Pikiran Saya 30 Hari Lalu



Pikiran Saya 30 Hari Lalu
Oleh Pilo Poly

Saya kira, hal yang beberapa hari ini terlalu menjadi buah bibir para orang hebat itu tak lebih dari ingin mengangkatnya sebuah bacaan kepada khalayak luas. Inilah bacaan yang bagus, yang itu tidak bagus. Inilah bacaan yang harus dijadikan landasan sastra terhebat di negeri ini, yang lain tidak. Jika merujuk pada status, di sana ada 'penghakiman' dari empunya status bahwa, rendahnya selera mereka terhadap sastra, lemahnya pengetahuan mereka, dan kurangnya wawasan mereka. Padahal, sebelum karya sastra itu dinyatakan sebagai pemenang, sudahlah pasti ada rembukan-rembukan besar yang lahir.
Mungkin juga, seperti yang kita ketahui, telah banyak sekali hal yang melenceng dalam segala sisi dunia. Mau itu politik, sastra, sampai pengalihan isu besar korupsi kepada sebuah opini yang lebih luas yaitu 'penyadapan'. Dengan begitu, kasus-kasus yang seharusnya tuntas diam-diam jatuh bagaikan kayu lapuk, lalu diinjak oleh pejalan kaki. Lama kelamaan, kayu lapuk itu akan mengendap dalam tanah. Berbaur dengan mereka sampai kita tidak mengelainya lagi.
Sama seperti polimik yang sedang terjadi ini. Jalan-jalan yang menghubungkan mereka begitu erat. Atas dasar apa sebuah 'pengakuan' jika bukan ada timbal balik? Ini hanya rekayasa. Ini hanya sebuah isu yang dianggap akan booming jika orang yang 'mengiklankannya' adalah orang yang booming pula. Tak perlu heran, perang politik, cyber, dan sastra adalah sebuah rumah yang hanya membedakan cara masuk dari pintu mana.
Lagian, di negeri ini, siapapun boleh bicara. Selama iya tak menyerang dan menimbulkan kegaduhan. Selama darah dan tangan tak sampai terkena badan. Selama itu pula mulut bisa bicara bebas. Selama itu pula hanya yang merasa ‘disakitai atau dikhianati’ patut membuka pintu rumah pengacara saat malam buta.

Wassalam
Pilo Poly