Siapa yang tak kenal Bram. Ia dimata orang kampung adalah jarum dalam jerami. Selalu membuat onar di kampung-kampung sebelah. Ia selalu membawa angin tak sedap ke kampungnya sendiri. Orang-orang kampung sangat sering mendengar keluhan kampung sebelah lantaran Bram sering menelanjangi rumah-rumah mewah di kampung mereka.

“Bram mencuri, Bram mencuri!” begitu kata masyarakat kampung sebelah. Tapi aneh, mereka selalu tidak menemukan bukti.

Tapi orang-orang kampungnya tidak pernah mengerti apa tujuan Bram sebenarnya. Ia terlalu miskin untuk bisa menanak nasi, tapi ia terlalu kaya untuk selalu berbagi hasil curiannya kepada yang lebih miskin dari pada ia sendiri. Dan memang, uang, perhiasan, atau apapun yang ia curi, semua ia bagikan pada orang-orang miskin di mana pun. Ia juga hanya mencuri punya orang-orang yang kaya dengan uang masyarakat. Seperti suatu waktu, entah bagaimana bisa, Bram, bisa meringsek masuk ke salah satu rumah di utara kampungnya. Ia pernah dengar dari obrolan-obrolan di warung kopi kalau ada orang baru yang tinggal di kampungnya dan ketahuan korupsi, tapi setiap diintrogasi oleh pihak keamanan, selalu ia berkilah, dan terlalu banyak orang yang mendukungnya bahwa orang itu tak mungkin melakukan hal yang memalukan itu.

“Orang itu, kaya betul. Dalam sebuah berita, disebutkan bahwa ada di kampung utara satu rumahnya. Warna cokelat. Mobil sepuluh di dalamnya. Motor delapan. Di jaga tiga satpam bergantian!” Dengar Bram.

Pada saat perang meletus. Presiden negara meminta masyarakat untuk bahu membahu, baris-membaris digarda terdepan untuk mengusir penjajah. Bram ketika itu sangat ingin berada digarda paling depan. Ia ingin sekali menyelesaikan setiap dosa dengan berperang fisabilillah di jalan Tuhan. Tapi ketika ia ingin melakukan semua itu, masyarakat kampung dengan tegas menolak kehadirannya.

“Nanti yang ada kau akan membawa sial dalam kubu kami!”  ucap salah satu kepala rombongan yang akan dikirim ke perbatasan. Bram murung, padahal telah ia mengakui semua kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulang apa yang telah ia lakukan tempo dulu. Ia menangis, ia betul-betul cinta akan bangsa ini. Akan apa saja yang ada di tanah ini. Tapi masyarakat tidak mengerti bahwa ia mencintai bangsa ini dengan caranya sendiri.

Dalam kekalutan yang dalam, Bram sangsi dengan niatnya. Ia memutuskan akan pergi meninggalkan kampung. Ia teringat pada Kencana. Sebelum Kencana dijemput Tuhan, ia sempat menitipkan sebuah alamat yang suatu saat akan bisa membantunya.  Kencana adalah salah satu gurunya, ia juga pernah jadi tahanan politik. Politik yang kejam, jurang penindasan. Tanpa peradilan. Tanpa penelusuran.

“Kau akan sampai di sana jika kau berangkat sebelum subuh dari tempatmu lahir, dua hari perjalanan, di sana kau akan banyak mendengar suara alam. Dan ketika itu matahari telah tergelincir menuju timur. Safak merah membelah langit. Awan berubah hitam. Kau bisa mencium bau asap di mana-mana. Kau juga akan merasakan kehadiran guruku.” Begitu pesan Kencana yang masih dihapalnya.

***

Setelah Bram menempuh perjalanan dua hari melewati gunung, ia mulai mendengar pekikan burung yang kelaparan, jangkrik yang tak diam sepanjang jalan, pohon yang bergoyang karena tak henti diterpa angin, dan tanah yang licin diguyur hujan. Semua itu telah menjadi sahabat paling sejati untuknya. Lelah menyerang, asap dari pembakaran kayu terlihat diterbangkan angin, ada permainan Tuhan untuk menentramkan hatinya. Ia teringat pesan Kencana.

“Perjalanan tak jauh lagi.” Bram bersungut dalam hati. Ia menduga-duga.

