Camping at Perak Island, Kepulauan Seribu
Oleh Pilo Poly
Jum’at pagi (31/01/2014) kami tiba di Muara Angke. Malam masih bersembunyi di antara gedung dan riak laut yang dipenuhi sampah. Kapal-kapal penangkap ikan yang penuh dengan lampu bulat bening, berkilau di antara kesibukan para nelayan di atasnya.
Setelah 1 jam menunggu para penumpang lain, dengan sabar, sang Nahkoda membawa kapalnya ke luar dari area parkir di atas Muara Angke. Muara yang penuh dengan sampah dan air yang keruh itu sesekali membawa aroma tak sedap. Aroma minyak tumpah. Dan aroma lain yang menyengat ke permukaan.
| Di dalam kapal |
Kapal penumpang menuju pulau Harapan, Kepulauan Seribu, akhirnya perlahan-lahan mulai membelah lautan. Angin tak bersahabat hari itu. Tapi sang Nahkoda tetap akan melayarkan kapalnya membelah lautan yang mulai biru setelah ke luar dari Muara Angke yang kecokelatan. Gedung-gedung tinggi mulai tertinggal jauh di belakang, serta beberapa kapal penumpang lain yang beriring di belakang.
Aku duduk di kursi merah keras di belakang kapal. Sesekali angin laut menampar-nampar wajahku dengan lembut. Di samping kanan, terlihat sebuah pulau kecil yang katanya milik pribadi. Entah telah dibeli pada pemerintah atau seperti apa aku juga tidak tahu. Dan memang katanya banyak pulau-pulau yang sudah jadi milik pribadi.
Angin mulai reda. Kini gelombang mengguncang kapal yang kami tumpangi. Sontak semua orang berteriak histeris. Kami terombang-ambing di tengah lautan. Sedangkan ke tujuan belum sampai dan terlihat sama sekali.
“Sudah dua jam kita di atas kapal,” ucap temanku yang duduk di samping kanan sambil menabuh jimbe dengan semangat walau laut baru saja membuat temanku yang lain mual dan menumpahkan semua yang ia makan ke dalam plastik kresek warna hitam.
“Mungkin sebentar lagi,” sahut teman yang lain sambil memasukkan gitar ke dalam tasnya karena air laut sesekali mulai tinggi dan kadang menghempas para penumpang.
Nahkoda terus saja melayarkan kapalnya. Sesekali ia mematikan mesin kapal karena gelombang di tengah laut besar. Hanya dengan cara itu kapal tidak oleng. Setelah gelombang yang besar dilewati, dengan caranya sendiri sang Nakhoda menghidupkan lagi mesin kapal dan mulai bertarung lagi.
Pukul 12.00 WIB, suara azan jum’at sampai di telinga kami. Berselang beberapa menit setelahnya, kapal dari Muara Angke pun berlabuh di Pulau Kelapa. Kami turun sambil sesekali tertawa dan senang karena sudah di tujuan. Kami mengambil beberapa foto di atas dermaga yang ramai itu dan mulai berjalan menelusuri jalan-jalan kecil di Pulau Kelapa yang nanti akan membawa kami ke Pulau Harapan, lalu menyeberang lagi dengan perahu kecil ke arah Pulau Perak.
| Berlabuh di Pulau Kelapa |
“Kita beli gorengan?” salah satu teman memberi usul. Gorengan sampai di tangan kami bersamaan dengan seorang lelaki berumur sekitar 29 tahunan yang tiba-tiba muncul dengan baju biru Inter Milan.
“Bang ke Pulau Harapan dari mana?” tanya salah satu temanku.
“Owh mau ke Pulau Perak, ya?” lelaki itu dengan senyum ramahnya seperti tahu tujuan kami hendak kemana. Lalu ia pun menawarkan jasa perahunya kepada kami dengan harga sangat bersahabat.
Kami naik lagi ke dalam kapal yang sedang merapat di dermaga kecil tepat di depan polsek Pulau Kelapa. Dermaga itu tak terlalu besar seperti dermaga di ujung yang memang untuk berlabuh kapal penumpang besar. Ikan-ikan kecil di bawah dermaga kapal kecil itu tampak cantik dengan air laut yang biru tembus pandang.
