Sebelumnya, kuucapkan terima kasih kepada jajaran redaksi Buletin Jejak yang sudah memberikan kesempatan kepada puisiku untuk tampil di edisi 45, Desember 2014. Semoga ajang silaturahmi ini terus berlanjut antara penggerak-penggerak sastra seluruh Indonesia. Mohon maaf tidak dapat berhadir pada tempo hari di kegiatan Forum Sastra Bekasi.
Juz Amma
Ke ceruk lengking suaramu,
ingin kuhidup dan berteduh di situ.
mendengar segala surat
yang telah lama tak lagi dekat
apa itu alif, ba, ta, sa
atau jim, ha, kha
yang setiap magrib dulu
jadi guru paling merdu
sebab zaman kini telah lancang
kita lebih sering berbincang
atau tertawa sendiri di depan televisi
tidak lagi menghitung seberapa perlu mengaji
Pamulang, 2014
Nyak Ni
ada biru lebam di sekujur tubuhnya;
tempat orang-orang melukis murka
di bawah bulan purnama
dengan caci maki dan gagang senjata
masih ia ingat betul
seperti apa rupa-rupa orang itu;
orang-orang pendatang
turun dari kapal perang
Nyak Ni sering bertanya dalam hatinya;
“Tuhan, apakah ini dosa? Jika kugugurkan bayi
dalam kandungku, benih orang-orang itu,
yang sudah pulang ke kampung halamannya?”
Pamulang, 2014
Kilau Embun di Pucuk Tebing
Ada angin dalam tubuhku
sendiri membisiki aku
dengan zikir-zikr hening
umpama kilau embun di pucuk tebing
Pamulang, 2014
Desember Biru
Remah rumahku
kutemukan di atas bukit
yang hutan-hutannya tak lagi punya gembira
diambil seluruh gelombang raksasa
Aku masuk ke rumah itu
di dalamnya kutemukan; kursi yang begitu kaku
wajah ibu yang hanya tinggal bayangnya
serta dua lembar foto bernoda lumpur di atasnya
Pamulang, 2014
Juz Amma
Ke ceruk lengking suaramu,
ingin kuhidup dan berteduh di situ.
mendengar segala surat
yang telah lama tak lagi dekat
apa itu alif, ba, ta, sa
atau jim, ha, kha
yang setiap magrib dulu
jadi guru paling merdu
sebab zaman kini telah lancang
kita lebih sering berbincang
atau tertawa sendiri di depan televisi
tidak lagi menghitung seberapa perlu mengaji
Pamulang, 2014
Nyak Ni
ada biru lebam di sekujur tubuhnya;
tempat orang-orang melukis murka
di bawah bulan purnama
dengan caci maki dan gagang senjata
masih ia ingat betul
seperti apa rupa-rupa orang itu;
orang-orang pendatang
turun dari kapal perang
Nyak Ni sering bertanya dalam hatinya;
“Tuhan, apakah ini dosa? Jika kugugurkan bayi
dalam kandungku, benih orang-orang itu,
yang sudah pulang ke kampung halamannya?”
Pamulang, 2014
Kilau Embun di Pucuk Tebing
Ada angin dalam tubuhku
sendiri membisiki aku
dengan zikir-zikr hening
umpama kilau embun di pucuk tebing
Pamulang, 2014
Desember Biru
Remah rumahku
kutemukan di atas bukit
yang hutan-hutannya tak lagi punya gembira
diambil seluruh gelombang raksasa
Aku masuk ke rumah itu
di dalamnya kutemukan; kursi yang begitu kaku
wajah ibu yang hanya tinggal bayangnya
serta dua lembar foto bernoda lumpur di atasnya
Pamulang, 2014