“Tapi di mana guru itu?” satu pertanyaan yang membuatnya tergelitik. Suara alam makin hilang. Safak dibalik awan sudah redup. Lelahnya akan melahirkan malam. Sebentar lagi akan gulita. Penerangan yang ada baginya adalah berhenti atau berteduh di mana hatinya berkata. Barangkali ia akan melanjutkan perjalanan. Tapi ..., sebuah tepukan mengejutkan dirinya.

“Bram!” kata orang itu. Ubannya sebahu, janggut putih sejengkal membuat Bram kaget. Tapi Bram melihat keteduhan di mata lelaki yang bungkuk itu. Lelaki itu menggunakan tongkat.

“Ada kabar angin, katanya ada tamu jauh. Seorang dari Asahan. Dua hari perjalanan. Namanya berawalan Bram. Sudah pernah kulihat dalam mimpiku. Ketika seseorang hendak lepas dari dunia. Ciri-cirinya seperti engkau.” Kata orang tua itu sambil memperhatikan Bram dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Iya.” hanya itu yang bisa dijawab Bram. Lalu tak ada pembicaraan lagi. Mereka saling diam. Sediam angin yang membawa pesan. Sediam malam melahirkan pagi. Barangkali sediam daun yang gugur lalu menyetubuhi tanah. Tapi yang sama sekali tak diam adalah hati Bram, hatinya bergemuruh kencang. Nyalinya berangsur ciut. Bibirnya sepucat mendung. Sejurus kemudian, ia mengikuti langkah orang tua itu. Langkah yang tegar, walau umur sudah bergetar dibadan. Bram melihat semua itu. Lalu ia teringat lagi akan gurunya yang telah tiada. Kencana.

***

Bau minyak tanah. Cahaya lampu teplok, dan langkah-langkah kecil yang dulu ia dengar tak lagi membuat hatinya berdebar. Bram telah terbiasa dengan hal-hal dan suara-suara itu. Kegelapan yang menjadi tuan rumahnya sekarang adalah terang benderang yang tak terkira. Setelah pertemuan misteri dengan sang gurunya, ia juga semakin misteri. Banyak hal yang telah ia pelajari saat ini. Ia telah siap terjun pada perang sebenarnya. Ia akan turun gunung. Ia akan berperang dengan orang-orang kampung yang mencintai bangsanya. Sama seperti ia mencintai bangsanya dengan caranya sendiri. Ia telah melumatkan hatinya dengan fisabilillah. Ia telah ikhlas.

“Bilang ke orang kampung, nama engkau sekarang adalah Sjah Bandar. Kau yang akan menuntun orang-orang kampungmu menuju kemenangan. Karena pada engkau telah kuturunkan segala ilmu. Hitam dan putih. Dan ingatlah! Segala ilmu yang kutenun dalam dirimu adalah kepunyaan Tuhan. Kesemua kepunyaan Tuhan itu harus kau jaga baik-baik. Kau terikat baiat. Kau terikat dengan banyak hal yang akan membuatmu menderita jika tidak kau pergunakan untuk hal yang baik dan atas nama khalayak. Jangan kau menjadi sia-sia.”

Sambil membungkus bajunya, Bram mencium tangan gurunya itu dengan hikmat. Ia ingin menangis, tapi kata gurunya, lelaki tak boleh melahirkan air mata. Bahkan dipunggung orang mati sekali pun. Akhirnya ia terdiam. Gurunya menghilang. Berubah kupu-kupu, begitu ungu dalam mata Bram.

***

Bram sampai di kampungnya, tapi tak ia dapatkan lagi peta lahirnya seperti sediakala. Rumah-rumah yang tegak dan gagah di tanah kampungnya dulu telah lebur bersama bersama aroma mesiu. Dilahap api berbulan-bulan. Lantas ia bertanya dalam hatinya. Kepada siapa ia hendak mengadu namanya telah diganti? Atau, siapa yang akan tahu bahwa ia yang akan membawa kemenangan pada perjuangan ini? Sambil berjalan, ilmu yang diajarkan gurunya ia hapal dalam hati.

Mengerikan! Mengerikan! Setiap ia lewati kampung demi kampung. Sepanjang itu Bram menemukan desa-desa yang murung.

Bram terus berjalan. Melewati sungai. Bangkai rumah yang tanpa ampun dilalap si jago merah. Mesjid-mesjid yang kosong. Tanah sawah yang membawa bau manyat yang menyengat. Kebun kopi yang sepi. Ladang yang tak lagi ditanami. Semuanya hampa. Dengan ketidak berdayaannya, Bram akhirnya duduk di sebuah batu.

