Hampir Saja Kami Terjun ke Jurang Akibat Remblong




Padahal 20 menit lagi akan tiba di lokasi, mendadak rem blong. Di depan jurang, di kiri pun jurang, tetapi sopir sigap—langsung menepi, menarik rem tangan, sementara gigi dibuang ke gigi satu.


Kami berhenti. Asap tebal mengepul dari rem; bau besi panas menusuk hidung. Hati dan lutut bergetar hebat. Nyaris menyerah. Namun bantuan harus segera dikirim — tak ada kompromi.


Rute yang kami tempuh menuju Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, menembus salah satu gunung tertinggi di Aceh: Singgah Mata, 3.200 MDPL. Punggung bumi itu menjulang seperti pagar hitam yang mengurung langit. Dari bawah tampak sebagai bayangan raksasa yang siap menelan apa pun yang bergerak di kakinya. Malam itu, kami hanyalah titik kecil yang bergerak di tengah gelap.


Truk yang menumpangi kami bukan kendaraan ideal untuk medan seperti ini. Kabinnya bergoyang, remnya tidak meyakinkan, dan beban bertambah karena membawa logistik yang harus tiba secepat mungkin. Setiap tikungan terasa seperti lembar terakhir dalam hidup seseorang. 


Sebelum rem blong terjadi, kami sudah mengalami beberapa kejutan kecil: truk menjerit, beberapa kali hampir mundur karena tak mampu menanjak, tikungan yang menukik ke jurang, dan kabut tebal yang turun seperti tirai menutup pandangan dalam hitungan detik, ditambah hujan yang terus menerus mengguyur seluruh hutan. 


Ketika rem benar-benar hilang kendali, dunia seakan berhenti. Tidak ada waktu untuk panik. Tidak ada ruang untuk berpikir panjang. Jurang terbentang di depan seperti mulut hitam yang siap menelan kendaraan tanpa menyisakan jejak. Di kiri pun jurang. Roda terus meluncur, seolah dipaksa oleh takdir yang tak bisa dinegosiasikan.


Lalu semuanya terjadi secepat kilat: tangan sopir menarik rem tangan sekuat tenaga, gigi dilempar ke gigi satu, tubuh kami terguncang keras, suara geraman mesin memekakkan telinga — dan truk berhenti. 


Asap rem mengepul tebal, bau besi panas menguap ke udara. Jantung berdegup seperti dipukul dari dalam dada. Lutut gemetar. Hanya napas sendiri yang terdengar tak beraturan. Kami saling menatap, mata lelah sukar percaya bahwa kami belum jatuh ke dasar jurang.


Di ketinggian Singgah Mata, suara biasanya hilang ditelan angin. Namun sore itu, hening yang paling menakutkan—hening yang kerap disebut orang tua sebagai “hening yang membawa firasat”. Hening yang membuat kami merasa diawasi oleh sesuatu yang lebih tua dari hutan, lebih gelap dari jurang.


Yang membuat kami kembali bergerak bukan keberanian atau sok heroik, melainkan kebutuhan. Bantuan harus tiba. Di depan sana, tim lain sudah lebih dulu menembus kabut. Di belakang kami, ratusan orang menunggu logistik untuk bertahan hidup malam itu. Kami tidak bisa mundur; kami tidak boleh jatuh.


Kami berkumpul, mengatur strategi. Seseorang turun meminta pertolongan. Beberapa menit kemudian, rombongan tiba di lokasi tempat truk berhenti. 


Pada saat itu hadir Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Kemangan; penyerahan simbolis berlangsung di lokasi truk. Acara didampingi Sekda Nagan dan Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh.


Bantuan secara resmi diserahkan, namun persoalan teknis belum selesai: rem truk masih tidak berfungsi, starter bermasalah, dan kampas rem hangus. Sopir membongkar roda depan untuk memeriksa kampas. Beberapa dari kami menata ulang muatan agar lebih seimbang. 


Sesudah perbaikan darurat, malam telah gelap. Hujan turun di luar; truk melaju pelan, menerabas segala ketidakmungkinan dan menantang ketakutan.


Akhirnya truk tiba di lokasi penyerahan kedua. Bantuan diserahkan kembali dan diterima oleh camat setempat.


Di ketinggian itu kami belajar: bencana bukan hanya soal air bah atau longsor. Kadang bencana adalah perjalanan menuju lokasi bencana itu sendiri. Jalan untuk menolong justru bisa lebih mematikan daripada tempat yang membutuhkan pertolongan.


Malam itu Singgah Mata menjadi saksi bahwa manusia memang keras kepala: diperingatkan berkali-kali oleh rem blong, kabut tebal, dan jurang menganga, namun tetap memaksakan langkah. Bukan karena merasa kuat, melainkan karena tahu tak ada yang akan menggantikan posisi kami jika kami berhenti.


Ada kalanya sebuah perjalanan bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah ujian seberapa jauh kemauan untuk menantang maut demi orang-orang yang menunggu di ujung jalan. Di pegunungan itu, di truk seadanya yang remnya payah, kami belajar bahwa batas antara hidup dan gugur bukan garis tegas, melainkan tiga jengkal tanah yang berhasil menghentikan roda tepat pada waktunya.


Pilo Poly