleh seorang penyair;
suara burung. Rintik hujan. Atau lembah yang diam dan sendiri,
bahkan pohon yang tumbang diserunduk orang-orang tuli,
juga derita tanah yang tak kunjung ditaburi benih oleh petani.

Hanya hal seperti ini sering diulang-ulang oleh seorang penyair;
seperti seorang penyair yang gundah saat banjir,
kemana hendak ia mengadu jika bukan dengan syair.

Barangkali juga, hanya ini yang dipikirkan seorang penyair;
satu kenangan yang telah lalu,
tersangkut bersama selembar baju.

Sebab hanya dengan begitu
ia telah bisa melupakan ribuan janji-janji,
tentang masa depan dan kebahagiaan,
yang ia tonton dari sebuah siaran televisi.

Puri Gading, 2013


Pertemuan

Aku ingin jatuh ke dalam dirimu
seperti aku menjatuhkan mata pancing di ujung dermaga.
Saat itu, kudengar ada yang jatuh dan terluka,
di kayu-kayu segi empat panjang,
tempat di mana aku duduk dan berharap ada ikan yang tergoda.

Di situlah kita bertemu.
Kau yang katanya sedang terluka dan terjatuh,
duduk menghadap laut sambil tersedu.
Aku hanya menjadi pendengarmu yang setia saat itu.
Sebelum akhirnya kita selalu bertemu di tempat yang sama untuk saling bertukar cerita.

Setelah kuingat dengan benar-benar,
yang jatuh saat kita bertemu adalah airmatamu.
Seperti gelombang yang menjatuhkan diri ke tubuh pasir di belakang kita,
dan seperti aku yang terlanjur jatuh ke dalam dirimu,
sebagai seorang yang menerimamu apa adanya.

Puri Gading, 2013



Sebuah Perumpamaan

Kadang kita terlalu suka berumpama
seperti ikan yang berenang bebas di lautan.
Atau seperti kayu kering, atau seperti uban putih yang ingin hitam.
Atau seperti seorang pemain piano perempuan 
yang jatuh cinta pada seorang lelaki penjaga gedung,
yang tak pernah mengenal apa itu tanda baca.

Kita juga suka mengumpamakan diri kita
sebagai patung yang selalu tersenyum 
pada setiap orang yang lewat dihadapnya.
Tapi kita lagi-lagi mengumpamakan diri
sebagai seorang pejalan kaki yang tak pernah tersenyum 
walau pada hal yang paling lucu sekalipun.

Dan sebenarnya orang-orang pun tahu.
Bahwa yang selalu kita umpamakan 
tak lebih hanya untuk menghibur diri 
dari sekian banyak bekas luka.

Seperti kulihat engkau kini
yang duduk dan diam di atas sebuah 
tempat tidur dalam rumah sakit
yang di dalamnya 
duit adalah segalanya.

Puri Gading, 2013



Pilo Poly adalah nama pena dari Saifullah S. Lelaki yang lahir di Aceh ini sekarang bekerja di Pamulang. Dia bergiat di Komunitas Sastra Indonesia wilayah Tangsel. Buku puisinya adalah Yusin dan Tenggelamnya Keadilan (2014). Ia juga sedang mempersiapkan buku kumpulan puisi tunggal yang keduanya berjudul Sehelai Daun yang Merindukan Ranting, juga novel debutnya yang berjudul Kabar dari Sepasang Angin.