Terbit Di Radar Seni IV

Ilustrator By Google
Melupakan Bagaimana Wajah Ibu

aku menatapmu sungguh-sungguh
di sebuah peron yang jadi sejarah
di sana kau diam-bisu
tak perduli lalu lalang orang kehilangan
seperti anak bayi dibuang ibunya tepat dihadapmu
bagimu itu bukan masalah yang harus kau pecah-selesaikan

aku melangkah pergi
tak kuasa melihatmu duduk gagu sambil mencoret-coret secarik kertas
kadang aku menemukan kertas-kertas itu tetap sama denganmu diam dan bisu.

dan aku tahu, engkau menjerat diri sendiri bersama waktu
melupakan bagaimana wajah ibumu ketika mencampakkanmu di peron itu
sama seperti aku, dan jerit bayi yang baru saja dibuang ibunya dihadapanmu


(Puri Gading, 2013)


Sepanjang Malam

aku sudah mencoba untuk melupakan
setiap lembar umurku telah mengetahuinya
bagaimana aku yang gagu tak menentu
menanti yang tak mungkin mengakui
hingga punggungku lelah menunggui

walau mataku menembus kilat-kilau keramik peron itu
namun langkahmu terdengar setiap waktu
membawa desiran aneh bin ajaib
aku selalu berpikir engkau adalah seseorang yang gaib
mencoba berbicara denganku lewat matamu yang lancip

sepanjang malam itu
setelah derit langkahmu hilang
aku berpaling ke tempat kau berteduh
mengendus setiap aroma tubuhmu di besi tua itu
catnya yang putih bersih, meninggalkan sebuah tanda untukku
sepanjang tahun aku termangu
sepanjang itu pula kau berdiri si situ
menatapku yang gagu dengan kertas yang tak kunjung kulukis wajahmu

(Puri Gading, 2013)


Bangkit Menjahit Masa Suram

rambutmu yang kuning
ditimpa cahaya lampu serupa
kau begitu cantik meliuk-liukkan rambutmu
seperti suara saksofon yang tak kunjung kuramu

entah aku telah terjerembab dalam hatimu
karena usai aku meninggalkan kau yang tak datang
aku berniat bangkit menjahit masa suram
menguburnya dalam-dalam walau tak gampang
aku ingin membuang segala sumbang
membiarkan sementara anak sungai di mataku ngambang

dan saat semua telah benar-benar hilang
engkau kutemukan lagi dengan wajah begitu tenang
bersama senyum tipismu di sebuah peron yang tak lagi kita kunjungi
adakah kita telah bisa sama-sama melupakan
tentang kita adalah anak buangan ibunda

(Puri Gading, 2013)


Mampu Mengenal Debar-getar

kita sekarang sudah dewasa
mampu mengenal debar-getar
yang datang dari aku yang bisu
atau tingkahmu yang ragu

tak mungkin lagi kudiamkan rasa
dari semenjak dulu hingga berganti masa
aku tetap menatapmu sesosok gaib itu
membuat kebisuan dalam

ingin sekali aku menari di atas matamu yang lancip
kembali duduk sambil menatapmu dalam-dalam
lalu melukis setiap gerakmu yang diterjang matahari
seperti engkau melukisku dalam setiap ingatan

(Puri Gading, 2013)

Terbit di Radar Seni, 14/04/2013