![]() |
| Ilustrator By Google |
Pagi itu, seribu anak angin
menusuk pelan ke setiap poriku
aku masih terjaga sambil menghitung
bintang dan membaca malam
angin semakin kencang
menampar-nampar rambutku
serta ada debaran dalam hati
yang tak aku mengerti
Sebelum nama Tuhan terbawa angin
dan bertapak ditelingaku
samar terdengar bunyi ponsel,
aku mengangkatnya
dan kabar kuterima
dari suara renta Ibuku
“Lelaki pemilik seribu nasihat kalbu
telah pergi,” ucap suara renta itu
“Ia telah dijemput,” sambungnya lagi
pada pagi itu
setitik airmataku tumpah
menapaki kulit wajah
dan aku telah pasrah
karena jarak terpisah
Puri Gading, 28/06/2012
Magrib yang Mengiba
Matahari terbit dari mataku
menelan yang purnama semalam
dan kita merengkuh semua
dengan alasan tak sempurna
Kemana kita bawa cahaya
yang kita tangkap
dari balik magrib
yang mengiba salik
Apa telah kita telan juga?
asma-asma Tuhan
tak lagi mendera
di indera telinga
Puri Gading, 2012
Hal Terindah
Menuliskan puisi-puisi kalian dipikiran
adalah hal terindah. Umpama jatuh cinta
pada perempuan pertama.
Bukankah itu hal terindah?
Atau seperti riangnya hati kita
saat menginjak pasir laut
lalu membelai riak dengan hempasan
tubuh ke dalamnya.
Apa seperti itu ketika kalian
menyusun kata
dan merubahnya menjadi kalimat
melemparnya pada kami untuk dibaca
dan dimaknai? Ah, begitu indah bukan?
Seperti pertama kali
belajar sepeda angin
jatuh dan terluka, namun tetap tertawa.
Menuliskan puisi kalian dalam hati
adalah cakrawala. Seperti
setianya mentari menyinari
walau pun terkadang kita caci maki,
bahkan tak suka
saat tirai dibuka tapi kita
masih ada di mimpi
Begitukah keindahan itu?
Puri Gading, 23/07/12
Harian Waspada Medan, 02 September 2012
