Film ini dibuka dengan kecepatan tinggi, menampilkan montase penuh gaya tentang asal-usul dan pencapaian tim untuk menghindari pengulangan cerita mereka. Memang terlihat stylish, tapi juga terasa seperti film ini berlari kencang sebelum benar-benar menemukan pijakannya. Untungnya, begitu cerita mulai berjalan, ritmenya tidak pernah melambat—kadang jadi kelebihan, kadang juga kelemahan.
Sutradara Matt Shakman menghadirkan dunia retro-futuristik yang unik dibandingkan Earth-616, dengan desain penuh warna dan nuansa ala Disney. Namun, momen paling kuat justru bukan dari visual megahnya, melainkan dari interaksi manusiawi yang lebih tenang.
Soal pemeran, semuanya terasa tepat. Pedro Pascal berhasil menangkap sosok Reed Richards dengan kecerdasan tak pernah padam, yang sering membuat timnya frustrasi. Vanessa Kirby sebagai Sue Storm menjadi pusat emosional film, membawakan adegan dramatis paling berat. Ebon Moss-Bachrach akhirnya menghadirkan The Thing yang selalu diinginkan penggemar—keras tapi penuh hati. Sementara Joseph Quinn sebagai Johnny Storm memang tak mendapat banyak sorotan, tapi tetap mencuri perhatian dalam satu adegan penting.
Yang menarik, film ini menampilkan semua anggota tim sebagai sosok cerdas dan mampu, bukan hanya Reed. Sue punya momen luar biasa yang tak ada hubungannya dengan kekuatannya, sementara Ben dan Johnny menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri. Sentuhan yang terasa sangat “komik” ini jelas akan memuaskan para penggemar lama.
Puncak energi datang dengan hadirnya Julia Garner sebagai Silver Surfer. Kehadirannya langsung menyuntikkan nyawa baru ke cerita, membawa kita ke sebuah sekuens kosmik menakjubkan melawan Galactus—salah satu adegan visual terbaik MCU dalam beberapa tahun terakhir. Ralph Ineson sebagai Galactus tampil mengesankan dengan postur megah dan suara ikoniknya, sementara Paul Walter Hauser sebagai Mole Man hanya muncul sebentar, tapi langsung mencuri tawa dalam salah satu adegan terlucu MCU. Bahkan robot HERBIE pun meninggalkan kesan mendalam.
Meski begitu, film ini tetap punya masalah di ritme. Babak pertama terasa kosong, dan ketika aksi akhirnya dimulai, film nyaris tak pernah berhenti sejenak untuk memberi ruang karakter bernapas. Kekuatannya Reed justru jarang digunakan, seolah film enggan menampilkan sepenuhnya. Interaksi antar karakter memang seru, tapi sering terasa seperti daftar yang harus dicentang, bukan perkembangan alami.
Pada akhirnya, The Fantastic Four: First Steps memang pantas menyandang judulnya—terasa seperti awal dari sesuatu yang lebih besar, tapi penuh tersandung di sana-sini. Pemerannya solid, visualnya memukau, musik dan humornya juga mengena. Namun tetap ada percikan yang hilang, membuat film ini belum bisa mencapai puncaknya.
Film ini mungkin tidak sempurna, tapi sejauh ini tetap menjadi film Marvel terbaik tahun ini—meski itu bukan pujian setinggi yang seharusnya.
🎬 Final rating: 7.5/10 – film ini solid, menghibur, dan jadi langkah awal yang menjanjikan, tapi belum mencapai level epik yang seharusnya.
