![]() |
| Sumber Google |
Bahasa apa yang paling dekat dengan kita adalah kenyataan-kenyataan yang terus ada dan tak pernah mati. Ada jiwa di sana yang ingin terus hidup umpama bahasa kalbu, atau dengan kata lain bahasa yang hidup untuk terus menerus lalu menjadi pemompang segala kenyataan itu. Umpama perjalanan yang tak pernah putus. Seseorang akan berhenti saat ia lelah, atau mungkin menemukan pikiran-pikiran yang liar dalam dirinya serupa menemukan benda-benda aneh yang belum pernah dilihatnya sendiri.
Dan bertahun-tahun kemudian, setelah banyak luka dan perang panjang hingga menikam mereka berjuta kali, mereka akan terus ada walau ia telah mati. Apa yang ada? Yang ada adalah kenyataan yang ia tinggalkan. Mau itu sebuah pot bunga, cincin, atau pun kertas yang di dalamnya tertulis, "hidup adalah pengembaraan yang tak pernah bisa memungkiri takdir. Namun, takdir itu sendiri bisa berubah tatkala seseorang ingat pada pesan terdahulu yang lambat laun membentuk dirinya serupa identitas seseorang dengan wajah dan nama yang berbeda."
Sebagian orang lain, kenyatan-kenyataan tersebut terserap ke dalam dirinya. Lalu membentuk sebuah opini, isu-isu, kemudian menjadi yang lebih besar dan punya tujuan yang tak pernah mati atau tertahan pada suatu permasalahan. Namun begitu, semua tidak akan pernah berjalan lancar. Pasti ada lubang-lubang yang di dalamnya yang terdapat beling-beling kaca yang melukai. Dan ketika ada luka, sebagian orang dapat merasakan sakit. Menjelaskan seberapa parah luka itu. Tapi tidak dengan luka yang lain, yaitu luka yang bahkan tidak dapat terdefiniskan bahkan oleh bahasa sekalipun kecuali lewat umpama-umpama yang tak mudah dipahami oleh sebagian orang lainnya.
Aku menemukan hal itu terus terjadi. Ada kesimpangan-kesimpangan yang menjalar bagaikan virus dan tak punya obat penawar. Kesimpangan pada kenyataan-kenyataan yang ada. Yang tak pernah berubah karena perubahan tak pernah dilakukan dan tidak menjadikannya sebuah tugas bersama di mana satu pemikiran tak akan pernah bisa berjalan sendiri-sendiri melainkan dalam kebersamaan. Seperti seekor merpati putih yang terus terbang, tapi mereka punya tujuan. Sedangkan kenyatan-kenyatan yang ada hanyalah fatamorgana. Lahir dan dibesarkan tanpa tujuan. Akhirnya, terjebak dalam kebingungan diri sendiri dan mengira bahwa dirinya seperti tiori Charles Darwin itu---seekor monyet---dan terus menjadi seekor monyet. Dan itu juga sebuah kenyataan yang benar-benar nyata pada dirinya sendiri. Di diri orang itu. Yang menjadi monyet dalam pikirannya. Dan itulah sebuah kenyataan.
Dan bertahun-tahun kemudian, setelah banyak luka dan perang panjang hingga menikam mereka berjuta kali, mereka akan terus ada walau ia telah mati. Apa yang ada? Yang ada adalah kenyataan yang ia tinggalkan. Mau itu sebuah pot bunga, cincin, atau pun kertas yang di dalamnya tertulis, "hidup adalah pengembaraan yang tak pernah bisa memungkiri takdir. Namun, takdir itu sendiri bisa berubah tatkala seseorang ingat pada pesan terdahulu yang lambat laun membentuk dirinya serupa identitas seseorang dengan wajah dan nama yang berbeda."
Sebagian orang lain, kenyatan-kenyataan tersebut terserap ke dalam dirinya. Lalu membentuk sebuah opini, isu-isu, kemudian menjadi yang lebih besar dan punya tujuan yang tak pernah mati atau tertahan pada suatu permasalahan. Namun begitu, semua tidak akan pernah berjalan lancar. Pasti ada lubang-lubang yang di dalamnya yang terdapat beling-beling kaca yang melukai. Dan ketika ada luka, sebagian orang dapat merasakan sakit. Menjelaskan seberapa parah luka itu. Tapi tidak dengan luka yang lain, yaitu luka yang bahkan tidak dapat terdefiniskan bahkan oleh bahasa sekalipun kecuali lewat umpama-umpama yang tak mudah dipahami oleh sebagian orang lainnya.
Aku menemukan hal itu terus terjadi. Ada kesimpangan-kesimpangan yang menjalar bagaikan virus dan tak punya obat penawar. Kesimpangan pada kenyataan-kenyataan yang ada. Yang tak pernah berubah karena perubahan tak pernah dilakukan dan tidak menjadikannya sebuah tugas bersama di mana satu pemikiran tak akan pernah bisa berjalan sendiri-sendiri melainkan dalam kebersamaan. Seperti seekor merpati putih yang terus terbang, tapi mereka punya tujuan. Sedangkan kenyatan-kenyatan yang ada hanyalah fatamorgana. Lahir dan dibesarkan tanpa tujuan. Akhirnya, terjebak dalam kebingungan diri sendiri dan mengira bahwa dirinya seperti tiori Charles Darwin itu---seekor monyet---dan terus menjadi seekor monyet. Dan itu juga sebuah kenyataan yang benar-benar nyata pada dirinya sendiri. Di diri orang itu. Yang menjadi monyet dalam pikirannya. Dan itulah sebuah kenyataan.
