Menerobos Etika Sajak



Tuhan, Tiduri Aku Lagi
Oleh Annisa J. Maezha

Malam ini
Aku mau kau tiduri lagi!

Kau mau apa?
Keningku?
Pipiku?
Bibirku?
Leherku?
Dadaku?

Silahkan
Segalanya untuk-Mu

Kecup kengingku,
Agar aku tak selalu berpikir
Di luar batas Dzat-Mu

Tiup kelopak mataku
Ata aku tak sembarang
Melihat hal yang dilarang
Oleh-Mu

Cium pipiku,
Agar aku tak mudah bersemu
Ketika setan menggodaku

Lumat bibirku
Agar aku tak kelu melafal
Kalimat dusta dan nista

Nikmati leherku,
Agar tak aku terpaku pada
Pandangan duniawi
Yang ditentang oleh-Mu

Jilati dadaku,
Agar aku jauh dari dengki
Dan kotoran hati
Sertan senantiasa memelihara
Sabar-Mu

Jadi?

Aku ikhlas Kau setubuhi

Brebes, 13 Juni 2012

Majalah HORISON edisi
Desember 2012


Menerobos Etika Sajak
Oleh Pilo Poly

Menulis puisi menurut Ignas Kleden harus mempunyai dua alasan. Alasan pertama adalah kerena dorongan hati, kepiawaian penulisnya dalam mengartikulasi setiap apa yang ia tulisakan ke dalam bentuk puisi atau sajak, dan daya penciptaan sebuah tulisannya. Kedua, puisi atau sajak ditulis karena seorang penulisnya menganggap bahwa terkadang puisi boleh jadi medium untuk menorehkan kegelisahan hati terhadap apa yang sering ia rasakan ataupun sebuah kejadian. Namun, ketika kita berbicara tentang Tuhan, maka kita akan berbicara tentang kepurbaan yang jauh lebih tua ribuan tahun dari umur kita sendiri. Dan mau tidak mau, kita harus jauh menyelam. Bahkan harus terlalu jauh untuk mengerti tata cara untuk sebuah penyebutan. Juga mungkin menghindari kata-kata yang tidak pantas. Walau tujuannya adalah medium untuk menyampaikan perasaan dan kegelisahan. Medium yang akan mengantarkan penulisnya lebih tafakur. Kadang kita tidak pernah sadar, apa yang kita anggap baik, belum tentu bisa diterima oleh lain khalayak. Seperti penggunaan kata-kata, permainan bahasa, artikulasi, pandanan, dan lain halnya.

“Tuhan, Tiduri Aku Lagi!”

Sebuah judul yang sangat memikat dan juga membuat tubuh berkeringat. Saya rasa, berbicara masalah Tuhan memang sangat sakral. Kadang beberapa penulis lain ingin menghindari penulisan seperti judul di atas. Ada rasa yang tidak dapat dijabarkan, seperti ada yang menggantungi ditenggorokan saat judul puisi di atas kita baca. Dalam tulisan ini, tidak ada maksud-maksud tertentu untuk menyudutkan penulisnya, melainkan lebih pada pangarahan tata cara kepenulisan yang wajar. Dengan sedikit lebih menyembuyikan beberapa judul agar lebih soft ketika dibaca. Tidak terlalu vulgar untuk dikonsumsi oleh khalayak. Dan kita berbicara tentang kewajaran dan sebuah etika. Saya lebih suka jika judul puisi di atas lebih disamarkan lagi menjadi seperti “Tuhan, Tenggelamkan Aku Lagi!” atau “Tuhan, Basuh Aku Lagi!” Namun, ketika penulis puisi di atas telah kukuh dengan pendiriannya, maka ia harus menerima setiap konsekwensinya sebagai ibu dari karya yang ia lahirkan. Apapun itu kritik dan saran terhadap anaknya (Puisi/Sajak) harus diterima dengan lapang dada. Karena sejatinya, setiap kerya yang sudah keluar rumah, berarti harus siap menghadapi badai apapun di luar sana.

Malam ini
Aku mau kau tiduri lagi!

Kau mau apa?
Keningku?
Pipiku?
Bibirku?
Leherku?
Dadaku?

Silahkan
Segalanya untuk-Mu

Dalam bait ke pertama dan kedua puisi ini, saya sedikit tergelitik untuk meninjau lebih jauh makna yang terlihat dari puisi ini. Walau memang jelas bahwa setiap cumbuan yang ia utarakan pada Tuhan adalah sebuah kesenantiasaan untuk menutup dirinya lebih jauh dengan hiruk pikuknya dunia dan jahilnya manusia kekinian. Tapi, apa bedanya puisi-puisi ini dengan puisi lainnya yang hanya memakai bahasa-bahasa yang sama? Hanya melahirkan sebuah kegelisahan yang sudah sering terjadi? Yang sebenarnya jika penulisnya lebih sedikit sabar untuk menunggu, maka bahasa “Jahil” dalam puisi ini tidak akan kita baca “Kejahilannya”. Atau kita tidak akan menemukan hal-hal mesum yang kita lakukan dengan Tuhan walau sekali lagi saya katakan bahwa memang benar penulisnya tidak bermaksud demikian, tapi kadang tulisan bisa lebih memabukkan dari pada seteguk anggur-anggur yang disimpan ribuan tahun lamanya.

Sekarang mari menuju puncak dari puisi ini. Dengan terang benderang penulisnya menulis puisi penuh bakti cinta pada Tuhannya. Tapi apakah tiada cara lebih lembut dari pada sebuah percumbuaan sebenarnya? Percumbuan yang sering kita dengan dan prektekkan. Tidak sepatutnya menjadi sebuah kilasan dalam puisi dan mengganding nama Tuhan. Mari lihat bait beriktnya:

Kecup kengingku,
Agar aku tak selalu berpikir
Di luar batas Dzat-Mu

Tiup kelopak mataku
Ata aku tak sembarang
Melihat hal yang dilarang
Oleh-Mu

Cium pipiku,
Agar aku tak mudah bersemu
Ketika setan menggodaku

Lumat bibirku
Agar aku tak kelu melafal
Kalimat dusta dan nista

Nikmati leherku,
Agar tak aku terpaku pada
Pandangan duniawi
Yang ditentang oleh-Mu

Jilati dadaku,
Agar aku jauh dari dengki
Dan kotoran hati
Sertan senantiasa memelihara
Sabar-Mu

Jadi?

Aku ikhlas Kau setubuhi

Brebes, 13 Juni 2012

Yang paling tidak berkenan kita baca dan kita jadikan bahan renungan adalah di bait “Jilati dadaku” menurut hemat saya, ketika kita benar-benar ingin bersatu dengan Tuhan, tidak mesti memakai kata-kata mesum (yang pasti akan membuat pembaca awam memaknai hal tersebut dengan caranya sendiri). Kita harus teliti dalam setiap detailnya. Karena sekali lagi, ini menyangkut nama Tuhan. Tuhan dalam kehidupannya yang Abadi, Tuhan yang kehidupannya dapat bermanifestasi dalam apapun. Tapi tidak dengan kita. Kita hanya bisa bermanifestasi sesuai kehendak yang telah diaturnya.

Semoga tulisan pendek ini dapat membawa kita menjadi insan lebih cendikia dalam menilai dan menghayati banyak hal, terutama yang berhubungan dengan Tuhan. Apalagi tentang puisi. Puisi hakikatnya bagaikan hujan. Ada yang suka, ada pula yang tidak suka.

Wassalam
Pilo Poly

Puri Gading, Maret 2013