![]() |
| Ilustrator By Google |
Nek, dari apa Tuhan buat tubuhmu?
Yang sudah berkepala enam itu
Masih mengais jalanan
Bersama debu-debu malam
Di mana anak-anakmu
Atau cucu cicitmu
Yang kau puja damba
Seiring mereka dewasa
Nek, tunjukan aku jalan
Agar kau kuantar pulang
Di sini bukan tempatmu
Yang penuh sampah kemunafikan
Generasi Kini
Tak ada lagi simponi
Tak ada lagi rasa iba
Sudah terpendam di dalam dada
Katanya nafsi-nafsi
: ”Urusan sendiri urus sendiri!”
Tak usah mengadu lagi
Pada kami anak negeri
Lantas, siapa garda depan?
Yang akan mengangkat bangsa dari segala
keterpurukan
Moral, pendidikan, dan pembangunan
Haruskah kami yang sudah mendekati mati?
Puri Gading, 25/05/12
Terbit di Batak Pos Sabtu 02/06/2012
Perempuan Surga
Dianggap terorist
Oleh kaum borjuis
Bahkan pemerintah yang sinis
Aurat yang kau tutup habis
Dengan penampilan gamis
Dicium amis
Oleh kapitalis
Oh … juwitaku
Perempuan-perempuan surga
Hinamu di dunia
Mulia pula di akhirat sana
Puri Gading, 26/04/12
Terbit di Batak Post Sabtu 19/05/2012
Surat Hipnotis
aku ingin menyuratimu
dengan se-amplop hipnotis
bukan kata puitis
Kau tahu mengapa?
agar kau patuh
terhadap perintah kami
karena kau berasal dari kami
Sekarang
kau hanya memikirkan kaummu
padahal sumpah dulu
mengabdi di jelata ini
Puri Gading, 30/03/12
Puisi terbit di harian Batak Post, sabtu 12/05/2012
Dendam
Kerak mengerak. Sudahlah, dendam hanya mengubur impi yang terbentang, menghapus setiap memoar penghias pasungan. Tentang liuk-liuk redam memerah membakar mengeluarkan darah basah. Di jalan dan dinding tercoret serta merta kisah.
Setelah begitu banyak panahan ke ulu hati bersarang, kini diam ini semakin hitam mengawan, tak ada pun angin merebahkan sedikit haluan, yang baru bisa hanya menghapus dendam.Memangari hati dengan keikhlasan, menjadikan ego awal kebangkitan. Agar tak bersalah di hadapan Tuhan.
Puri Gading, 26/04/12
Terbit di Koran Batak 05/05/2012