“Bram!” sebuah suara melayang dibawa angin. Sayup-sayup ia melihat lambaian tangan orang itu bagaikan orang putus asa. Lalu Bram mendapati sebuah wajah yang pernah menolaknya saat ia meminta ikut berperang dalam sebuah kubu.

“Kau? Masih hidup?” katanya terbata. Lelaki itu terlihat seperti keran yang telah lama ditinggalkan air. Seperti sungai yang telah mengering. Seperti mendung yang tak lagi mau melahirkan hujan. Dan lelaki itu pun tidak percaya dengan yang baru saja dilihatnya!

“Iya, masih. Kemana orang kampung lain?”  itulah hal pertama yang ia tanyakan pada Amir. Dari raut wajahnya, Bram bisa membaca, ada kekalahan yang begitu besar di kampungnya.

“Kampung telah dibumihanguskan,”

“Penjajah-penjajah itu datang dengan meriam-meriam.”

“Dengan banyak mesiu-mesiu.”

“Dan kita bisa, apa?” Jawab Amir gelisah!

Hari-hari berikutnya, Bram mulai bergerilya dengan Amir. Beberapa pejuang yang tersisa ia turunkan ilmu yang ada dalam dirinya, diturunkan juga pada Amir. Sedikit demi sedikit. Segala yang sombong dalam diri Amir, pelan-pelan memudar dan hilang. Pejuang yang masih ada tak lagi gentar seperti saat-saat sebelum Bram datang.

Mereka terus bergerilya dari kampung ke kampung. Menyusup ke tempat-tempat paling banyak diduduki penjajah. Meneror, melempar bom, mencuri senjata, menggunduli pejabat-pejabat negara yang pro terhadap penjajah.

Pengikut Bram semakin banyak. Datang dari berbagai pelosok. Ingin bergabung dengan perjuangannya. Namanya tak lagi dikenal sebagai Bram. Melainkan Sjah Bandar. Orang-orang banyak mengelukan dirinya.

***

Beberapa bulan setelah itu, tersiar kabar yang menakutkan bagi para penjajah-penjajah. Nama Sjah Bandar, pemimpin dari kampung selatan, telah membuat mereka harus waspada siang malam. Bahkan, di siang bolong saja mereka harus berhati-hati. Karena, para pejuang kemerdekaan tidak akan kompromi. Mereka akan menebas dan menembak di mana saja asal mereka lihat dan temukan penjajah-penjajah itu.

“Orang itu, yang bernama Sjah Bandar, bagaimana pun caranya harus dilumpuhkan.” Kata seorang pimpinan perang pada sebuah forum rapat terbatas yang membahas tentang kekacauan yang dibuat Bram.

“Tak mudah, Tuan. Dia, lelaki itu, penuh kharisma. Beberapa pejuang kita di utara telah dibuat kucar-kacir. Markasnya telah ditelanjangi. Bahkan, serdadu-serdadu kita yang ada di kampung asalnya telah dibumihanguskan!” beberapa petinggi lain yang ikut dalam rapat saling pandang.

Suasana dalam gedung itu mendadak ketakutan. Apalagi saat mendengar bahwa, jangankan penjajah, orang pribumi yang bekerjasama dengan penjajah saja akan mereka minta pertanggungjawabannya.

Suatu kali, Amir menanyakan dari mana Bram mendapatkan ilmu-ilmu itu. Ia hanya tersenyum. Lalu mengenang dua nama yang merdu dipikirannya. Tuhan dan Guru.

“Kau akan sampai di sana jika kau berangkat sebelum subuh dari tempatmu lahir, dua hari perjalanan, di sana kau akan banyak mendengar suara alam. Dan ketika itu matahari telah tergelincir menuju timur. Safak merah membelah langit. Awan berubah hitam. Asap berterbangan memenuhi hidungmu. Kau akan merasakan kehadiran guruku.” Ia mengulangi pesan Kencana sepuluh tahun yang lalu pada Amir.

Benar kata gurunya itu. Bahwa memang dirinya yang akan membuat sebuah perubahan dan kemenangan. Semua terjadi begitu cepat. Penjajah-penjajah itu angkat kaki dari negeri mereka. Mereka takluk oleh ribuan pemuda-pemuda yang ingin negerinya merdeka*



Terbit di Harian Waspada Medan, 24 November 2013