Sebelumnya, saya hanturkan rasa terima kasih buat Mas Gusur Adhikarya yang telah saban petang menemukan jejeran pertanyaan-pertanyaan saya tentang segala hal. Terima kasih...
Sebuah Kenangan
dan kita telah terlalu jatuh dan jauh
dari tempat yang pernah kita jadikan sauh
mungkin tempat itu kini telah berkarat
karena tak pernah lagi kesana kita dekat
padahal hanya tempat itu satu-satunya kenangan
di mana remah cinta kita pernah tertahan
ingin menjangkau kilau pelagi
walau tak pernah kesana kita sampai
lalu aku ingat sebuah teras yang diterangi bulan purnama
pernah kita duduk dan bercanda disana bersama
menutup rapat-rapat setiap masalah yang ada
larut dengan ombak dan irama di sebuah pantai di kuta
tapi itu dulu
saat aku tak tahu siapa dirimu
sebelum kau berubah jadi ungu
dan hilang dalam indah mataku:
sebagai seekor kupu-kupu
Pamulang, 2014
Pura-pura Lupa
Kusimpan baik-baik, apa yang kulihat terang
tentang ketidakjujuranmu lagi
dan aku berpura-pura tidak mengetahui
aku tahu apa yang telah
sehingga dari itu aku diam
karena sejatinya aku, luka adalah teman
lalu aku mencoba berpura-pura untuk
merengkuhmu lagi, padahal ribuan kecewa
telah berkandung pada tubuh lemah ini
dan dentang kecil gerimis di atas genteng rumah,
telah menghayutkan segalanya-galanya untuk beberapa waktu
akhirnya aku sepi dan sendiri, menghitung seberapa waktu untuk melupakanmu
Pamulang, 2014
Karena Jarak Selalu Berdusta
Entah sedih atau tidak
aku tak dapat menebak
karena di luar sana, tak ada lagi rahasia
kadang aku terlanjur menemukan diriku berkaca pada nasib
kadang pula nasib yang membuatku terlanjur tak menemukan diriku sendiri
karena di luar sana, tak ada lagu yang membuatku bahagia
entah sebab engkau
entah pula sebab diriku sendiri
yang menyusun segala duga, tentang jarak selalu berdusta
Pamulang, 2014

RahasiaNya
Desas-desus hujan
tumbang di tanah-tanah
tubuhnya dari langit
pecah antara jerit
wajah-wajah gigil
tenggelam menanti bulan
mereka berharap saat bulan benar-betul menganga
mereka sudah tertidur walau tak lama
membiarkan setiap segalanya dibawa air, dibawa akhir
dalam hujan, Tuhan telah menentukan rahasiaNya
Puri Gading, 2014
Merindukan
:Alisia Adella Meilisia
ada yang jatuh berdebam malam itu
tapi aku tak tahu letaknya di mana
hingga aku mencari tanpa henti
lalu menemukan:
yang jatuh berdebam itu adalah
sebuah rindu yang dalam
seperti aku yang kini merindumu
di tengah malam
Puri Gading, 2013
Sehelai Daun Yang Merindukan Ranting
Yang jatuh di antara bukit
adalah airmata sehelai daun
padahal ia telah yatim
setelah ditinggal ranting
lalu berdiam di lekuk tanah
sampai ia gerah
dan angin
kemanakah kau ingin membawanya?
Jakarta, 2013
Pilo Poly adalah nama pena dari Saifullah S. Lelaki berdarah Aceh ini sekarang menetap di Jakarta. Beberapa karya puisinya telah di muat di harian Lokal dan Nasional. Buku Puisi tunggalnya adalah Yusin dan Tenggelamnya Keadilan (2014). Novel bertajuk Kabar dari Sepasang Angin akan segera terbit.
Terbit di Tabloid Gaul edisi 09, 2014
Sebuah Kenangan
dan kita telah terlalu jatuh dan jauh
dari tempat yang pernah kita jadikan sauh
mungkin tempat itu kini telah berkarat
karena tak pernah lagi kesana kita dekat
padahal hanya tempat itu satu-satunya kenangan
di mana remah cinta kita pernah tertahan
ingin menjangkau kilau pelagi
walau tak pernah kesana kita sampai
lalu aku ingat sebuah teras yang diterangi bulan purnama
pernah kita duduk dan bercanda disana bersama
menutup rapat-rapat setiap masalah yang ada
larut dengan ombak dan irama di sebuah pantai di kuta
tapi itu dulu
saat aku tak tahu siapa dirimu
sebelum kau berubah jadi ungu
dan hilang dalam indah mataku:
sebagai seekor kupu-kupu
Pamulang, 2014
Pura-pura Lupa
Kusimpan baik-baik, apa yang kulihat terang
tentang ketidakjujuranmu lagi
dan aku berpura-pura tidak mengetahui
aku tahu apa yang telah
sehingga dari itu aku diam
karena sejatinya aku, luka adalah teman
lalu aku mencoba berpura-pura untuk
merengkuhmu lagi, padahal ribuan kecewa
telah berkandung pada tubuh lemah ini
dan dentang kecil gerimis di atas genteng rumah,
telah menghayutkan segalanya-galanya untuk beberapa waktu
akhirnya aku sepi dan sendiri, menghitung seberapa waktu untuk melupakanmu
Pamulang, 2014
Karena Jarak Selalu Berdusta
Entah sedih atau tidak
aku tak dapat menebak
karena di luar sana, tak ada lagi rahasia
kadang aku terlanjur menemukan diriku berkaca pada nasib
kadang pula nasib yang membuatku terlanjur tak menemukan diriku sendiri
karena di luar sana, tak ada lagu yang membuatku bahagia
entah sebab engkau
entah pula sebab diriku sendiri
yang menyusun segala duga, tentang jarak selalu berdusta
Pamulang, 2014

RahasiaNya
Desas-desus hujan
tumbang di tanah-tanah
tubuhnya dari langit
pecah antara jerit
wajah-wajah gigil
tenggelam menanti bulan
mereka berharap saat bulan benar-betul menganga
mereka sudah tertidur walau tak lama
membiarkan setiap segalanya dibawa air, dibawa akhir
dalam hujan, Tuhan telah menentukan rahasiaNya
Puri Gading, 2014
Merindukan
:Alisia Adella Meilisia
ada yang jatuh berdebam malam itu
tapi aku tak tahu letaknya di mana
hingga aku mencari tanpa henti
lalu menemukan:
yang jatuh berdebam itu adalah
sebuah rindu yang dalam
seperti aku yang kini merindumu
di tengah malam
Puri Gading, 2013
Sehelai Daun Yang Merindukan Ranting
Yang jatuh di antara bukit
adalah airmata sehelai daun
padahal ia telah yatim
setelah ditinggal ranting
lalu berdiam di lekuk tanah
sampai ia gerah
dan angin
kemanakah kau ingin membawanya?
Jakarta, 2013
Pilo Poly adalah nama pena dari Saifullah S. Lelaki berdarah Aceh ini sekarang menetap di Jakarta. Beberapa karya puisinya telah di muat di harian Lokal dan Nasional. Buku Puisi tunggalnya adalah Yusin dan Tenggelamnya Keadilan (2014). Novel bertajuk Kabar dari Sepasang Angin akan segera terbit.
Terbit di Tabloid Gaul edisi 09, 2014