Antologi Jatuh Cinta Pada Palestina



Kabar darah

pagi-pagi sekali deru mesin penghancur beton dikumpulkan, selayaknya upacara mereka berdiri sejajar, siap menghajar rumah-rumah di tanah kesaksian. Satu persatu misi dijalankan untuk tujuan pemusnahan etnik Islam.

Menjelang siang pria tegap berkalung senapan mendekat. Menghapiri setiap lorong-lorong mengacungkan dendam. Ia menjadi malaikat pencabut nyawa gadungan. Menodongkan rentetan-rentetan peluru ke arah jalanan.

Saat lembayung menghias langit Tuhan terlukis di kaki langit, kita tahu itu pertanda malam akan datang. Dikegelapan itu bubuk mesiu mengabarkan kematian. Lama sudah mereka lakukan bahkan setiap malam membunuh dengan kebengisan. Kabar darah muncul lagi di tanah kesaksian. Palestine, tersudut di tempat kelahiran.

Puri Gading
, 2012


Membaca Palestine

Tanah yang luas, mengganas musnah tertelan bengisnya serdadu Pemerintah. Gaza telah sempit terhimpit kisah, memupuk harap agar kembali fitrah. Seperti dulu menggenggam erat segala senyum merekah.

Dua puluh empat jam sudah mengeringkan darah di setiap jalan pun rumah, anak kecil pergi ke langit dengan seulas senyum indah, ia seperti memberi pesan kepada Ayah. Doakan aku agar bertemu denganmu di tanah keabadian surganya Allah.

Kini negeri itu tersudut gundah di tengah Negara Islam, tak ada celah untuk berbagi kisah larah, mereka hanya melihat dengan mata tertutup, telinga tersumpal dogma-dogma salah. Hanya doa yang bisa kupanjatkan pada Allah. Agar terbalas darah dengan darah. Di negerimu Islam akan bangkit, doa menengadah.

Puri Gading, 2012