Tadi, sekitar pukul 19.44, Batik Air dari Soekarno Hatta baru saja mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda. Sejak dari Bandara, kondisi sinyal HP menjadi kendala nyata; sinyal putus-putus, jaringan ponsel juga belum stabil.
Di jalanan dari bandara, Lambro gelap. Lampu mati di mana-mana. Sinyal hp dan internet jangan tanya: melayang, naik turun, bahkan baterai hp terasa cepat habis lantaran jaringan terus berputar mencari sinyal.
Di SPBU Lueng Bata, antrian BBM tidak begitu mengular seperti dikabarkan beberapa waktu lalu, stabil. Warung kopi yang besar dan punya genset, terlihat ceria ditengah padam gulita jalanan lainnya.
Tiba di Peniti, Puspom menyala gembira: tempat lain padam, dia tumbuh dan tidak berkedip sedikitpun, sinyal hp juga tegak bagai batang-batang pohon yang dibawa bandang ke tengah kampung dan kota di Aceh.
Masuk ke area masjid raya, taman sari, lampu kembali padam dan sinyal juga ikut timbul tenggelam lagi; derita yang digembor-gembor PLN dan Telkomsel sudah membaik, nyatanya belum juga membuahkan hasil; sinyal masih merunduk, PLN masih bertaruh kepada kata selesai atau tidak.
Banda Aceh memang tidak terkena banjir bandang, tapi denyut kota ini melebih bandang itu sendiri; kesepian dan orang-orang seperti kehilangan arah. Bahkan belum mampu dapat menyelamatkan diri sendiri.
Ironis memang. Pasca banjir bandang yang melanda Aceh, Sumut dan Sumbar sejak 27 November geliat tanah rencong belum normal. Di mana-mana masih mati lampu, harga mahal, dan sinyal yang timbul tenggelam.
Seharusnya jaringan dan PLN harus selalu di depan, apapun kondisinya. Namun rupanya, kedua elemen penting ini belum mampu berdiri serentak, masih tidak menjadi fokus utama dalam kebencanaan.
---
Ada kota-kota yang tidak disapu banjir, tetapi tetap tenggelam dalam gelombang sunyi yang ditinggalkan bencana. Banda Aceh malam ini adalah salah satunya—selamat dari air, namun tidak selamat dari lumpuhnya infrastruktur yang menjadi urat nadi kehidupan modern. Kota terasa hidup setengah, seperti tubuh yang jantungnya berdetak tetapi paru-parunya tertahan oleh kabut gelap.
Kegelapan dari Lambaro sampai Taman Sari bukan sekadar ketiadaan cahaya: ia adalah ruang kosong di mana manusia berdiri tanpa kepastian. Orang-orang berjalan di bawah tiang listrik mati, melihat sinyal hilang dari layar ponsel mereka, dan merasakan betapa ringkihnya kehidupan yang selama ini dianggap stabil. Kita tak butuh banjir untuk merasa tersesat; cukup listrik padam dan jaringan roboh, maka arah pun hilang.
Warung kopi besar yang punya genset menjadi titik terang di tengah kota yang padam—oase kecil yang mempertahankan denyut sosial, meski sekadar lewat colokan dan beberapa bar sinyal. Di luar itu, ratusan UMKM kecil menahan napas, omzet merosot, logistik tersendat, dan pembayaran digital tak bisa berjalan. Ada yang bertahan dengan lilin, ada yang menunggu sambil memelototi ponsel, berharap satu-dua garis sinyal muncul.
Di balik laporan resmi yang mengatakan pemulihan mencapai 70 atau 80 persen, lapangan menyajikan cerita yang berbeda. Lebih dari 280 BTS masih hidup-mati, 1.420 titik distribusi listrik belum pulih sepenuhnya. Rumor pemulihan 10–14 hari terasa seperti mantra yang diulang agar publik tidak terlalu gusar, padahal cuaca masih tak menentu dan kerusakan infrastruktur jauh lebih dalam dari yang terlihat.
Yang paling terasa bukanlah padamnya lampu, melainkan padamnya arah. Kota yang biasanya hidup dengan ritme jelas mendadak berjalan seperti tanpa komando. Orang-orang mencari sinyal sambil menghela napas panjang; kantor, sekolah, dan fasilitas umum hanya berfungsi separuh; petugas terlihat lelah, pedagang gamang, pekerja berpindah dari satu meja ke meja lain demi koneksi yang lebih stabil.
Bencana memang telah lewat, air telah surut, tetapi residunya menempel pada langit kota: ketidakpastian yang memanjang seperti bayangan listrik yang tak kunjung menyala. Kita dipaksa melihat bahwa modernitas memiliki titik lemah yang sama rapuhnya dengan batang pohon yang terbawa bandang: listrik yang terputus sedikit saja membuat kota goyah; sinyal yang hilang sebentar saja membuat manusia merasa terputus dari dunia.
Di tengah semua itu, satu pertanyaan terus membayangi: mengapa dua elemen paling vital—listrik dan jaringan—masih belum dianggap prioritas tertinggi dalam penanganan bencana? Kita hidup di era ketika informasi dan energi bukan lagi pelengkap, tetapi bagian dari keselamatan itu sendiri. Tanpanya, evakuasi lambat, logistik tersendat, komunikasi terputus, dan ekonomi membeku.
Pada akhirnya, Banda Aceh malam itu mengingatkan kita bahwa sebuah kota bisa tetap berdiri tanpa banjir, tetapi bisa roboh secara fungsional jika urat nadi teknologinya patah. Dan dalam gelap yang panjang itu, manusia menyadari sesuatu yang selama ini tertutup terang: bahwa ketahanan sebuah kota bukan hanya pada tanggulnya, tetapi pada cahaya yang menyala ketika bencana datang, dan pada sinyal yang tidak menyerah ketika keadaan paling sulit.
Keterangan Foto: Di depan Asrama BPSDM, tidak ada genset, lampu mati, tapi warung di belakang menyala dan suara canda ria mengudara, Kamis, 4 Desember 2025.