1 jam perjalanan dari Pulau Kelapa, dan setelah melewati banyak pulau-pulau kecil lainnya, kami merapat di dermaga Pulau Perak. Di Pulau Perak, orang-orang yang biasanya camping belum berdatangan. Hanya kelompok kami yang berjumlah 11 orang duluan tiba. Kami disambut salah satu penjaga pulau itu dengan ramah, lelaki berumur sekitar 40 tahunan yang menyelipkan parang dipinggangnya.
| Menuju Pulau Perak |
Kami pun mulai mencari tempat untuk mendirikan tenda. Setelah beberapa kali berpindah, akhirnya kami menemukan tempat paling bagus di ujung pulau sebelah barat dengan pemandangan yang menakjubkan.
“Di sini aja,” ucap salah satu temanku. Dan kami pun mulai mengeluarkan barang-barang keperluan di dalam tas besar tinggi itu. Dari mulai tenda, perlengkapan masak, piring, sendok dll.
| Setelah mendirikan tenda |
Angin sepoi-sepoi hinggap antara tenda kami pada Sabtu (01/02/2014). Karena kedinginan, aku bangun dan mendapati aroma spageti yang pecah di atas udara. Serta laut yang sedikit naik dan menjadi hal yang paling indah untuk dilihat.
“Makan-makan,” kawanku berujar. Sontak yang lagi pada tidur bangun dan menyerbu spageti yang nyami itu. Apalagi setelah kelelahan dari kemarin. Aku menebak pasti semua kelaparan. Dan malam itu, menjadi malam yang paling cepat untuk tidur. Semua terlelap di dengan mimpi-mimpi sendiri.
“Ikan hasil mancingan semalam sedap, ya?”
“Siapa dulu dong yang mancing.”
“Gua, dong!”
Mendengar obrolan itu, aku tertawa sendiri. Memang benar ikan-ikan kecil hasil pacingan semalam uenaaak betul. Apalagi dibakar di atas api unggun yang membara. Menambah indahnya malam itu.
Kami makan dengan lahap. Banyak yang kenyang dan langsung menyeburkan diri mereka ke dalam laut yang pasirnya putih itu. Aroma garam langsung merebak. Ada yang memakai celana pendek, bahkan berenang hanya dengan sempak. Ada yang bergelantungan seperti monyet lalu melompat ke dalam air yang disertai ketawa terkekeh-kekeh.
“Uwooooo, uwooooo.” Kawan-kawanku berteriak seperti seorang tarzan yang lagi bergantung di seutas tali dalam hutan. Aku hanya menikmati keindahan itu. Juga dengan kelucuan-kelucuan yang meluncur secara spontan dari mereka dengan ditemani segelas coffemix yang panas dan sebatang rokok U Mild.
Pagi minggu (02/02/2014), kami selesai dengan camping kami. Sekarang kami bersiap-siap kembali ke Jakarta. Bang Hasan, yang tempo hari membawa kami ke Pulau Perak, telah menyandarkan kepal kecilnya di samping pulau.
“Kok gak di dermaga nyandarinnya, Bang?” tanya salah satu kawan.
“Iya, Mas. Takut nanti kayak kemarin. Perahunya oleng.” Jawab bang Hasan mantap.
Kami tidak segera pulang. Masih ada sisa beberapa makanan yang belum dipakai. Akhirnya, dibantu oleh seorang ibu yang jualan di pulai itu, beberapa makanan seperti mie, kopi, dan susu sachet kami mintakan ibu itu yang masak.
“Oi foto-foto sini!” ajak kawanku yang lain. Sambil menaruh kameranya di tripot, ia menyetel waktu untuk menjepret otomatis. Berselang beberapa menit, beberapa foto terekam di sebuah plang nama yang ditulis dengan warna putih latar belakang biru dengan “PEMERINTAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, KABUPATEN ADMINITRASI KEPULAUAN SERIBU” bersamaan datangnya kopi dan indomie yang sudah disedu dalam sebuah nampan kecil. Kami pun menyerbut ke nampan kecil itu bersama-sama.
| Seruuuu |
Kami naik ke dalam kapal kecil itu. Bang Hasan membantu kami menaikkan beberapa tas kepunyaan kami. Setelah itu, kami kembali dibawa berlayar oleh Bang Hasan ke Pulau Harapan, lalu melanjutkan perjalan menuju Jakarta karena pada senin (03/02/1014) kami harus kembali kerutinitas kerja. Dan selamat tinggal Pulau Perak.
| Siap-siap pulang |